Rumah Bintang Laut ku











{Maret 17, 2008}   Aku dan Suatu Pagi

Pagi itu, Jumat 14 Maret 2008, seperti biasa, ku terbangun dari tidur karena cahaya remang yang menelusup ke kamar diantara sela kertas penutup jendela kamarku. Tak ada firasat apapun aku akan mengalami kecelakaan kecil menuju kantor.

Dengan semangat pagi ditingkahi kicau Sriti yang semakin banyak saja berterbangan di depan rumah, ku menghentikan Carry merah bertuliskan angka T06 di kaca depannya. Yach, dengan kendaraan umum inilah aku terbiasa berangkat menuju tempat kerja. Tak lama memang, hanya 10-15 menit saja. Bahkan aku tak menemui macetnya jalanan Jakarta seperti yang kawan-kawan temui tiap hari di jalan-jalan utama Jakarta. Paling mungkin hanya menemui ramainya mobil berlalu lalang mencari jalan alternatif menghindari kemacetan yang semakin parah.

Pagi itu, Jakarta tak terlalu macet, namun mendung masih menggelayutseperti pagi-pagi kemarin. Perjalanan yang singkat ini aku nikmati dengan memperhatikan rumah-rumah sepanjang jalan Tengah yang ternyata semakin padat dan mengalami perubahan yang drastis. Rumah yang dahulu mempunyai beranda sekarang berubah menjadi rumah toko yang berjejer semakin rapat.Tanah kosong yang dulu menjadi tempat kambing merumput, sekarang menjadi komplek rukan atau ruko. Sepertinya mereka merasa rugi jika tidak memanfaatkan sejengkal tanah yang mereka punyai. Hmmm…, pesat sekali perkembangan jalan Tengah ini. Menurut cerita ibu pedagang pasar Induk Kramatjati yang selalu berbarengan naik T06 , jalan Tengah tahun 1995an dulu masih jalan kampung, belum dipoles aspal yang mengkilap, masih banyak kebun di kanan-kirinya, bahkan ada beberapa ruas jalan yang masih gelap gulita. Tetapi, dalam waktu lebih dari 10 tahun ternyata sudah sangat berubah. Bahkan, setiap sore sekarang ramai berjejer pedagang gerobak maupun tenda yang menjajakan aneka makanan.

Kadang terpikir, ini jualan rapet banget…apa ada celah untuk rejeki menyelip diantara gerobak itu? Tapi ternyata tetap saja Tuhan Maha Pemurah…masing-masing gerobak mempunyai rejeki yang mampir dan terselip di jari-jari rodanya. Sungguh lebat pohon rejeki itu, sehingga tiap orang dapat merasakan nikmat buahnya.

Kondisi seperti di atas tentu saja membawa dampak bagi orang-orang sekitar jalan Tengah ini, termasuk aku dan kawan-kawan di tempat kerja. Misalnya, dulu setiap kali mau makan siang hanya ada pilihan warung makan di jalan Baing atau warteg depan gang Nasih. Sekarang jangan tanya lagi…, mau pecel ayam, pecel lele, soto, gado-gado, bubur ayam, tongseng, sampai gorengan dijamin ada deh.

Jumat 14 Maret 2008, karena keasyikan merenung, tempat kerja dah di depan mata. “Bang, pinggir ya…”, ucapku tak begitu keras, karena penumpang cuma tiga orang. Aku pun turun dengan hati-hati, tapi ternyata tak menjamin aku selamat kawan. Begitu kaki menyentuh tanah yang sekarang sudah tertutup gundukan semen yang aku tidak tahu kapan adanya, tiba-tiba kaki ku pun keseleo.

Duh…badan berasa lemah tak bertenaga…semua tenaga seperti hilang diserap gundukan semen itu. Masih berdenyut kaki ini aku paksa berdiri untuk membayar tarif angkot ke abang supir. Aku pun istirahat sebentar dengan bersandar pada batang pohon yang masih berdiri disamping tiang penerang jalan. Ternyata, keasyikanku menikmati perjalanan membuat aku lupa akan kewaspadaan diri.

Keteledoranku itu membuat aku mendapatkan bengkak di kaki kananku. Yang hingga saat ini masih saja membuat aku tertatih melangkahkan kaki. Semoga ga berlangsung lama karena dokter menyarankan operasi guna merekatkan cukilan kecil dari tulang engselku.

Hmmm…kisahku di suatu pagi.

17 Maret 2008, senja menjelang



dan lain-lain