Rumah Bintang Laut ku











{Juli 5, 2007}   Semalam Hujan, Sahabat….

 “Tapi aku ingin mencintai dan saling mencintai, Tin…”, ungkapmu tegas ketika aku mengingatkanmu. Aku hanya bisa sedikit berfilosofi bahwa memang pemaknaan akan cinta bagi tiap orang berbeda, dan itulah yang menyebabkan mengapa cinta begitu sulit disatukan.

Kau pun terdiam lama, hingga akhirnya meluncur kata-kata putus asa atau hanya upayamu menghindari kenyataan. “Aku letih, Tin….”

Aku pun ikut terdiam. Kamar pun hening, membiarkan bergulung-gulung kalimat berpendar di langit-langit tanpa tahu kapan akan membumi.

***

Hujan malam ini turun hanya sebentar, menyapa gersangnya bumi, aku terbuai feromon yang disebarkan bumi karena hujan. Kunikmati heningnya malam yang penuh stimulus ini, hampir klimaks, ketika bunyi SMS membuyarkan gairah. Dengan malas-malasan aku mengambil HP tua itu dari meja. Masih dengan mata setengah menarawang, ku tahu itu darimu Argo.

“Ada apa lagi ini ya…tengah malam begini SMS, ganggu orang terbuai angan saja…” gumamku.

Terbaca di layar, “Tin, Riry sayang padaku, tapi dia tak bisa menikah denganku, karena dia tidak mau meninggalkan pacarnya. Karena dia kasihan dengannya. Aku jadi kacau nih.”

Aku termenung sebentar, ada getar aneh menelusup hati. Senang? Sedih? Simpati? Sayang? Entahlah… Aku tidak tahu. Yang jelas, aku sudah mempunyai feeling akan kejadian ini. Bukankah ini yang aku harapkan dari semua yang kau ungkapkan?

Akupun membalas SMSmuu dengan berlagak menjadi teman yang bijaksana. “Ya sudahlah Go, jika Riry sudah mengambil keputusan seperti itu. Bukankah menjadi jelas pertanyaanmu selama ini? Hargai keputusan dia dan jangan kamu memaksanya untuk meninggalkan pacarnya itu.”

“Aku tidak memaksanya Tin, aku justru yang menyarankan dia untuk tidak meninggalkan pacarnya. Hanya… Aku meminta dia untuk tidak meninggalkanku saat ini saja”, begitu balasmu.

“Ya baguslah kalau begitu. Yang sekarang harus kamu lakukan adalah istirahat menenangkan jiwam, dan mengalihkan energi cintamu ke hal-hal yang lain. Jangan bersedih, sungguh sayang jika energi cintamu yang besar itu disia-siakan”, aku pun membalasnya.

“Aku berusaha untuk tidak bersedih! Tapi ada getar aneh yang membuatku tidak mampu menahan air mata ini!” balasmu segera.

Lama jariku melayang di atas keypad ini, bingung mau menjawab bagaimana. Jika kau ada disampingku saat ini Argo, ingin kurengkuh tubuhmu yang kurus itu. Ingin ku temani kamu dalam sedihmu.

“Argo, rasakanlah udara malam ini, rasakan hembusan anginnya… Aku ada disitu…memelukmu, membelaimu dan menemanimu”, tiba-tiba tertulis seperti itu di layar HP dan sudah terkirim. Aku tercenung dengan isi SMS yang barusan kukirim. Lama tidak ada jawaban. Aku pun bersiap tidur kembali. Nit…nit…nit… baru rebahkan tubuh ketika akhirnya ada bunyi SMS dan aku menduga darimu. Benar!

“Makasih Tin, aku akan berusaha untuk tidak sedih. Kamu baik sekali teman. Hanya kamu seorang yang dengan tulus menyayangiku.

Aku terdiam setelah membaca SMSmu itu. Dan memutuskan untuk tidak membalas, mencoba beristirahat.

***

“Aku kesepian Tin,” kembali muncul SMS darimu. “Aku butuh teman Tin, malam begitu menakutkan” lanjutmu.

Dengan nyeri di dada, aku membalas “Aku akan menemanimu Argo, jangan pernah bersedih dan jangan pernah merasa kesepian”.

“Aku sepertinya depresi Tin, kadang gembira banget, tapi kalau sedih, sedih banget. Aku butuh teman Tin”, SMS balasanmu seperti itu.

Dengan sedikit emosional aku menjawab, “Argo, kamu jangan terpuruk begitu dong!. Resiko orang mencintai adalah diterima atau ditolak. Kamu harus sadari itu”.

“Nasib cintaku memang tragis Tin. Ketika banyak yang memilihku, aku memilih yang lain. Ketika aku memilih, dia memilih yang lain” lanjutmu.

“Kata orang bijak, berbahagialah orang yang dicintai banyak orang, karena energi positif dari cinta membawa kebaikan”, kembali aku mencoba berbijak dengannya. Curahan hati Argo cukup menguras energi dan perasaanku.

“Tapi aku tidak sepertimu Tin, yang bisa mencintai tanpa mengharap balas apa pun. Kamu begitu kuat dan teguh. Sedangkan aku… Kelihatannya saja kuat dan mandiri, padahal rapuh dan putus asa”, balasmu.

Bagai dihantam godam, perasaanku yang selama ini aku pendam menjadi bergolak. Aku marah membaca SMSmu.

“Kamu salah jika menilai aku seperti itu! Aku ingin dan berharap balasan akan cintaku itu. Tapi aku tahu diri sampai dimana pengharapanku!” balasku.

Sepertinya, kamu menyadari kemarahanku, karena kamu pun kemudian buru-buru minta maaf.

Kamu pun membalas “Makasih Tin…Aku letih banget jiwa dan raga…Dadaku sesak banget, kalau malam air mata tidak bisa ditahan, mengalir terus”.

Dengan sedikit sesak dan getir yang menyeruak, aku menutup pembicaraan lewat SMS ini. “Istirahatlah, semoga energi cinta dari orang-orang yang mencintaimu, kan melingkupimu, menjagamu dan menguatkanmu…”

“Terimakasih Tin, semoga aku kuat…aku kuat…aku kuat…” SMS terakhirmu malam ini.

***

Selasa sore kamu menghubungiku, memintaku menemanimu mencari kamera untuk keperluan kerja. Dan kau pun menjemputku untuk pergi ke Benhil. Setelah kamu mendapatkan apa yang kamu cari, kita pun pulang ke rumah yang sudah kau anggap rumah sendiri. Rumah di mana kamu merasa nyaman tinggal di dalamnya dan bisa berlama-lama tidur sampai pagi.

Saat kita berdua terhanyut musik yang mengalir dari compo di pojok ruangan kamarku, kamu pun mulai menceritakan hal yang membuatku semakin getir dan nyeri.

“Tin, pernahkah terlintas keinginan untuk menikah?” tanyamu.

“Aku ingin menikah jika ada kesempatan, jika ada yang mengajak dan ada yang mau diajak menikah”, jawabku.

“Aku sekarang sedang merasakan dorongan yang kuat untuk menikahi seseorang”, lanjutmu.

Aku terdiam, sedikit berharap dia akan menyampaikan hal yang terindah.

“Kenapa kamu berkeinginan untuk menikah, Argo? Bukankah kamu merasa trauma untuk menuju ke pernikahan, karena kamu mendapatkan contoh yang kurang sempurna tentang pernikahan dari lingkunganmu? Keluargamu, teman-temanmu?”, tanyaku mencari kepastian.

“Aku juga tidak tahu. Tapi dorongan ini begitu kuat. Seperti ada yang mengatakan –kamu harus menikah dengan dia– begitu berkali-kali”, jawabmu.

“Siapakah perempuan yang beruntung itu?”, tanyaku.

“Dia Riry teman sekantorku. Dia tidak cantik tetapi cerdas dan beda dengan perempuan kebanyakan. Seperti juga perempuan-perempuan yang dekat denganku. Hanya saja, aku merasakan hal yang beda jika berjalan dan berbincang dengan dia” jelasmu panjang.

Gedubrakkk!!!

Hatiku serasa berhenti mengalirkan darah ke seluruh tubuhku. Aku seperti kehabisan oksigen untuk sementara waktu. Hening sejenak. Aku teringat Argo dulu pernah bercerita kalau ada teman sekerjanya yang baru. Tapi dia tidak dekat dan tidak mempunyai perasaan apapun dengannya. Ternyata selama ini sudah terjalin komunikasi yang mendekatkan mereka. Ku tata hatiku untuk berdenyut lagi.

“Terus, bagaimana dengan dia? Sudah kamu ungkapkan kepadanya keinginanmu itu?”, tanyaku lagi.

“Dia juga merasakan hal yang sama denganku. Dia merasa beda dan nyaman ketika jalan denganku, menghabiskan waktu senggang denganku. Berbeda ketika dia jalan dan menghabiskan waktu bersama dengan kekasihnya. Dia ingin menikah secepatnya tetapi kekasihnya belum ingin cepat-cepat menikah. Dia tidak bisa meninggalkan kekasihnya karena itu pernah terjadi sebelumnya dan dia merasa bersalah”, ceritamu.

Aku hanya bisa menghela nafas dengan berat dan terpekur beberapa saat.

“Terus, bagaimana dengan kekasihmu sekarang? Yang sudah lama kamu jalin?”, tanyaku.

“Itulah… Orangtuanya sudah mendesak-desak kami untuk segera menikah. Karena melihat hubungan kami sudah cukup lama dan serius. Tapi aku tidak ingin menikah dengannya. Sudah tidak ada rasa lagi diantara kami”, jelasmu.

“Tapi, kenapa tetap kamu jalani hubungan seperti itu, jika sudah tidak ada rasa cinta lagi?’, sergahku.

“Itu hanya karena aku tidak bisa menghindar dari balas budinya. Dia terlalu baik. Dia yang menyelamatkanku dari kekacauan hidupku di masa lalu. Aku tidak bisa menolaknya”, lontarmu berapologi.

Aku kembali terhenyak. Terpikir olehku, apakah semua laki-laki akan menjerumuskan dirinya dalam balas budi? Apakah laki-laki tidak bisa membedakan antara balas budi dan cinta kasih? Ataukah laki-laki begitu jahat memanfaatkan kebaikan dan rasa sayang dari seorang perempuan yang peduli dengan hidupnya? Semakin aku terpusing dengan pikiranku sendiri.

“Lantas bagaimana rencanamu ke depan berkaitan dengan keinginanmu menikahi Riry?”, tanyaku lebih lanjut.

“Berat juga sebenarnya. Tapi aku harus lakukan hal ini”, jawabmu pendek.

“Kamu tidak bisa menggantung cinta seorang perempuan Go. Kamu harus memberikan kejelasan status, sekali pun itu sulit dan menyakitkan bagi semuanya. Kamu harus ungkapkan dan jelaskan kondisi serta keinginanmu kepada kekasihmu dan juga Riry. Kamu harus lakukan itu. Secepatnya lebih bagus. Lebih baik sakit di awal daripada sakit di belakangan hari, yang berarti akan lebih sakit jadinya. Jika kamu ingin mendapatkan kebahagiaan, kamu harus mengusahakannya sekuat tenaga. Dan harus memikirkan resikonya juga, baik yang menyakitkan maupun yang menyenangkan”, jelasku panjang lebar mengingatkan dia.

Aku tidak ingin perempuan-perempuan itu tersakiti lebih lama. Utamanya kekasih Argo yang sudah begitu lama menjalani ketidakjelasan hubungan dengan Argo.

“Yach…aku memang harus memutuskan hal ini. Aku akan menyelesaikan hubunganku dengan kekasihku dan bicara baik-baik dengan orang tuanya. Bersamaan dengan itu, aku akan ungkapkan perasaanku pada Riry dan mengajaknya menikah. Semoga semuanya bisa berjalan dengan baik”, harapmu kemudian.

Hening kembali menyergap kamar ini. Aku dan Argo berkecamuk dengan pikiran dan perasaan kami masing-masing. Sampai pagi datang kami masih dalam pikiran masing-masing tanpa bisa istirahat.

***

Pagi di akhir Agustus, kicau burung gereja masih saja tak lelah mewarnai depan kamarku. Seakan tidak pernah lelah jalani hidup dan tanggungjawab. Semalam hujan turun dengan enggannya. Seperti diriku enggan jalani hidup pagi ini. Tanpa kusadari, ku terperangkap dalam cinta tak bersambut. Cinta kepada seorang sahabat. Cinta yang untuk kesekian kalinya tertampik. Hanya bisa menunggu dan berharap. Sampai kapan pencarianmu, sahabat? Sampai di mana perhentianmu, sahabat? Di sini menunggu hati yang siap kamu labuhi, sebagai perhentianmu yang sudah di ujung masa. Namun, kusadar akan sia-sia jika terus menunggu, menjadi dermaga bagi hatimu. Aku harus berani bertransformasi diri. Aku tidak ingin menjadi dermaga bagi biduk yang ingin berlabuh. Aku ingin menjadi setetes hujan, yang bebas, mempunyai keinginan, yang akan jatuh kemana nanti itu adalah pilihan sadarku. Yach, aku ingin menjadi setetes hujan bagi diriku sendiri dan bagi makhluk lain. Waktu dan tempat yang tepatlah yang menjadi pilihanku untuk aku bisa menjatuhkan diriku, yang akan memberikan kesegaran dan harapan baru bagi yang menerimanya. Seperti setetes hujan yang menyegarkan bunga di depan kamarku. (erf) 



Q2 berkata:

sedih….hiks..hiks..!!cNta bertepuk sBelah tangan??duh,,mNyakitkan sKali..



hany berkata:

sedih hiks…hiks…!!!lovu ygd gantung pst ckt bgt de,,,,mNyakitkan sekila bgt2x



Tinggalkan Balasan

dan lain-lain