Jarum pendek jam dinding di ruangan kerjaku telah berpindah ke angka 5, yang berarti, jam kerjaku sudah habis. Sebentar lagi pasti riuh ruangan ditingkahi orang-orang beberes siap pulang atau pergi ke acara lain untuk sekedar refreshing. Aku masih termenung memandangi jarum pendek tadi yang sepertinya tidak rela bila harus selalu didahului satu putaran jarum panjang. Hal ini membuatku berpikir, sebenarnya, lebih dahulu yang mana yang diciptakan? Jarum panjang atau jarum pendek? Seperti juga aku selalu berpikir mengenai penciptaan laki-laki dan perempuan, yang sampai saat ini banyak mitos melingkupinya. Apakah benar Adam diciptakan lebih dulu dari Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam untuk menemaninya? Ataukah Hawa dan Adam sama diciptakan sebagai manusia dari segumpal tanah? Ataukah Adam dan Hawa merupakan satu hasil evolusi sempurna dari makhluk-makhluk primata?
Semakin aku memperhatikan jarum itu berputar, semakin banyak pula pikiran-pikiran ngelantur melingkupi kepala. Karena semakin pusing dengan pikiran ala filsuf itu, dengan berat hati aku memutuskan rajutan benang lamunanku. Akhirnya aku pun merapikan meja dan bersiap pulang.
***
Menyusuri jalan kecil ini sehabis hujan deras selalu saja mengingatkanku akan suasana di kampung. Sebuah desa miskin dan gersang di wilayah yang merupakan lumbung padi. Terkadang aku berpikir, apakah ini suatu hukuman terhadap desaku yang menurut tuturan nenek, dulunya dikenal sebagai tempat persembunyian para gali. Sejak kecil, aku selalu keras menolak hal ini dan menyalahkan penguasa yang pilih kasih melakukan pembangunan desa. Orang desaku baik-baik dan pekerja keras, anak-anaknya lucu-lucu. Bukan suatu penggambaran dari turunan begundal. Kalaupun iya, tidak semua keturunan begundal ikut menjadi begundal. Tapi, kenapa kami-kami harus menerima hukuman dengan kemiskinan desa kami ini? Ini adalah pemikiranku, karena ibuku selalu mengajarkan bahwa manusia dan makhluk ciptaan Tuhan mempunyai dua sisi kehidupan, baik dan buruk. Terserah makhluk itu sendiri akan menjadi buruk atau baik. Meski tidak dipungkiri lagi faktor eksternal kehidupannya ikut menyumbang pembentukan pribadinya. Desa Tritis, itulah nama desaku. Berasal dari kata Tritisan yang dalam bahasa Jawa artinya beranda, emperan atau pinggiran. Seperti namanya, desaku hampir selalu terpinggirkan dalam segala hal, termasuk pembangunan. Jadi sudah menjadi kebiasaan masyarakatnya untuk selalu berusaha sendiri dalam mencukupi dan memakmurkan desanya. Termasuk juga anak-anaknya. Sehabis hujan deras seperti saat ini, kami akan segera saja keluar rumah untuk mencari liang gonteng1) , yang berarti disitu nanti akan banyak laron keluar. Berarti juga, akan makan enak karena ada lauk makan teman nasi jagung2) atau nasi tiwul3). Setelah terkumpul banyak, laron-laron tersebut dihilangkan sayapnya untuk kemudian dibikin rempeyek atau digoreng ‘klathakan’4) dan dijadikan lauk sarapan. Hmm, rasanya renyah, gurih, dan berprotein tinggi. Namun, tidak setiap orang suka dan cocok dengan laron ini. Karena jika tidak cocok dapat menderita alergi, gatal-gatal ataupun bengkak dan bintil-bintil di kulit tubuhnya.
Tak terasa, aku sudah mendekati halte tempat biasa aku menunggu bis pulang. Sambil menunggu bis, aku membaca buku kesukaanku, Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan yang tinggal sedikit halaman lagi selesai. Buku ini bagiku bagus dan patut dibaca semua orang, karena merupakan salah satu karya sastra terbaik menurut aku. Dengan cantiknya Eka Kurniawan menuliskan kisah seorang perempuan pelacur di masa Belanda yang mempunyai beberapa anak, dan kemudian anak-anaknya tersebut mempunyai kisah cinta dengan pemaknaan masing-masing. Dan bagaimana kisah anak perempuan terakhirnya yang berwajah jelek, berkulit hitam dan misterius ternyata mempunyai cinta impian terhadap kakaknya. Kekompleksan cerita tersebut berhasil ditulis dengan alur yang tidak terduga dan mengalir, membuat pembaca menjadi penasaran dan tidak bosan untuk membacanya sampai dua kali.
Ditengah keasyikanku membaca, sekilas ekor mataku menangkap kedatangan seorang perempuan muda –sebenarnya masih anak-anak– dengan penampilan yang berani dan sedikit berlebihan menurutku. Konsentrasiku mulai terpecah dengan kedatangan teman-temannya yang kemudian berkelompok di sudut halte. Aku pun memutuskan untuk menutup dan menyimpan bacaanku ke dalam tas. Menengok ke jalan dan mendapati bis ku belum juga datang, aku pun memilih mendengarkan percakapan sekumpulan anak gadis tadi dan memperhatikan tingkah centilnya.
Melayang pikiranku ke masa ketika aku seumuran mereka. Keluguan anak gadis di masa ku, tidak aku temui di mereka. Apakah ini karena modernitas yang dengan cantiknya meluluhlantakkan kesederhanaan, kesahajaan dan kehati-hatian orang Indonesia? Gemerlap dan keriuhan kota ternyata mampu menjadi daya tarik yang kuat bagi anak-anak gadismu Ibu. Mereka pun melupakan nasihat dan kehati-hatian yang selalu Ibu coba suapkan setiap hari. Kehidupan hanya mereka pikirkan untuk saat ini, mereka melupakan apa yang seharusnya mereka lakukan untuk ke depannya. Yach, seperti laron yang tidak memikirkan apakah ketika dia keluar dari lubang sarangnya akan ditangkap atau dapat terbang bebas. Jikalau dia mencoba meninggalkan pasukan gontheng-nya, maka kesesatan akan dihadapinya. Tapi, ketika dia mengikuti gonteng maka dia akan terbang bebas.
Pluk!!! Satu laron jatuh di ujung kakiku, berusaha terbang lagi meski sayapnya sudah patah satu. Menggelepar dan terus berusaha terbang, meski akhirnya hanya bisa merayap karena semua sayapnya akhirnya lepas. Aku pun mendongak ke atas, ternyata sudah banyak laron yang mengelilingi lampu neon halte. Fyuuuh…Aku pun menghela nafas. Seperti laron yang ternyata juga tertarik dengan terang lampu. Sampai kapankah mereka bertahan dan beterbangan di sekeliling lampu itu tanpa harus terbakar kepanasan karena terangnya untuk kemudian jatuh lemas dan mati? Akankah seperti ini nasib anak-anak gadismu Ibu Pertiwi? Terlalu silap dengan gemerlapnya ibu kota dan melupakan kehati-hatiannya karena itu hanya tipuan untuk menarik pesona mereka, untuk kemudian mereka berjatuhan karena penyakit menular dan kematian? Ataukah kita harus menangkapi mereka satu-satu dan menampung mereka meski kemudian harus menanggung ketidakberdayaan atau kematian mereka karena akses yang terbatasi. Ataukah kita harus mencopot lampu agar mereka tidak lagi tertarik dengan terang dan gemerlapnya itu dan membiarkan mereka terbang di kegelapan malam kampong halaman? Mana yang terbaik masih harus terus dipikirkan, agar anak-anak gadismu Ibu, tidak terjebak dalam kehidupan semu itu.
Sebuah mobil berhenti pelan di depan ku, dan aku pun masuk kedalamnya, menembus pekatnya malam di tengah gemerlapnya kota.
*** (erf)***
1) Gonteng merupakan istilah dalam bahasa Jawa untuk menyebut serangga prajurit/pekerja yang selalu mengiringi dan melindungi Laron ketika keluar dari lubang sarangnya.
2) Nasi jagung dibuat dari jagung yang digiling/ditumbuk sehingga menyerupai butiran lembut beras. Untuk kemudian dimasak seperti kalau kita memasak nasi beras.
3) Nasi tiwul adalah nasi yang dibuat dari tumbukan ketela pohon hampir seperti nasi jagung
4) Klathakan adalah digoreng tanpa tepung, telur atau adonan lainnya.
Kp. Gedong dini hari, 12 September 2006