Rumah Bintang Laut ku











{Mei 22, 2007}   Mereka pun Ingin Maju …

Setelah berkali-kali ke komunitas, tetap saja aku terperangah dengan banyaknya kejadian-kejadian yang ada di komunitas. Mungkin jika aku seorang yang bekerja di gedongan kawasan segitiga emas Thamrin-Kuningan-Sudirman, tidak akan pernah atau sering aku menemui kejadian semacam ini.

Seperti biasa ketika aku bersama Jo pergi ke komunitas miskin kota –kali ini di sekitar Kota–, sepanjang perjalanan mendapati pemandangan yang ekstrem dari sebuah wajah kota metropolitan. Perkampungan kumuh di sudut-sudut ataupun di pinggiran kota. Meskipun sering melihat semua ini, tetap saja terpana dan tidak bosan memandangi, memperhatikan perubahan dan kekontrasan yang semakin kentara, antara gedung-gedung yang semakin menjamur dengan lapak-lapak atau rumah tripleks seadanya di sela-sela gedung atau diseberangnya. Apalagi, Jakarta
kan sekarang lagi getolnya membangun fisiknya, plasa, apartemen, gedung perkantoran di mana-mana dan semuanya berlomba dalam menggapai langit. Ckckckckckck…terkadang terpikir, apa ibu pertiwi tidak sakit ya ketika tubuhnya dicocoki paku-paku baja menembus perutnya untuk kemudian dibangun gedung pencakar langit yang angkuh dan sombong dengan sekitarnya?

Perubahan hawa mulai terasa, dari Pasar Rebo yang masih semilir ke Kota yang panas dan berdebu karena dekat pelabuhan. Bau khas daerah pinggir laut mulai menyergap indera penciuman. Mungkin tidak banyak orang suka dengan bau ini. Apalagi ditambah keruwetan lalu lintas karena bertemunya semua jenis kendaraan dari kecil sampai besar di satu jalan. Pusing kepala pun pasti akan langsung dialami bukan? Yach…seperti itulah keadaan Kota dan sekitarnya. Tapi, selalu saja aku tidak bisa menghindar dari keinginan untuk kembali lagi ke sini. Entah hanya untuk refreshing, hunting photo, ke rumah temen dan saudara, atau ya itu tadi ke komunitas. Selalu saja perjumpaan ini membawa satu hal yang berbeda.

Memasuki wilayah Pasar Ikan, melalui gang kecil di antara pabrik-pabrik dan gudang peti kemas, sungguh sesuatu yang mengasyikkan sekaligus mendebarkan. Karena aku selalu suka memasuki kampung-kampung di Jakarta Utara ini, mengenali jalan-jalan kecilnya, memperhatikan kehidupan mereka, sekaligus menangkap irama hidup yang tanpa disadari telah mereka mainkan selama bertahun-tahun di tempat ini, dan meramaikan Jakarta yang katanya kota metropolitan.

Sampai di satu rumah, tidak begitu kecil, namun bisa menampung 15an orang, meski berdesak-desakkan, seperti biasa, obrolan langsung meluncur begitu kami sampai di sana hanya untuk saling berbagi cerita dan informasi terbaru. Dari mulai kejadian criminal yang terjadi di dekat tempat tinggal mereka, kegiatan mereka sehari-hari, perkembangan rumah belajar, dan akhirnya keberadaan posko pengaduan kekerasan terhadap perempuan yang mereka dirikan sebagai seorang paralegal.

Meskipun mereka tergolong masyarakat miskin, namun, semangat belajar dan keinginantahuan yang besar menjadi salah satu kekayaan mereka. Keinginan untuk maju dan menciptakan lingkungan masyarakat yang nyaman dan saling berbagi menjadi tujuan mereka. Sehingga, mereka mendirikan rumah belajar bagi anak-anak mereka sendiri agar bisa membaca dan menulis, maupun bermain. Untuk remaja perempuan dan ibu-ibunya, ada juga rumah belajar yang menjadi satu kegiatan dari Posko Pengaduan Kekerasan Terhadap Perempuan. Mereka belajar mengenai hak-hak mereka sebagai manusia, sebagai perempuan maupun sebagai istri dan ibu. Pun, mereka belajar tentang hukum dan aturan –yang mana hal ini sering mereka hadapi ketika peraturan menjadi tameng bagi pemerintah untuk menyingkirkan mereka.

Jadi, jangan heran ketika ternyata, mereka bisa menciptakan peraturan sendiri di komunitasnya, yang ternyata sangat efektif mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak, contohnya kekerasan dalam rumah tangga.

Sebagai ilustrasi, ketika seorang istri seringkali menerima kekerasan dari suaminya berupa pukulan dan cacian, seorang paralegal, sebut saja Ibu Wati, berinisiatif mengambil tindakan, karena sudah sering mendapatkan keluhan si istri tersebut yang hanya menginginkan suaminya merubah kelakuannya. Akhirnya, Ibu Wati pun mendatangi suami tersebut dan berbicara baik-baik, menyampaikan keluhan dan keinginan dari sang istri. Tidak lupa, Ibu Wati pun mengikutsertakan tetua kampong itu (tindakan ini diambil karena di kampong tersebut belum ada RT/RWnya). Akhirnya,  disepakati bersama dengan disaksikan tetua kampong, jika suami melakukan pemukulan ataupun kekerasan lainnya kepada istri, maka dia akan dilaporkan ke Polisi. Jadi, di kala kepercayaan masyarakat semakin berkurang terhadap aparat penegak hukum dan peraturan-peraturan yang ada, aturan di tingkat komunitas menjadi salah satu solusi alternative bagi penghentian kekerasan di masyarakat, khususnya terhadap perempuan dan anak. Namun, hal ini bukan berarti masyarakat berhak main hakim sendiri. Tidak! Mereka hanya membuat aturan yang mungkin selama ini tidak terjamah oleh hukum dan peraturan yang ada. Kita pun mesti melihat dengan arif, kebijakan local yang ada di masyarakat kita.

Ilustrasi lain adalah ketika dalam suatu keluarga terjadi suatu tindak kekerasan seksual terhadap anak tiri oleh bapak tirinya.

Ketika mendengar cerita ini, aku dan Jo pertamanya terperangah dan tidak habis mengerti, kenapa hal ini masih terjadi dengan sebegitu parahnya. Bahkan, bapak tirinya tersebut melakukannya secara terbuka/terang-terangan di depan istri dan masyarakat sekitar rumahnya. Tindakan bejat sang bapak ini dilakukan terus menerus, dari si anak usia belasan tahun sampai sekarang sudah menghasilkan 6 anak yang masih kecil-kecil. Yang tentu saja menambah beban dari keluarga itu. Anak-anak tersebut bahkan tidak sekolah, hanya di rumah saja membantu orang tua mereka.

Yang lebih tragisnya, ketika hubungan seksual itu dilakukan, si bapak tidak memandang tempat untuk melakukan hajatnya itu. Para tetangga bahkan sudah mengetahui dan muak dengan tindakan keluarga itu, utamanya kelakuan bejat di bapak. Karena, jika sedang terasuki setan nafsu birahi, kandang ayam pun menjadi tempat pelepasan yang nyaman.

Aku sendiri tak habis pikir, kenapa si istri dan anaknya tersebut, bertahan dengan kondisi seperti itu? Adakah factor penyebab mereka menjadi imun dengan kekerasan seperti ini? Terkadang sulit memahami kondisi mereka tersebut. Apakah karena si istri mempunyai ketergantungan secara emosi (psikis) pada si suami? Karena kalau dari segi ekonomi, justru si istri ini yang menghidupi keluarganya selama ini dengan penghasilan dari menyewakan beberapa ‘pintu’ rumahnya.  Pun anaknya, apakah karena dia berada dalam posisi rentan sebagai anak dari si istri dan anak tiri dari si bapak, sehingga takut dengan si bapak? Ataukah si anak mendapatkan ancaman dari si bapak? Semua prasangka tersebut bisa saja menjadi factor penyebab berlangsungnya kekerasan seksual dan psikis di keluarga tersebut sampai sebegitu lamanya.

Diskusi tentang apa yang terjadi di keluarga itu berlangsung sampai hampir tengah malam. Pendekatan personal pada si istri maupun si anak menjadi pilihan kami untuk mencoba menghentikan kekerasan tersebut. Karena secara otomatis keluarga mereka menjadi tidak aktif (ter-alienasi) dari lingkungan komunitas mereka. Yang jelas, mereka perlu teman yang mau memberikan pemahaman untuk mereka dapat menyadari kondisi riil mereka.

Kembali perjalanan jauh mesti ditempuh. Untuk keluarga itu, untuk Ibu Wati, untuk komunitas lainnya dalam menggapai keadilan. Juga untuk aku dan Jo, yang harus kembali menyusuri jalanan Jakarta di malam hari. Meninggalkan bau khas kampong pinggir laut Jakarta. Kesibukan khas pasar Ikan. Dan hiruk pikuknya jalanan di seputar Kota. Untuk memikirkan kembali bagaimana mambantu dan membangun kepedulian terhadap masyarakat miskin yang termiskinkan itu. Yang terkadang membuat kita semua harus berani bersikap seperti mereka berani memilih untuk hidup terbatas di kota Jakarta ini. Jika memang masih ingin hidup, meski mereka tidak ingin yang berlebih. (28092006 by erf)



dan lain-lain