Rumah Bintang Laut ku











Perempuan di sudut ruangan itu masih nampak tegas dan tegar, meski kerutan tua banyak menghiasi wajahnya. Dia tidak memusingkan kerutan itu –seperti yang banyak dipusingkan perempuan jaman sekarang–. Dia hanya pusing dengan nasib yang harus dia terima –suka atau tidak–, selama bertahun-tahun ini. Bagaimanapun pahitnya anggur kehidupan itu, terpaksa dia harus menenggaknya, bahkan sampai mati pun akan tetap membasahi rongga mulutnya, terus turun ke rongga perut dan saluran kencingnya dan hilang di sungai kehidupan.

Kau amatilah wajahnya sekali lagi, lebih teliti. Tiadakah kau lihat, mata itu sangat dalam menyimpan rahasia kehidupan sekaligus kenestapaan dan kemarahan. Air mata sepertinya lama tidak menjamah sudut mata tajamnya. Apakah air matanya sudah habis dialirkan di masa mudanya dulu? Atau memang air mata tidak mampu lagi membasahi luka hatinya? Siapa yang tahu, jikalau kelukaan itu tertoreh dalam di hati dan jiwanya?

Terbayang dia bercerita dengan ekspresi wajah yang setiap detik akan berubah. Secepat berubahnya riak air di lautan, terkadang menyenangkan, tiba-tiba keras menggempur, lalu tenang kembali untuk kemudian bergelombang ke sana ke mari. Seperti juga kehidupan nya yang penuh perjuangan untuk tetap hidup, tuk menitipkan amanah pada yang muda. Agar apa yang dialaminya, seluruh kehidupannya, menjadi bekal dan penghayatan bagi yang muda ini. Untuk tidak memperlakukan mereka yang lemah dengan semena-mena atau berbelas kasihan. Tapi bagaimana mereka dianggap sebagai manusia, itulah yang mereka inginkan.

Separo lebih hidupnya dilewati dengan menyembunyikan dirinya yang sejati. Sambil berharap ada yang peduli dengan perjuangannya itu. Namun, setengah abad lebih tetap juga angannya itu belum terwujud. Bagi beberapa temannya, angan itu dibawa hingga mata ini menutup selamanya. Kesakitan fisik dan psikis, melingkupi dia dan teman-temannya. Satu per satu digerogoti umur dan digigiti penyakit akibat perlakuan bejat durjana Jepang.

Hanya semangat untuk mewariskan sejarah kehidupannya pada yang muda lah yang menjadi doa abadi. Menggugah semua mata dan jiwa untuk peduli pada nasibnya, paling tidak menuntut dikembalikannya martabat mereka sebagai manusia dan permintaan maaf dari Jepang.

Yach…hanya itulah yang mereka harapkan. Para Jugun Ianfu itu tidak meminta uang imbalan dari penderitaan mereka. Setelah bertahun-tahun menjadi budak seksual tentara Jepang, dengan perlakuan yang tidak manusiawi dan diputus dari kehidupan ‘normal’ nya. Para Jugun Ianfu hanya menuntut diakuinya tindakan perbudakan seksual oleh tentara Jepang sebagai bagian dari pendudukan Jepang, dan oleh pemerintahan Indonesia sebagai sejarah gelap bangsa yang harus terkuak, bukan aib bangsa. Oleh karenanya Pemerintah Jepang harus meminta maaf kepada semua para Jugun Ianfu atas kejahatannya memperlakukan mereka. Pun Pemerintah Indonesia juga harus berkewajiban membela dan memperhatikan hak-hak para Jugun Ianfu yang terabaikan selama ini. Pun masyarakat termasuk kita sebagai yang muda untuk tetap menjadi lidah penyambung tuntutan mereka.

Semoga, sang umur masih berteman dengan para Jugun Ianfu agar semangat mereka menjadi guru kehidupan bagi yang muda.***

Kp. Tengah, jelang tarawih, 260906



Tinggalkan Balasan

dan lain-lain