Rumah Bintang Laut ku











{Juni 25, 2007}   LARON

Jarum pendek jam dinding di ruangan kerjaku telah berpindah ke angka 5, yang berarti, jam kerjaku sudah habis. Sebentar lagi pasti riuh ruangan ditingkahi orang-orang beberes siap pulang atau pergi ke acara lain untuk sekedar refreshing. Aku masih termenung memandangi jarum pendek tadi yang sepertinya tidak rela bila harus selalu didahului satu putaran jarum panjang. Hal ini membuatku berpikir, sebenarnya, lebih dahulu yang mana yang diciptakan? Jarum panjang atau jarum pendek? Seperti juga aku selalu berpikir mengenai penciptaan laki-laki dan perempuan, yang sampai saat ini banyak mitos melingkupinya. Apakah benar Adam diciptakan lebih dulu dari Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam untuk menemaninya? Ataukah Hawa dan Adam sama diciptakan sebagai manusia dari segumpal tanah? Ataukah Adam dan Hawa merupakan satu hasil evolusi sempurna dari makhluk-makhluk primata?

Semakin aku memperhatikan jarum itu berputar, semakin banyak pula pikiran-pikiran ngelantur melingkupi kepala. Karena semakin pusing dengan pikiran ala filsuf itu, dengan berat hati aku memutuskan rajutan benang lamunanku. Akhirnya aku pun merapikan meja dan bersiap pulang.

***

Menyusuri jalan kecil ini sehabis hujan deras selalu saja mengingatkanku akan suasana di kampung. Sebuah desa miskin dan gersang di wilayah yang merupakan lumbung padi. Terkadang aku berpikir, apakah ini suatu hukuman terhadap desaku yang menurut tuturan nenek, dulunya dikenal sebagai tempat persembunyian para gali. Sejak kecil, aku selalu keras menolak hal ini dan menyalahkan penguasa yang pilih kasih melakukan pembangunan desa. Orang desaku baik-baik dan pekerja keras, anak-anaknya lucu-lucu. Bukan suatu penggambaran dari turunan begundal. Kalaupun iya, tidak semua keturunan begundal ikut menjadi begundal. Tapi, kenapa kami-kami harus menerima hukuman dengan kemiskinan desa kami ini? Ini adalah pemikiranku, karena ibuku selalu mengajarkan bahwa manusia dan makhluk ciptaan Tuhan mempunyai dua sisi kehidupan, baik dan buruk. Terserah makhluk itu sendiri akan menjadi buruk atau baik. Meski tidak dipungkiri lagi faktor eksternal kehidupannya ikut menyumbang pembentukan pribadinya. Desa Tritis, itulah nama desaku. Berasal dari kata Tritisan yang dalam bahasa Jawa artinya beranda, emperan atau pinggiran. Seperti namanya, desaku hampir selalu terpinggirkan dalam segala hal, termasuk pembangunan. Jadi sudah menjadi kebiasaan masyarakatnya untuk selalu berusaha sendiri dalam mencukupi dan memakmurkan desanya. Termasuk juga anak-anaknya. Sehabis hujan deras seperti saat ini, kami akan segera saja keluar rumah untuk mencari liang gonteng1) , yang berarti disitu nanti akan banyak laron keluar. Berarti juga, akan makan enak karena ada lauk makan teman nasi jagung2) atau nasi tiwul3). Setelah terkumpul banyak, laron-laron tersebut dihilangkan sayapnya untuk kemudian dibikin rempeyek atau digoreng ‘klathakan’4) dan dijadikan lauk sarapan. Hmm, rasanya renyah, gurih, dan berprotein tinggi. Namun, tidak setiap orang suka dan cocok dengan laron ini. Karena jika tidak cocok dapat menderita alergi, gatal-gatal ataupun bengkak dan bintil-bintil di kulit tubuhnya.

Tak terasa, aku sudah mendekati halte tempat biasa aku menunggu bis pulang. Sambil menunggu bis, aku membaca buku kesukaanku, Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan yang tinggal sedikit halaman lagi selesai. Buku ini bagiku bagus dan patut dibaca semua orang, karena merupakan salah satu karya sastra terbaik menurut aku. Dengan cantiknya Eka Kurniawan menuliskan kisah seorang perempuan pelacur di masa Belanda yang mempunyai beberapa anak, dan kemudian anak-anaknya tersebut mempunyai kisah cinta dengan pemaknaan masing-masing. Dan bagaimana kisah anak perempuan terakhirnya yang berwajah jelek, berkulit hitam dan misterius ternyata mempunyai cinta impian terhadap kakaknya. Kekompleksan cerita tersebut berhasil ditulis dengan alur yang tidak terduga dan mengalir, membuat pembaca menjadi penasaran dan tidak bosan untuk membacanya sampai dua kali.

Ditengah keasyikanku membaca, sekilas ekor mataku menangkap kedatangan seorang perempuan muda –sebenarnya masih anak-anak– dengan penampilan yang berani dan sedikit berlebihan menurutku. Konsentrasiku mulai terpecah dengan kedatangan teman-temannya yang kemudian berkelompok di sudut halte. Aku pun memutuskan untuk menutup dan menyimpan bacaanku ke dalam tas. Menengok ke jalan dan mendapati bis ku belum juga datang, aku pun memilih mendengarkan percakapan sekumpulan anak gadis tadi dan memperhatikan tingkah centilnya.

Melayang pikiranku ke masa ketika aku seumuran mereka. Keluguan anak gadis di masa ku, tidak aku temui di mereka. Apakah ini karena modernitas yang dengan cantiknya meluluhlantakkan kesederhanaan, kesahajaan dan kehati-hatian orang Indonesia? Gemerlap dan keriuhan kota ternyata mampu menjadi daya tarik yang kuat bagi anak-anak gadismu Ibu. Mereka pun melupakan nasihat dan kehati-hatian yang selalu Ibu coba suapkan setiap hari. Kehidupan hanya mereka pikirkan untuk saat ini, mereka melupakan apa yang seharusnya mereka lakukan untuk ke depannya. Yach, seperti laron yang tidak memikirkan apakah ketika dia keluar dari lubang sarangnya akan ditangkap atau dapat terbang bebas. Jikalau dia mencoba meninggalkan pasukan gontheng-nya, maka kesesatan akan dihadapinya. Tapi, ketika dia mengikuti gonteng maka dia akan terbang bebas.

Pluk!!! Satu laron jatuh di ujung kakiku, berusaha terbang lagi meski sayapnya sudah patah satu. Menggelepar dan terus berusaha terbang, meski akhirnya hanya bisa merayap karena semua sayapnya akhirnya lepas. Aku pun mendongak ke atas, ternyata sudah banyak laron yang mengelilingi lampu neon halte. Fyuuuh…Aku pun menghela nafas. Seperti laron yang ternyata juga tertarik dengan terang lampu. Sampai kapankah mereka bertahan dan beterbangan di sekeliling lampu itu tanpa harus terbakar kepanasan karena terangnya untuk kemudian jatuh lemas dan mati? Akankah seperti ini nasib anak-anak gadismu Ibu Pertiwi? Terlalu silap dengan gemerlapnya ibu kota dan melupakan kehati-hatiannya karena itu hanya tipuan untuk menarik pesona mereka, untuk kemudian mereka berjatuhan karena penyakit menular dan kematian? Ataukah kita harus menangkapi mereka satu-satu dan menampung mereka meski kemudian harus menanggung ketidakberdayaan atau kematian mereka karena akses yang terbatasi. Ataukah kita harus mencopot lampu agar mereka tidak lagi tertarik dengan terang dan gemerlapnya itu dan membiarkan mereka terbang di kegelapan malam kampong halaman? Mana yang terbaik masih harus terus dipikirkan, agar anak-anak gadismu Ibu, tidak terjebak dalam kehidupan semu itu.

Sebuah mobil berhenti pelan di depan ku, dan aku pun masuk kedalamnya, menembus pekatnya malam di tengah gemerlapnya kota.

*** (erf)***

1) Gonteng merupakan istilah dalam bahasa Jawa untuk menyebut serangga prajurit/pekerja yang selalu mengiringi dan melindungi Laron ketika keluar dari lubang sarangnya.

2) Nasi jagung dibuat dari jagung yang digiling/ditumbuk sehingga menyerupai butiran lembut beras. Untuk kemudian dimasak seperti kalau kita memasak nasi beras.

3) Nasi tiwul adalah nasi yang dibuat dari tumbukan ketela pohon hampir seperti nasi jagung

4) Klathakan adalah digoreng tanpa tepung, telur atau adonan lainnya.  

Kp. Gedong dini hari, 12 September 2006



{Juni 24, 2007}   Percaya Ramalan Zodiak?

Mungkin, sebagian dari teman-teman ada yang percaya dengan ramalan bintang, dan ada yang tidak. Entah untuk melihat karakter kepribadian, peruntungan, ataupun kesuksesan dalam cinta dan pekerjaan.

Kalau diriku, sedikit percaya akan ramalan yang berdasarkan zodiak. Tapi akan lebih banyak percaya kalau sudah terbukti tentunya, hehehhe. Tetapi akhir-akhir ini, tengoklah inboks messege yang ada di HP-ku. Hampir 2/3 kapasitasnya diisi dengan ramalan zodiak harianku, karena sebulan ini aku iseng berlangganan ramalan harian.

Nach, zodiakku kan Virgo –hmmmm, zodiak paling keren dari seluruh zodiak yang ada, kqkqkqkkqkqkqkqkqk–. Zodiak dengan lambang seorang perempuan cantik untuk periode 22 Agustus s/d 22 September. Tahu nggak, aku selalu bangga dengan zodiakku ini. Sama bangganya aku dengan golongan darahku yang AB. Keduanya menggambarkan kondisi riil akan keadaan diriku, dimana aku adalah seorang perempuan dari Jogja, hihihi. Entah ini kebetulan atau karena Tuhan benar-benar sayang sama aku. Aku sangat bersyukur dengan “kebetulan” dari Tuhan ini. Atau, karena orang tuaku yang begitu pandainya merencanakan kelahiranku ke dunia ini? Orangtuaku, terutama bapak yang dulu masih sering menggunakan perhitungan-perhitungan Jawa untuk menjalani kehidupan ini. Perhitungan hari baik dan peruntungan nama serta perilaku yang bagi orang Jawa menjadi semacam keyakinan yang harus dilakoni jika ingin mempunyai kehidupan batin yang luhur. Aku sedikit banyak menyimpan memori tentang ngelmu urip yang seringkali diajarkan secara tidak langsung oleh orangtuaku. Aku melihat disekitarku bahwa ajaran dan petuah bijak dalam menjalani hidup ini membawa banyak orang dapat berbuat bijak dan mengasihi orang lain.

Kembali lagi ke ramalan harianku di HP. Dengan perasaan yang serba setengah, aku pun selalu mencoba mencocokkan apa yang diramalkan dengan apa yang kuhadapi hari ini maupun kemarin. Kalau hari esok, aku tidak tahu karena ramalan ini kan datang di pagi hari, jadi yang aku merasa dibantu untuk mempersiapkan aktivitas di hari ini saja.

Jika ramalan tersebut hampir sama, aku jadi tertawa sendiri. Tidak jarang aku juga memforward ke kawanku, jika ramalan tersebut terkait dengan pembicaraanku dengan kawan, di hari atau malam sebelumnya. Apalagi jika terkait dengan kehidupan seksual atau gaya bercinta, wahhh pasti sms tersebut akan berlanjut menjadi diskusi yang seru, hehehe. Tapi, tidak jarang aku takut sendiri dengan ramalan jika itu diluar kemauanku. Yach, terkadang ada rasa takut ramalan itu jadi kenyataan. Jika aku siap sih tidak masalah, jika terwujudnya ketika aku pas tidak siap? Kan berabe tuh…Jadinya sih, percayai aja yang bagus-bagus, yang jelek hiraukan saja, yang ringan jalanin terus, nah yang berat bisa dijinjing, digendong, diangkat, atau dihindari…semua terserah kita kan. Namanya juga ramalan. Luv u all 



{Juni 22, 2007}   Gerimis Yang Menjadi Hujan

Sore ini tidak lagi cerah…Meski hujan telah berhenti lama. Entahlah, apa yang dipikirkan May dalam perenungan senjanya di depan jendela itu. Dia begitu serius mengikuti guliran tetes air sisa hujan yang tempias di kaca. Sesekali ibu jarinya ikut menggores seperti hendak mencarikan jalan bagi tetesan hujan itu. Dia pun tak hiraukan hembusan angin yang membawa hawa dingin Baturaden menerobos masuk menusuk tulang ini. Padahal, aku terus saja bergelung dibalik selimut tebal tanpa ada niatan meninggalkan kehangatan ini. Meski tetap saja dingin menelusupi tubuhku, karena terbukanya jendela tempat di mana sosok May sekarang memandang jauh ke bukit Cendana yang samar oleh kabut.

Aku tidak tahu, apakah serpihan ingatan May kembali ke masa di mana kami berlima sahabat sering menghabiskan waktu di sana jika suntuk menyeruak di kehidupan kami. Itu adalah masa lima tahun lalu ketika kami masih di awal masuk kuliah di fakultas Pertanian Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto. Sekarang, hanya tinggal aku dan Nisa yang masih di kota ini, sedang May dan Jo di Jakarta dan Sasi di Semarang.

Saat ini, aku sedang menemani May yang dengan tiba-tiba muncul pada subuh kemarin di depan kos ku dengan backpack ukuran sedang di punggungnya. Waktu itu, rasa rindu lah yang mendominasi perasaanku sehingga langsung saja pelukan hangat dan erat yang aku berikan padanya. Tidak ada satu pertanyaan pun terlintas di pikiran, apa gerangan yang membawa May datang kesini. Bahkan hingga sekarang ini belum jua ada pernyataan keluar dari mulut tipisnya May yang semakin cantik ini.

Setelah kedatangannya kemarin, kami berdua bernostalgia dengan mengenang hari-hari kebersamaan kami dan menyempatkan mampir ke rumah Nisa yang sekarang sedang menantikan kelahiran anak keduanya. Yach…memang dibanding kami berlima, Nisa lah yang lebih dulu melepas masa lajangnya. Teringat bagaimana hebohnya kami menyiapkan pesta lajang bagi Nisa dan berusaha mati-matian sampai mengancam akan menculik calon suaminya jika tidak mau datang ke pesta lajang kami. Aku dan May tertawa ketika mengingat wajah cemberut dan kesalnya Nisa karena kami paksa datang ke pesa lajang kami yang berakhir dengan kekacauan.

Pertanyaan-pertanyaan tentang kabar diriku, Sasi, dan Jo kemudian bergantian muncul dari bibir May. Baru kusadari jika ternyata hanya kami berempat lah yang masih sering berkomunikasi. May jarang dan susah sekali menghubungi dia. Pekerjaan sebagai seorang programmer dan desain web site membuat dia super sibuk dan sering ke luar negeri. May seperti tersaput kabut, hilang tersamar di kota Jakarta. Meskipun Jo dan May satu kota ternyata tidak menjamin untuk mereka sering bertemu.

Dengan senang hati aku memberikan kabar bahwa diriku sedang menanti beasiswa S2 ke suatu universitas di Jepang. Tempat di mana aku selalu mengangankan tinggal sementara waktu sambil menikmati guguran bungan Sakura. Jo sedang asyik dengan bisnisnya di bidang advertising dan EO-nya. Sedang Sasi sedang menikmati bulan madunya dengan Gasal, kakak tingkat kami.

Tiba-tiba, di saat aku terhanyut dengan kilas balik pikiranku, May menangis sesenggukan. Raut sedih menerawang di wajahnya. Aku pun segera saja bangun dan menghampirinya. Agak panik aku berusaha menenangkannya dan mengajaknya duduk di sofa. Aku pun bertanya dengan hati-hati apa yang menyebabkannya menangis tiba-tiba.

Dengan masih sesenggukan pelan, May bercerita, “Tik, kamu pasti tidak percaya kan kalau aku sudah tidak perawan sejak dari kuliah dulu. Bahkan aku sudah punya anak”. Aku pun terkesiap, namun ku coba untuk tidak menanyakan lebih jauh.

Aku hanya menanggapi sekedarnya, “Ndak masalah lagi May, kamu masih perawan atau tidak, sudah punya anak atau belum. Bagiku bukan hal yang prinsip, justru yang penting adalah kecantikan hati dan jiwa kita. Kamu memiliki itu May”, hiburku.

May hanya tertawa pelan sambil berjalan lagi ke jendela tadi. Sambil memandang jauh ke arah bukit Cendana, dia berujar. “Kamu pasti akan kecewa jika aku berterus terang. Bahkan Nisa, Jo dan Sasi akan sangat membenciku”.

“Memangnya apa yang telah kamu perbuat May?” tanyaku sedikit penasaran.

“Tapi kamu janji kan Tik, untuk tidak menceritakannya pada yang lain? Aku hanya menceritakan hal ini kepadamu, karena aku anggap kamu adalah sahabat yang paling baik. Lagian, dari dulu kan kamu memang yang paling netral diantara kita berlima”, pinta May.

Aku pun mengiyakan permintaannya tersebut. “Aku janji May untuk tidak menceritakan kepada yang lain. Akan aku simpan sendiri cerita ini”.

Hening sejenak kamar ini, untuk kemudian helaan nafas panjang May terdengar sebelum ia bercerita.

“Aku kehilangan keperawananku di semester akhir sewaktu kita liburan habis skripsi. Kamu ingat kan waktu itu aku yang paling sering absen kumpul-kumpul hingga aku meninggalkan kota ini tanpa pamit? Waktu itu aku sering mendaki ke bukit Cendana tanpa sepengetahuan kalian. Di tempat itulah aku kehilangan keperawananku hingga kemudian aku sadari aku hamil. Aku panik karena aku waktu itu belum siap, meski ada yang mau bertanggungjawab. Aku bersikukuh untuk tidak meneruskan kehamilanku”.

“Memangnya kamu melakukannya dengan siapa May?” sela ku.

May tidak menghiraukanku. Dia terus saja bercerita.

“Aku kemudian sibuk mencari informasi di mana aku dapat melakukan aborsi. Bahkan sampai ke Semarang pun aku jalani. Hingga akhirnya aku mendapat informasi kalau di sini ada seorang paraji yang sering menolong ibu menggugurkan kandungan karena anaknya sudah terlalu banyak. Akhirnya aku pun meneguhkan hatiku dalam menjalani keputusanku ini.”

“Sudah lama aku ingin membuka rahasiaku ini Tik. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat bagiku, apalagi dengan menghindari kalian, sangat berat Tik!”, ungkapnya.

Aku diam saja, mencoba merenungi kembali waktu-waktu di mana May menghilang tiba-tiba sampai hari kemarin. Tersadar aku bahwa ada benang putus dari serangkaian kisah hidup kami bersama. Yang hari ini sedikit demi sedikit mulai tersambung dengan susah payah.

“Kamu tahu Tik, di kaki bukit Cendana itulah paraji itu tinggal. Dan di sana pula lah aku menguburkan calon anak ku. Calon keponakan-keponakan kalian juga. Dari seorang laki-laki yang juga kalian sayangi sebagai seorang pelindung ketika mendaki gunung.”

Aku semakin tercenung mendengar terusan ceritanya, sembari menduga-duga siapakah laki-laki calon suami bagi May.

“Ini pula lah alasan yang membuatku tidak menghadiri pernikahan Sasi bulan lalu. Karena masih berat bagiku untuk bertemu dengan Gasal, lelaki yang selama hampir enam bulan terus mendekatiku dan merayuku hingga aku tak mampu lagi bertahan. Melupakan persahabatan kita. Itulah mengapa aku kemudian lari dari kalian, karena aku tidak mampu menutupi ketidakmampuan dan kepengecutanku. Maafkan aku Tik, karena aku telah menjadi duri yang menyakitkan bagi kalian dan terutama bagi Sasi. Aku selalu tidak tega berterus terang pada Sasi, apalagi jika wajah polosnya itu sudah diikuti dengan air mata yang mengambang. Yach…aku hanya bisa cerita sampai di sini saja, sampaikan salam dan maafku pada semuanya. Tetaplah menjadi temanku dan pelindung bagi Sasi. Jangan sampai peristiwa ini terulang lagi, kuatkanlah dia dan selalu ingatkan Gasal untuk hanya mencintai Sasi dan lupakan May. Itu pintaku Tik, kamu bisa kan? Pliss, ya…”, May menghampiriku dan bersimpuh di pangkuan ku.

Aku pun hanya dapat mengirup kesegaran udara malam ini dalam-dalam sambil membelai kepala May lembut. Malam ini turun gerimis yang dengan cepat menjadi hujan, seperti juga kami berdua yang menumpahkan air mata kesedihan dan kegalauan bersama sambil berpelukan. Kami biarkan jendela terbuka dan tampias hujan memasuki kamar. Biarlah kesegaran yang basah ini memasuki kamar dan hati kami, berdua saja. (erf)

Kala hujan awal Desember, 2006 



Dalam satu milis yang saya ikuti, terjadi diskusi yang panjang mengenai Relativitas Gender. Diskusi yang tadinya tidak begitu saya ikuti menjadi menarik karena ada satu member yang menurut saya pemikirannya sangat dangkal dan sempit dan hanya berdasarkan pada keegoisan dia sebagai laki-laki dalam memandang hubungan timbal balik antara perempuan dan laki-laki dan menggunakan analogi kehidupan monyet untuk menjelaskan hal tersebut.

Setelah mengikuti diskusi tersebut, terpikir saja untuk membuat tulisan berikut ini. Dan sengaja tulisan ini tidak saya forward ke milis tersebut karena saya sudah capek dengan diskusi yang menghadapkan pada orang yang tidak mau membuka pikiran dan jiwanya. Sia-sia saja sepertinya jika menanggapi orang seperti itu, meskipun mungkin banyak dari teman-teman yang tidak sependapat dengan sikap saya ini. Tapi, biarlah orang-orang yang mau terbuka pikirannya untuk kemudian mau peduli dengan sesamanya yang akan membaca tulisan ini. Semoga bisa menginspirasi mereka.

Jika membahas hubungan atau relasi perempuan dan laki-laki, pasti akan banyak pikiran yang pro dan kontra. Dari pikiran yang memang harus melakukan perubahan dan memberikan kesempatan pada perempuan, sampai pada pikiran yang memang perempuan sendiri yang mau dipimpin. Bahkan sampai pada analogi manusia dengan monyet dimana monyet yang besar, kuat dan mempunyai pasangan yang banyak lah yang bisa menjadi pemimpin.

Berdasarkan pemikiran itu, dan untuk menanggapi hal itu, maka saya hanya ingin mengungkapkan hasil pembelajaran visual saya dari sebuah film tentang kehidupan sekelompok pinguin dalam “March in Pinguin”.

Film yang berdurasi lumayan panjang ini sangat bagus dan menggambarkan bagaimana kehidupan berpasang-pasang pinguin dalam upayanya untuk dapat survive di kondisi lingkungan yang ekstrim.Tapi yang jelas, yang dapat kita tangkap sebagai pelajaran dari film itu adalah, bagaimana pasangan pinguin ini saling bantu dan saling berbagi peran dari mulai membina hubungan sampai memelihara keturunan dan keberlangsungan hidupnya. Dalam film ini, terungkap bagaimana pasangan pinguin itu melakukan pendekatan. Pendekatan yang penuh cinta dan kelembutan tanpa ada dominasi, bagaimana mereka saling mengeluarkan aura (inner beauty) masing-masing untuk mendapatkan pasangannya. Dan bagaimana mereka memegang prinsip monogami sampai mau memisahkan. Saling setia adalah prinsip pinguin tersebut. Sepertinya kita sebagai manusia yang diberi kelebihan oleh Tuhan dibanding makhluk hidup lainnya justru harus banyak belajar dari Pinguin ini.Begitu pun ketika mereka memadu kasih, penuh kelembutan. Belum lagi cara mereka survive dan menjaga kelangsungan hidupnya. Mereka saling bergantian untuk mencari makan dan mempersiapkan kehidupan bagi anaknya dan keberlangsungan generasi mereka. Perjuangan ketika mereka menjaga bakal calon anaknya pun sangat berat dan penuh dengan perngorbanan dari masing-masing pinguin tersebut. Bahkan para pinguin tersebut lebih realistis dari kita manusia. Buktinya, ketika mereka harus menjaga bakal calon anaknya, mereka tetap memikirkan bagaimana mereka harus bertahan hidup juga untuk nantinya dapat membesarkan anak-anaknya kelak. Mereka saling bergantian menjaga dan mencari makan meskipun itu harus pergi meninggalkan pasangannya dan bakal calon anaknya dalam waktu yang lama karena mereka mesti pergi dari tempat tinggalnya untuk mendapatkan tempat sumber makanan yang baru. Kemudian mereka pulang dan menggantikan pasangannya untuk menjaga bakal calon anaknya dan memberikan kesempatan pada pasangannya itu mencari makanan untuk menggantikan energy yang dipakai menjaga bakal calon anaknya.

Di film ini memperlihatkan bagaimana mereka saling menghargai pekerjaan pasangan baik itu pekerjaan yang terkait dengan reproduksi maupun pekerjaan yang terkait dengan survival mereka. Seperti juga bagaimana manusia –perempuan dan laki-laki– seharusnya saling menghargai pekerjaan masing-masing tanpa membedakan itu pekerjaan domestik-publik atau pekerjaan reproduksi-produksi dan dengan sadar saling bahkan mau berganti peran dalam pekerjaan-pekerjaan tersebut. Bahkan ketika mereka harus kehilangan bakal calon anaknya, mereka pun saling menghibur dan justru tidak meninggalkan pasangannya. Begitu pun jika mereka belum mempunyai anak, maka mereka akan ikut mengasuh dan membesarkan anak-anak pasangan lainnya. Sungguh sangat faunais (humanis). Mereka justru lebih manusiawi dari manusia itu sendiri. Ternyata, manusia yang katanya mempunyai kelebihan akal, budi dan perasaan dalam praktek kehidupannya justru malah terkadang sangat jauh ‘nilai kesahajaannya’ dibandingkan dengan pinguin ini. Ternyata manusia mesti lebih banyak belajar dari alam, baik itu untuk survive, untuk kelangsungan generasinya ataupun untuk berrelasi dengan sesamanya.

Dari ini semua, ternyata alam merupakan tempat kita untuk belajar tentang nilai-nilai kehidupan yang sangat kaya. Sehingga kita pun sebagai manusia perlu bersikap bijaksana terhadap alam. Jangan pernah mengeksploitasi kehidupan mereka, karena mereka pun makhluk hidup. Begitupun manusia, jangan pernah mengeksploitasi sesamanya apalagi mengeksplotasi antar kelompok bahkan saling mendominasi. Untuk kebaikan bersama dan kelangsungan hidup manusia, perempuan dan laki-laki.Suatu perenungan akan relasi perempuan dan laki-laki, bagaimana kita seharusnya hidup berdampingan, tanpa saling meniadakan, mendominasi ataupun menindas. (erf)

Kp.Tengah, 13 Maret 2007 22:40 



dan lain-lain