Rumah Bintang Laut ku











Innalillaahi Wa Inna Ilaihi Rojiun ….
Telah berpulang dengan damai kepangkuan Tuhan YME Ibu Mardiyem Survivor ex Jugun Ianfu dari Yogyakarta, Hari Kamis, 20 Desember 2007, Pk. 22.30 Wib
Semoga api perjuangan Ibu Mardiyem terus menyala dan diteruskan generasi muda …

Itulah sebaris kalimat yang terpampang di layar monitor komputer dan HP ku. Terpana sejenak dan kehilangan kata ketika aku membacanya. Semua kisah yang aku baca, aku lihat ataupun aku dengar langsung terngiang dan melintas silih berganti dalam kepalaku.

Hening…

Tanggal 20 Desember 2007 bertepatan dengan hari raya Idul Adha dan 2 hari menjelang hari Ibu yang merupakan hari paling penting bagi perjuangan nasib perempuan di Indonesia.

Yach…Guru Senjaku sepertinya sudah meminta ijin Tuhan untuk dipanggil ke kasih sejati Nya di hari itu. Hari yang jika kita tengok lebih jauh menjadi hari pengingat bagi umat manusia.

Berbahagialah Guru Senjaku

Ibu Mardiyem adalah salah seorang survivor ex Jugun Ianfu –korban perbudakan seksual semasa pendudukan tentara dan sipil militer Jepang di Indonesia tahun 1942–.

Sudah hampir 10 tahun dia berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah Indonesia, Jepang dan dunia bahwa memang sudah terjadi perbudakan seksual terhadap perempuan-perempuan muda di beberapa negara. Bahwa itu bukanlah pekerjaan seksual yang dengan sukarela dilakukan. Tapi ada praktek-praktek penipuan dan kekerasan serta eksploitasi seksual di dalamnya yang dilakukan oleh pemerintah Militer Jepang.

Pun beliau juga berjuang untuk mendapatkan permintaan maaf dari Pemerintah Jepang sebagai yang bertanggung jawab atas perbudakan seksual yang telah menghancurkan masa depan dan hidup perempuan-perempuan muda yang cerdas dan menghempaskan mereka pada jurang kenistaan sebagai seorang perempuan, sebagai budak seks yang jauh dari perikemanusiaan.

Diantara gurat ketuaan dan lembar-lembar ingatan yang seringkali terselip dalam memori hidup 80-an tahun lebih…dia masih bersuara lantang dan menantang manusia-manusia muda untuk tidak begitu saja melupakan sejarah bangsanya yang tidak lepas dari pengorbanan dan perjuangan perempuan-perempuan.

Jangan melupakan kami yang sudah mengorbankan jiwa, raga dan martabat kami sebagai manusia dan sebagai seorang perempuan untuk negeri ini. Yang semuanya dirampas dari kami disaat kami bahkan berusia lebih muda dari kalian.

Mungkin itulah yang ingin disampaikan beliau selama ini. Tapi ternyata semangat dan keberanian dia menguak jati diri dan pengalaman pahit hidupnya sehingga pandangan negatif dan perlakuan yang tidak manusiawi yang dipanennya tidak begitu saja menggugah jiwa-jiwa pemimpin dan masyarakat bangsa ini.

Kepergian yang Membahagiakan?

Kepergiannya seperti pukulan yang memalukan bagi kami yang muda ini. Kami masih mempunyai hutang pada para survivor tersebut. Apa yang diperjuangkan belum selesai, bahkan kami merasa belum membuat dan menghasilkan apa-apa bagi perjuangan mereka.

Advokasi yang pasang surut dan tidak adanya advokasi secara serempak dan berkelanjutan menjadikan advokasi jugun ianfu di Indonesia seperti berjalan di tempat. Dibandingkan dengan advokasi di Belanda, Korea, Taiwan, Phillipine, Singapore, Timor Leste dan lainnya kita kalah jauh. Mereka bahkan sudah go internasional dan bahkan sikap pemerintahnya sudah sangat mendukung upaya dilakukan permintaan maaf dari Jepang kepada survivor dan desakan pelaksanaan pengadilan internasional tentang jugun ianfu.

Berharap pengorbanan yang dilakukan survivor dan kepergian Ibu Mardiyem di hari raya Idul Adha yang identik dengan sikap pengorbanan dan juga hari Ibu yang identik dengan kebangkitan merebut dan memperjuangkan hak-hak perempuan menjadi tonggak sejarah kebangkitan advokasi jugun ianfu di Indonesia. Semangat inilah yang mesti kita pegang terus sebagai komitmen bersama dan menjadi resolusi di tahun depan.

Semoga kepergian Ibu Mardiyem menjadi kepergian yang membahagiakan karena akan mendapatkan kasih yang sejati dari Yang Maha Memiliki Hidup dan Yang Maha Pengasih. Dan kepergian yang menjadi pengingat kami generasi muda agar terus melanjutkan apa yang sudah dirintisnya dan melaksanakan pesan beliau agar kita generasi muda terus berjuang untuk kehidupan yang lebih baik.

Guru Senjaku,

Semoga kau bahagia dan tersenyum bangga di atas sana ketika melihat anak cucumu mengikuti perjuanganmu dan memegang erat pesanmu.

Do’a kami untuk Guru-Guru Senja yang sudah mendahului karena usia dan derita yang ditanggung seumur hidupnya.

Kami malu karena belum berbuat apapun untuk Guru-Guru yang Senja ini.

Namun, Senja bukanlah penghabisan

Karena dia akan selalu muncul dengan warna yang berbeda.

Senja selalu indah untuk dikenang dan tidak mudah dilupakan.

Kami akan melukis senja di hati kami.

Dan menjadikannya semangat hidup untuk menapaki kehidupan esok.

Selamat jalan Guru Senjaku

Kebenaran yang hakiki akan kau dapatkan disisi Sang Maha Kasih

In memoriam Suhanah, Mardiyem dan Guru Senja lain yang tak berkabar

Honourable for their brave heart and struggle to live

 

Renungan akhir tahun, 28 Desember 2007



Tinggalkan Balasan

dan lain-lain