Rumah Bintang Laut ku











{September 10, 2007}   Kacamata ku

Setiap mendengar kata kacamata, pasti yang terbayang adalah benda bartangkai di dua sisinya dan terdapat dua kaca/lensa di depan. Berfungsi untuk membantu mata melihat sesuatu agar lebih jelas.

Aku mempunyai pengalaman yang menarik yang terkait dengan kacamata ini. Berawal dari mimpi yang aku alami semalam. Dalam mimpi tersebut, aku mendapatkan suatu kejadian yang menggangguku. Yang kemudian aku ceritakan pada temanku Jo. Bukan aku percaya pada makna mimpi, namun karena tidak tahu mengapa, dalam satu diskusi di kamar (??? ;) ) aku menceritakan begitu saja mimpiku itu pada Jo, yang ternyata ditanggapi agak serius oleh Jo dengan falsafah-falsafah hidupnya dan analogi peristiwa yang baru saja kami alami.

Estoe: Semalam, aku bermimpi kalau kacamataku pecah karena didudukin orang. Dalam mimpi tersebut, aku kemudian sedih karena tidak bisa menggunakan kacamata itu lagi dan harus memperbaikinya dengan biaya yang tidak murah. Aku kemudian berusaha memperbaiki kacamata itu, meski aku yakin tidak bisa, tapi aku terus sibuk dengan upaya perbaikan itu, tanpa ada kepedulian terhadap sekitar. Dalam kata lain aku justru terfokus dengan pekerjaan yang sia-sia karena sudah pasti tidak bisa. Menurutmu bagaimana Jo?

Jonathan: Wah…itu dia, tandanya kalau kamu harus berhati-hati dan harus selalu menjaga cara pandangmu dalam melihat sesuatu yang lebih luas dan jernih. Jika kacamata mu rusak atau pecah itu artinya kamu harus menjaganya dari orang-orang yang jahat yang akan menggunakan kacamatamu untuk melihat hal lain atau merusaknya agar kamu tidak dapat melihat hal-hal yang indah dan lebih jelas. Artinya kamu akan dibutakan karena tiadanya kacamata itu. Dan akhirnya kamu disibukkan untuk memperbaiki alat itu tanpa kamu melihat alternatif lain bahwa kamu bisa melihat tanpa kacamata itu walau tak sejelas kalau memakai kacamata.

Estoe: Hmmm, kamu cerdas juga Jo kalo lagi gila begini (seperti biasa, Jo berwajah ‘kriting’ dan selalu menghunjamkan tinjunya ke apa saja dan siapa saja yang ada di sekitar dia, jikalau sedang pusing atau banyak pikiran). Balik ke kacamata dan falsafahmu tersebut, dalam peristiwa atau keadaan saat ini, yang katanya perlu ‘caracter building’, kacamata bisa diibaratkan sebagai alat untuk melihat dan menajamkan penglihatan kita akan sesuatu. Jika ini yang dimaksud, memang bener kita harus menjaga kacamata kita itu baik-baik. Karena dengan alat bantu itu, ada kemudahan dan keuntungan yang kita dapat. Dan yang perlu diingat Jo, kacamata yang dipakai bisa berbeda-beda di masing-masing orang. Atau, bisa juga ada yang sengaja memakai yang tidak sesuai dengan ukuran/kebutuhannya, sehingga apa yang dilihatnya justru tidak sebagus aslinya. Atau, bisa juga orang tersebut melepas kacamata dan memilih tidak memakainya karena masih dapat melihat meski tidak dari jauh dengan alasan tidak mau dibatasi pandangannya.

Jonathan: Iya sich, tapi dalam kasus dan peristiwa ini, kamu harus tetep menjaga kacamata itu untuk tidak diambil atau dirusakkan orang lain. Karena itu adalah kacamatamu. (Jo masih tetap berusaha mempengaruhiku untuk mengambil kesempatan dan kepercayaan dari teman-teman dan mengibaratkannya dengan kacamata yang harus dijaga tersebut). Karena kacamata kamu itu akan memperbaiki pandangan kita semua dan memperjelas semua hal yang mungkin selama ini tampak suram. (rona masam masih membayang di wajah Jo karena kesal dengan pengelakkanku).

Estoe: Oke lah Jo, aku akan berusaha menjaganya, tetapi tidak janji apakah akan mempergunakannya atau tidak, karena mesti melihat dulu apakah sesuai dengan ku atau tidak kacamata itu setelah diperbaiki.

Kawan, jangan berpusing ketika membaca tulisan ini. Ini hanya perbincanganku dengan seorang kawan baik yang selalu berkontemplasi dengan pikiran-pikirannya. Seorang muda yang cerdas yang terkadang sedikit memaksakan pemikirannya tersebut.

Yang jelas, aku sangat berterimakasih dengan perbincangan dan diskusi menjelang tidur di beberapa bulan ini, yang membuatku semakin menyadari arti dari persahabatan, kepercayaan, dinamika pikiran dan kasih sayang, yang semakin tereksplorasi dari diriku. Bahwa bagaimanapun keadaan kita, ternyata masih tetap ada yang membutuhkan dan mempercayai kita. Hanya keberanian mengambil peran dan melakukan pengorbanan serta dukungan dari semua itu lah yang mesti terus dikembangkan dalam jiwa untuk membentuk suatu karakter yang kuat bagi kehidupan ke depan.

(renungan di medio Desember 2006)



dan lain-lain