Rumah Bintang Laut ku











Dari tahun ke tahun, Indonesia yang katanya kaya akan hasil bumi termasuk tambang dan minyak ternyata semakin mengalami krisis energi. Ini dibuktikan dengan makin tingginya harga BBM dan Gas di Indonesia tercinta ini. Berbagai alasan diungkapkan oleh Pemerintah kenapa harga BBM mesti dinaikkan. Mulai dari harga minyak mentah dunia naik, untuk bayar hutang negara, untuk subsidi silang anggaran pos lainnya seperti pendidikan dan kesehatan, dll.

Tapi Pemerintah sepertinya lupa bahwa dengan naiknya harga minyak mentah dunia, berarti Indonesia sebagai penghasil minyak juga mendapat keuntungan langsung. Justru secara logis harga BBM di Indonesia seharusnya menjadi lebih murah karena keuntungan yang didapat Pemerintah dari ekspor minyak ke negara lain.

Membicarakan krisis energi di Indonesia seperti melihat panggung lenong di TV. Karena apa yang dijadikan dasar membuat atau mengeluarkan kebijakan ternyata tidak sesuai dengan kondisi fakta di lapangan. Melihat realita di lapangan menjadikan diri ini mengalami kegundahan yang menyesak dan butuh saluran.

Kegundahanku itu antara lain terkait dengan mulai banyaknya SPBU non Pertamina yang bermunculan bahkan dalam jarak yang dekat sekali. Kalau kita perhatikan, dalam satu jalan besar ada sekitar dua atau tiga SPBU besar baik itu milik Pertamina atau non Pertamina. Padahal kalo melihat kondisinya katanya Indonesia sedang krisis BBM, tapi kok anehnya malah banyak SPBU baru yang bermunculan. Bahkan SPBU besar dalam artian mempunyai lebih dari 3 stasiun pengisian dengan berbagai jenis BBM. Belum lagi kalau kita melihat plang yang sering terpasang di beberapa SPBU kecil atau besar seperti “SPBU tutup sementara”, “Stok solar habis”, “Stok Premium habis”, dan sejenisnya. Semakin menambah tanda tanya besar di kepala ini.

Kondisi di atas seringkali menimbulkan pertanyaan-pertanyaan nakal di diri ini. Salah satunya, “jangan-jangan BBM nya Pertamina dijual ke SPBU non Pertamina itu, sehingga SPBU tersebut tidak pernah kehabisan stock”, atau “Jangan-jangan Pertamina menjual BBMnya ke SPBU non Pertamina agar dapat keuntungan langsung”, atau “mungkin Pertamina membatasi stock BBM bersubsidi yang dijual di SPBU Pertamina agar subsidinya kecil dan keuntungan dari penjualan BBM ke SPBU non Pertamina menjadi pemasukan disamping subsidi tersebut”. ;)

Jika benar pemikiran atau pertanyaan nakal itu, wah-wah bisa menimbulkan kekacauan dan ketidakpercayaan pada Pertamina dan Pemerintah dong ya.

Ditambah lagi sekarang ada berita di media tentang kenaikan Gas Elpiji. Waduh…semakin getir saja hati ini. Padahal belum lama ini Pemerintah sedang gencar melakukan program conversi minyak tanah ke gas untuk keluarga tidak mampu. Dengan alasan untuk mengurangi subsidi BBM dan harga Gas lebih murah. Weleh-weleh….masyarakat kembali dijerumuskan ke dalam kemiskinan dan kesulitan hidup oleh Pemerintahnya sendiri. Kalau sudah begini, kepada siapa mesti mengadukan ketidakadilan ini? Belum lama diumumkan harga Gas Elpiji naik, kembali lagi masyarakat harus dihadapkan pada keterbatasan persediaan Gas Elpiji di lapangan. Belum lagi kalo rencana Pemerintah untuk melepaskan distribusi gas ini kepada swasta, seperti yang terjadi pada BBM dan air. Waduh akan semakin terasinglah masyarakat Indonesia pada energy yang merupakan hasil bumi Indonesia sendiri.

Pertamina akan menutup dan melepas semua SPBU dan Gas nya dengan tujuan agar mereka tidak dibebabi dengan subsidi, dan menyerahkan sepenuhnya penjualan dan persediaan energi BBM dan Gas kepada swasta. Dan Pertamina akan mendapatkan keuntungan dari penjualan langsung ke SPBU dan Gas milik swasta, karena Pertamina tidak perlu mengeluarkan biaya operasional yang besar termasuk untuk mengekspor. Karena bagi SPBU dan Gas swasta juga akan menguntungkan jika mereka bisa membeli langsung dari Pertamina, toh mereka tidak mungkin membawa sendiri BBM dan Gas dari luar Indonesia. Ini dilakukan karena untuk menekan biaya produksi dan operasional sehingga BBM dan Gas yang mereka jual bisa lebih murah atau paling tidak sama dengan yang dijual di SPBU dan Gas Pertamina, sehingga harga bisa dikatakan bersaing lah. Selain itu, mereka tidak akan dibebani pajak bea dan cukai serta bea impor. Disinilah yang kemudian bisa disebut dengan pasar bebas dan globalisasi ekonomi sudah masuk ke ekonomi Indonesia, bahkan sudah mempengaruhi kebijakan ekonomi Indonesia.

Yang kemudian menjadi pertanyaan lebih jauh jika kondisi ini semakin nyata dilakukan adalah akan dikemanakan hasil keuntungan Pertamina itu? Apakah subsidi ini akan dilanjutkan kembali? Apakah Pemerintah akan menurunkan harga minyak? Apakah jika terjadi krisis energy lagi Pemerintah akan bertanggungjawab? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan nakal itu berpusing di kepala.

BBM?????????GAS???????????KRISIS ENERGI????????????????SOLUSI?????????????????SUBSIDI HILANG????????????????HARGA BBM TURUN??????????????????????KEMISKINAN????????????????????????ANTRI BBM?????????????????????

 

Akhir Agustus 2008 

Merenungi Kemerdekaan dengan segudang tanda tanya pada negeri ini, akan kemanakah bangsa ini nantinya????

 

 



Tinggalkan Balasan

dan lain-lain