Rumah Bintang Laut ku











Dari tahun ke tahun, Indonesia yang katanya kaya akan hasil bumi termasuk tambang dan minyak ternyata semakin mengalami krisis energi. Ini dibuktikan dengan makin tingginya harga BBM dan Gas di Indonesia tercinta ini. Berbagai alasan diungkapkan oleh Pemerintah kenapa harga BBM mesti dinaikkan. Mulai dari harga minyak mentah dunia naik, untuk bayar hutang negara, untuk subsidi silang anggaran pos lainnya seperti pendidikan dan kesehatan, dll.

Tapi Pemerintah sepertinya lupa bahwa dengan naiknya harga minyak mentah dunia, berarti Indonesia sebagai penghasil minyak juga mendapat keuntungan langsung. Justru secara logis harga BBM di Indonesia seharusnya menjadi lebih murah karena keuntungan yang didapat Pemerintah dari ekspor minyak ke negara lain.

Membicarakan krisis energi di Indonesia seperti melihat panggung lenong di TV. Karena apa yang dijadikan dasar membuat atau mengeluarkan kebijakan ternyata tidak sesuai dengan kondisi fakta di lapangan. Melihat realita di lapangan menjadikan diri ini mengalami kegundahan yang menyesak dan butuh saluran.

Kegundahanku itu antara lain terkait dengan mulai banyaknya SPBU non Pertamina yang bermunculan bahkan dalam jarak yang dekat sekali. Kalau kita perhatikan, dalam satu jalan besar ada sekitar dua atau tiga SPBU besar baik itu milik Pertamina atau non Pertamina. Padahal kalo melihat kondisinya katanya Indonesia sedang krisis BBM, tapi kok anehnya malah banyak SPBU baru yang bermunculan. Bahkan SPBU besar dalam artian mempunyai lebih dari 3 stasiun pengisian dengan berbagai jenis BBM. Belum lagi kalau kita melihat plang yang sering terpasang di beberapa SPBU kecil atau besar seperti “SPBU tutup sementara”, “Stok solar habis”, “Stok Premium habis”, dan sejenisnya. Semakin menambah tanda tanya besar di kepala ini.

Kondisi di atas seringkali menimbulkan pertanyaan-pertanyaan nakal di diri ini. Salah satunya, “jangan-jangan BBM nya Pertamina dijual ke SPBU non Pertamina itu, sehingga SPBU tersebut tidak pernah kehabisan stock”, atau “Jangan-jangan Pertamina menjual BBMnya ke SPBU non Pertamina agar dapat keuntungan langsung”, atau “mungkin Pertamina membatasi stock BBM bersubsidi yang dijual di SPBU Pertamina agar subsidinya kecil dan keuntungan dari penjualan BBM ke SPBU non Pertamina menjadi pemasukan disamping subsidi tersebut”. ;)

Jika benar pemikiran atau pertanyaan nakal itu, wah-wah bisa menimbulkan kekacauan dan ketidakpercayaan pada Pertamina dan Pemerintah dong ya.

Ditambah lagi sekarang ada berita di media tentang kenaikan Gas Elpiji. Waduh…semakin getir saja hati ini. Padahal belum lama ini Pemerintah sedang gencar melakukan program conversi minyak tanah ke gas untuk keluarga tidak mampu. Dengan alasan untuk mengurangi subsidi BBM dan harga Gas lebih murah. Weleh-weleh….masyarakat kembali dijerumuskan ke dalam kemiskinan dan kesulitan hidup oleh Pemerintahnya sendiri. Kalau sudah begini, kepada siapa mesti mengadukan ketidakadilan ini? Belum lama diumumkan harga Gas Elpiji naik, kembali lagi masyarakat harus dihadapkan pada keterbatasan persediaan Gas Elpiji di lapangan. Belum lagi kalo rencana Pemerintah untuk melepaskan distribusi gas ini kepada swasta, seperti yang terjadi pada BBM dan air. Waduh akan semakin terasinglah masyarakat Indonesia pada energy yang merupakan hasil bumi Indonesia sendiri.

Pertamina akan menutup dan melepas semua SPBU dan Gas nya dengan tujuan agar mereka tidak dibebabi dengan subsidi, dan menyerahkan sepenuhnya penjualan dan persediaan energi BBM dan Gas kepada swasta. Dan Pertamina akan mendapatkan keuntungan dari penjualan langsung ke SPBU dan Gas milik swasta, karena Pertamina tidak perlu mengeluarkan biaya operasional yang besar termasuk untuk mengekspor. Karena bagi SPBU dan Gas swasta juga akan menguntungkan jika mereka bisa membeli langsung dari Pertamina, toh mereka tidak mungkin membawa sendiri BBM dan Gas dari luar Indonesia. Ini dilakukan karena untuk menekan biaya produksi dan operasional sehingga BBM dan Gas yang mereka jual bisa lebih murah atau paling tidak sama dengan yang dijual di SPBU dan Gas Pertamina, sehingga harga bisa dikatakan bersaing lah. Selain itu, mereka tidak akan dibebani pajak bea dan cukai serta bea impor. Disinilah yang kemudian bisa disebut dengan pasar bebas dan globalisasi ekonomi sudah masuk ke ekonomi Indonesia, bahkan sudah mempengaruhi kebijakan ekonomi Indonesia.

Yang kemudian menjadi pertanyaan lebih jauh jika kondisi ini semakin nyata dilakukan adalah akan dikemanakan hasil keuntungan Pertamina itu? Apakah subsidi ini akan dilanjutkan kembali? Apakah Pemerintah akan menurunkan harga minyak? Apakah jika terjadi krisis energy lagi Pemerintah akan bertanggungjawab? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan nakal itu berpusing di kepala.

BBM?????????GAS???????????KRISIS ENERGI????????????????SOLUSI?????????????????SUBSIDI HILANG????????????????HARGA BBM TURUN??????????????????????KEMISKINAN????????????????????????ANTRI BBM?????????????????????

 

Akhir Agustus 2008 

Merenungi Kemerdekaan dengan segudang tanda tanya pada negeri ini, akan kemanakah bangsa ini nantinya????

 

 



{Mei 26, 2008}   Keliaran Sebuah Pikiran

Semburat orange itu mulai muncul di ujung langit sore. Alunan lirih musik jazzy klasik dan pop Indonesia berpadu dalam ruangan 4×4 m ini. Dua kepala dengan pikiran masing-masing asyik memelototi layar laptop Acer dan Toshiba. Jika ada yang dapat menangkap serat-serta pikiran manusia, mungkin kalian akan melihat serat-serat tersebut berterbangan di langit kamar ini. Berterbangan di udara, di atas kepala kami masing-masing untuk kemudian mendarat menjadi rangkaian kata dan kalimat penuh makna berdasar pengalaman hidup anak manusia ini.

Keseriusan berpikir melingkupi kamar ini, meskipun lontaran-lontaran pertanyaan, canda bahkan cumbuan menjadi selingan kami. Yach…jika diperhatikan lagi, serat-serat pikiran itu bukan berwarna kelabu seperti yang Dumbledore pernah lakukan terhadap serat pikiran Harry Potter. Namun, serat-serat pikiran kami tersaput warna orange yang menjadi sentuhan tersendiri bagi pikiran kami. Ya…semburat orange yang merupakan suatu energi positif yang membawa cinta dan kasih dalam pikiran-pikiran yang kami rangkai menjadi kata dan kalimat. Seperti quote kasihku ”work with love, live with love, and world will be wonderful”. Hmmm, berharap bahwa energi cinta dan kasih kami juga dirasakan semua orang di bumi ini, dimana makin gersang dan kering saja tanah serta air mata sang ibu, karena tergerus keserakahan dan keegoisan system yang bernama patriarch yang semakin meminggirkan dan melupakan sang ibu.

Tiba-tiba, ada loncatan sebuah serat pikiran yang entah milik siapa, aku atau kasihku, melenggang sendiri lepas dari dua gumpalan serat-serat pikiran kami. Serat pikiran yang liar berlari dan membawa rangkaian kata serta banyak menyemburatkan orange. Membuat ia berbeda dari yang lainnya. Energi yang ditimbulkannya pun sangat besar, kami berdua tidak bisa menghindarinya, sehingga kami pun silau dengan warna orange nya. Dan akhirnya, semua aktivitas dan keseriusan dua anak manusia ini terhenti sejenak karena loncatan serat pikiran orange liar tadi. Seperti ada daya tarik yang menyebabkan kami berdua makin dekat. Tahu apa yang terjadi?

Rangkaian kata tidak lagi menjadi hiasan di layar laptop, namun sudah jauh melampaui itu. Kata-kata itu berterbangan dan merangkai kalimat indah sendiri di langit-langit kamar, memenuhi udara ini dengan nafas cinta dan warna orange. Menyesak dan menyeruak dari ruangan ini, dan membuat semburat orange sendiri di keluar kamar, mencoba mengalahkan semburat orange yang juga seharusnya sudah banyak muncul di ujung sore ini. Memang tiada seorang pun berpikir sekuat apa energi cinta dan kehidupan yang dipenuhi cinta. Saat ini, kami hanya bisa menikmati rangkaian kata dan kalimat yang tidak terucap di bibir kami, tapi berterbangan merangkai sendiri sesuka hati, di udara, di kepala kami dan kami hanya bisa menari mengikuti liuk semburat orange itu berloncatan, ditingkapi gelegar tetabuhan dari saling bertabraknya loncatan-loncatan pikiran dan semburat orange itu.

Ya…pelangi itu ada di hati dan mata kami, begitu pun matahari menghangatkan tubuh kami dan bintang pun membuat hati kami bercentil ria dengan kerlipnya…

Love can make us different, live with love, work with love, so, the world would be wonderful, dear. Thanks to your great love to me…

Dan rangkaian kata indah kembali mengular berterbangan di ruangan ini…

Penuhkanlah bejana hati ini dengan cinta mu

Biarkanlah penuh dan penuh, agar orang lain juga merasa keindahan cinta kita, kasihku

Aku tidak ingin egois dengan cinta kita ini kasihku

Karena cinta kita bukan cinta terlarang

Cinta kita adalah cinta yang tulus

Cinta kita adalah cinta yang apa adanya

Yang mencoba jujur pada semua orang

Yang mencoba menjadi cinta sendiri tanpa rekayasa

Yach…cinta kita ini adalah cinta dua manusia kasihku

Yang Tuhan pun tidak akan marah karena cinta ini bagian dari kreasinya

Bersyukurlah aku karena merasakan cinta yang sebenarnya ini.

Gedong, 21 Mei 2008 15:00



{Mei 14, 2008}   Semburat Orange

Dingin…

karna semburat orange itu tidak muncul

karna kehangatanmu juga hanya di hati

Ya…

Kelabu telah memenjarakan mentari, tapi tidak hatiku…

Masih ada orange di sini sayang…

dan masih akan tetap ada di sini.

Ps. Rebo, 10 Mei 2008, 07:04



{Mei 13, 2008}  


Pedih kembali mendera

Asa diujung penghabisan

Ketika sadari

Bukan kamu pemberhentian terakhirku, kasihku

Ketika sadari

Aku harus kembali mencari

Dimana pemberhentianku berikutnya

Pulau Ayir, 31 Juli 2005



{Maret 17, 2008}   Aku dan Suatu Pagi

Pagi itu, Jumat 14 Maret 2008, seperti biasa, ku terbangun dari tidur karena cahaya remang yang menelusup ke kamar diantara sela kertas penutup jendela kamarku. Tak ada firasat apapun aku akan mengalami kecelakaan kecil menuju kantor.

Dengan semangat pagi ditingkahi kicau Sriti yang semakin banyak saja berterbangan di depan rumah, ku menghentikan Carry merah bertuliskan angka T06 di kaca depannya. Yach, dengan kendaraan umum inilah aku terbiasa berangkat menuju tempat kerja. Tak lama memang, hanya 10-15 menit saja. Bahkan aku tak menemui macetnya jalanan Jakarta seperti yang kawan-kawan temui tiap hari di jalan-jalan utama Jakarta. Paling mungkin hanya menemui ramainya mobil berlalu lalang mencari jalan alternatif menghindari kemacetan yang semakin parah.

Pagi itu, Jakarta tak terlalu macet, namun mendung masih menggelayutseperti pagi-pagi kemarin. Perjalanan yang singkat ini aku nikmati dengan memperhatikan rumah-rumah sepanjang jalan Tengah yang ternyata semakin padat dan mengalami perubahan yang drastis. Rumah yang dahulu mempunyai beranda sekarang berubah menjadi rumah toko yang berjejer semakin rapat.Tanah kosong yang dulu menjadi tempat kambing merumput, sekarang menjadi komplek rukan atau ruko. Sepertinya mereka merasa rugi jika tidak memanfaatkan sejengkal tanah yang mereka punyai. Hmmm…, pesat sekali perkembangan jalan Tengah ini. Menurut cerita ibu pedagang pasar Induk Kramatjati yang selalu berbarengan naik T06 , jalan Tengah tahun 1995an dulu masih jalan kampung, belum dipoles aspal yang mengkilap, masih banyak kebun di kanan-kirinya, bahkan ada beberapa ruas jalan yang masih gelap gulita. Tetapi, dalam waktu lebih dari 10 tahun ternyata sudah sangat berubah. Bahkan, setiap sore sekarang ramai berjejer pedagang gerobak maupun tenda yang menjajakan aneka makanan.

Kadang terpikir, ini jualan rapet banget…apa ada celah untuk rejeki menyelip diantara gerobak itu? Tapi ternyata tetap saja Tuhan Maha Pemurah…masing-masing gerobak mempunyai rejeki yang mampir dan terselip di jari-jari rodanya. Sungguh lebat pohon rejeki itu, sehingga tiap orang dapat merasakan nikmat buahnya.

Kondisi seperti di atas tentu saja membawa dampak bagi orang-orang sekitar jalan Tengah ini, termasuk aku dan kawan-kawan di tempat kerja. Misalnya, dulu setiap kali mau makan siang hanya ada pilihan warung makan di jalan Baing atau warteg depan gang Nasih. Sekarang jangan tanya lagi…, mau pecel ayam, pecel lele, soto, gado-gado, bubur ayam, tongseng, sampai gorengan dijamin ada deh.

Jumat 14 Maret 2008, karena keasyikan merenung, tempat kerja dah di depan mata. “Bang, pinggir ya…”, ucapku tak begitu keras, karena penumpang cuma tiga orang. Aku pun turun dengan hati-hati, tapi ternyata tak menjamin aku selamat kawan. Begitu kaki menyentuh tanah yang sekarang sudah tertutup gundukan semen yang aku tidak tahu kapan adanya, tiba-tiba kaki ku pun keseleo.

Duh…badan berasa lemah tak bertenaga…semua tenaga seperti hilang diserap gundukan semen itu. Masih berdenyut kaki ini aku paksa berdiri untuk membayar tarif angkot ke abang supir. Aku pun istirahat sebentar dengan bersandar pada batang pohon yang masih berdiri disamping tiang penerang jalan. Ternyata, keasyikanku menikmati perjalanan membuat aku lupa akan kewaspadaan diri.

Keteledoranku itu membuat aku mendapatkan bengkak di kaki kananku. Yang hingga saat ini masih saja membuat aku tertatih melangkahkan kaki. Semoga ga berlangsung lama karena dokter menyarankan operasi guna merekatkan cukilan kecil dari tulang engselku.

Hmmm…kisahku di suatu pagi.

17 Maret 2008, senja menjelang



{Februari 21, 2008}   Bermesraan di Parangtritis

Kala itu kita masih

Samasama baru kenal

Berapa bulan kekasih….?

Tapi kita tak peduli itu

Cinta kita murni

Meski nafsu tak lepas

Disemilirnya angin laut,

Dengan deburan ombak

Begitulah cinta kita saat itu

Dan pualampun jadi punya mata telinga

Saksikan cinta kita

Akupun kau peluk

Kau cium bergetar bibir ini

Bergejolak bagaikan hempasan ompak pada pualam itu

Kau tak hentinya peluk aku

Akankah terus begini kekasihku…?

Cinta kita bagai air laut itu

Asin!

Entahlah…

Medio juni 1997



tiba saatnya kita saling bicara

tentang perasaan yang kian menyiksa

tentang rindu yang menggebu

tentang cinta yang tak terungkap

sudah terlalu lama kita berdiam

tenggelam dalam gelisah yang tak teredam

memenuhi mimpi-mimpimu malam kita

reff:

duhai cintaku, sayangku, lepaskanlah

perasaanmu, rindumu, seluruh cintamu

dan kini hanya ada aku dan dirimu sesaat di keabadian

jika saja sang waktu kita hentikan

dan segala mimpi-mimpi jadi kenyataan

meleburkan semua batas antara kau dan aku, kita

repeat reff



Innalillaahi Wa Inna Ilaihi Rojiun ….
Telah berpulang dengan damai kepangkuan Tuhan YME Ibu Mardiyem Survivor ex Jugun Ianfu dari Yogyakarta, Hari Kamis, 20 Desember 2007, Pk. 22.30 Wib
Semoga api perjuangan Ibu Mardiyem terus menyala dan diteruskan generasi muda …

Itulah sebaris kalimat yang terpampang di layar monitor komputer dan HP ku. Terpana sejenak dan kehilangan kata ketika aku membacanya. Semua kisah yang aku baca, aku lihat ataupun aku dengar langsung terngiang dan melintas silih berganti dalam kepalaku.

Hening…

Tanggal 20 Desember 2007 bertepatan dengan hari raya Idul Adha dan 2 hari menjelang hari Ibu yang merupakan hari paling penting bagi perjuangan nasib perempuan di Indonesia.

Yach…Guru Senjaku sepertinya sudah meminta ijin Tuhan untuk dipanggil ke kasih sejati Nya di hari itu. Hari yang jika kita tengok lebih jauh menjadi hari pengingat bagi umat manusia.

Berbahagialah Guru Senjaku

Ibu Mardiyem adalah salah seorang survivor ex Jugun Ianfu –korban perbudakan seksual semasa pendudukan tentara dan sipil militer Jepang di Indonesia tahun 1942–.

Sudah hampir 10 tahun dia berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah Indonesia, Jepang dan dunia bahwa memang sudah terjadi perbudakan seksual terhadap perempuan-perempuan muda di beberapa negara. Bahwa itu bukanlah pekerjaan seksual yang dengan sukarela dilakukan. Tapi ada praktek-praktek penipuan dan kekerasan serta eksploitasi seksual di dalamnya yang dilakukan oleh pemerintah Militer Jepang.

Pun beliau juga berjuang untuk mendapatkan permintaan maaf dari Pemerintah Jepang sebagai yang bertanggung jawab atas perbudakan seksual yang telah menghancurkan masa depan dan hidup perempuan-perempuan muda yang cerdas dan menghempaskan mereka pada jurang kenistaan sebagai seorang perempuan, sebagai budak seks yang jauh dari perikemanusiaan.

Diantara gurat ketuaan dan lembar-lembar ingatan yang seringkali terselip dalam memori hidup 80-an tahun lebih…dia masih bersuara lantang dan menantang manusia-manusia muda untuk tidak begitu saja melupakan sejarah bangsanya yang tidak lepas dari pengorbanan dan perjuangan perempuan-perempuan.

Jangan melupakan kami yang sudah mengorbankan jiwa, raga dan martabat kami sebagai manusia dan sebagai seorang perempuan untuk negeri ini. Yang semuanya dirampas dari kami disaat kami bahkan berusia lebih muda dari kalian.

Mungkin itulah yang ingin disampaikan beliau selama ini. Tapi ternyata semangat dan keberanian dia menguak jati diri dan pengalaman pahit hidupnya sehingga pandangan negatif dan perlakuan yang tidak manusiawi yang dipanennya tidak begitu saja menggugah jiwa-jiwa pemimpin dan masyarakat bangsa ini.

Kepergian yang Membahagiakan?

Kepergiannya seperti pukulan yang memalukan bagi kami yang muda ini. Kami masih mempunyai hutang pada para survivor tersebut. Apa yang diperjuangkan belum selesai, bahkan kami merasa belum membuat dan menghasilkan apa-apa bagi perjuangan mereka.

Advokasi yang pasang surut dan tidak adanya advokasi secara serempak dan berkelanjutan menjadikan advokasi jugun ianfu di Indonesia seperti berjalan di tempat. Dibandingkan dengan advokasi di Belanda, Korea, Taiwan, Phillipine, Singapore, Timor Leste dan lainnya kita kalah jauh. Mereka bahkan sudah go internasional dan bahkan sikap pemerintahnya sudah sangat mendukung upaya dilakukan permintaan maaf dari Jepang kepada survivor dan desakan pelaksanaan pengadilan internasional tentang jugun ianfu.

Berharap pengorbanan yang dilakukan survivor dan kepergian Ibu Mardiyem di hari raya Idul Adha yang identik dengan sikap pengorbanan dan juga hari Ibu yang identik dengan kebangkitan merebut dan memperjuangkan hak-hak perempuan menjadi tonggak sejarah kebangkitan advokasi jugun ianfu di Indonesia. Semangat inilah yang mesti kita pegang terus sebagai komitmen bersama dan menjadi resolusi di tahun depan.

Semoga kepergian Ibu Mardiyem menjadi kepergian yang membahagiakan karena akan mendapatkan kasih yang sejati dari Yang Maha Memiliki Hidup dan Yang Maha Pengasih. Dan kepergian yang menjadi pengingat kami generasi muda agar terus melanjutkan apa yang sudah dirintisnya dan melaksanakan pesan beliau agar kita generasi muda terus berjuang untuk kehidupan yang lebih baik.

Guru Senjaku,

Semoga kau bahagia dan tersenyum bangga di atas sana ketika melihat anak cucumu mengikuti perjuanganmu dan memegang erat pesanmu.

Do’a kami untuk Guru-Guru Senja yang sudah mendahului karena usia dan derita yang ditanggung seumur hidupnya.

Kami malu karena belum berbuat apapun untuk Guru-Guru yang Senja ini.

Namun, Senja bukanlah penghabisan

Karena dia akan selalu muncul dengan warna yang berbeda.

Senja selalu indah untuk dikenang dan tidak mudah dilupakan.

Kami akan melukis senja di hati kami.

Dan menjadikannya semangat hidup untuk menapaki kehidupan esok.

Selamat jalan Guru Senjaku

Kebenaran yang hakiki akan kau dapatkan disisi Sang Maha Kasih

In memoriam Suhanah, Mardiyem dan Guru Senja lain yang tak berkabar

Honourable for their brave heart and struggle to live

 

Renungan akhir tahun, 28 Desember 2007



Perempuan di sudut ruangan itu masih nampak tegas dan tegar, meski kerutan tua banyak menghiasi wajahnya. Dia tidak memusingkan kerutan itu –seperti yang banyak dipusingkan perempuan jaman sekarang–. Dia hanya pusing dengan nasib yang harus dia terima –suka atau tidak–, selama bertahun-tahun ini. Bagaimanapun pahitnya anggur kehidupan itu, terpaksa dia harus menenggaknya, bahkan sampai mati pun akan tetap membasahi rongga mulutnya, terus turun ke rongga perut dan saluran kencingnya dan hilang di sungai kehidupan.

Kau amatilah wajahnya sekali lagi, lebih teliti. Tiadakah kau lihat, mata itu sangat dalam menyimpan rahasia kehidupan sekaligus kenestapaan dan kemarahan. Air mata sepertinya lama tidak menjamah sudut mata tajamnya. Apakah air matanya sudah habis dialirkan di masa mudanya dulu? Atau memang air mata tidak mampu lagi membasahi luka hatinya? Siapa yang tahu, jikalau kelukaan itu tertoreh dalam di hati dan jiwanya?

Terbayang dia bercerita dengan ekspresi wajah yang setiap detik akan berubah. Secepat berubahnya riak air di lautan, terkadang menyenangkan, tiba-tiba keras menggempur, lalu tenang kembali untuk kemudian bergelombang ke sana ke mari. Seperti juga kehidupan nya yang penuh perjuangan untuk tetap hidup, tuk menitipkan amanah pada yang muda. Agar apa yang dialaminya, seluruh kehidupannya, menjadi bekal dan penghayatan bagi yang muda ini. Untuk tidak memperlakukan mereka yang lemah dengan semena-mena atau berbelas kasihan. Tapi bagaimana mereka dianggap sebagai manusia, itulah yang mereka inginkan.

Separo lebih hidupnya dilewati dengan menyembunyikan dirinya yang sejati. Sambil berharap ada yang peduli dengan perjuangannya itu. Namun, setengah abad lebih tetap juga angannya itu belum terwujud. Bagi beberapa temannya, angan itu dibawa hingga mata ini menutup selamanya. Kesakitan fisik dan psikis, melingkupi dia dan teman-temannya. Satu per satu digerogoti umur dan digigiti penyakit akibat perlakuan bejat durjana Jepang.

Hanya semangat untuk mewariskan sejarah kehidupannya pada yang muda lah yang menjadi doa abadi. Menggugah semua mata dan jiwa untuk peduli pada nasibnya, paling tidak menuntut dikembalikannya martabat mereka sebagai manusia dan permintaan maaf dari Jepang.

Yach…hanya itulah yang mereka harapkan. Para Jugun Ianfu itu tidak meminta uang imbalan dari penderitaan mereka. Setelah bertahun-tahun menjadi budak seksual tentara Jepang, dengan perlakuan yang tidak manusiawi dan diputus dari kehidupan ‘normal’ nya. Para Jugun Ianfu hanya menuntut diakuinya tindakan perbudakan seksual oleh tentara Jepang sebagai bagian dari pendudukan Jepang, dan oleh pemerintahan Indonesia sebagai sejarah gelap bangsa yang harus terkuak, bukan aib bangsa. Oleh karenanya Pemerintah Jepang harus meminta maaf kepada semua para Jugun Ianfu atas kejahatannya memperlakukan mereka. Pun Pemerintah Indonesia juga harus berkewajiban membela dan memperhatikan hak-hak para Jugun Ianfu yang terabaikan selama ini. Pun masyarakat termasuk kita sebagai yang muda untuk tetap menjadi lidah penyambung tuntutan mereka.

Semoga, sang umur masih berteman dengan para Jugun Ianfu agar semangat mereka menjadi guru kehidupan bagi yang muda.***

Kp. Tengah, jelang tarawih, 260906



dan lain-lain