Rumah Bintang Laut ku











{Mei 26, 2008}   Keliaran Sebuah Pikiran

Semburat orange itu mulai muncul di ujung langit sore. Alunan lirih musik jazzy klasik dan pop Indonesia berpadu dalam ruangan 4×4 m ini. Dua kepala dengan pikiran masing-masing asyik memelototi layar laptop Acer dan Toshiba. Jika ada yang dapat menangkap serat-serta pikiran manusia, mungkin kalian akan melihat serat-serat tersebut berterbangan di langit kamar ini. Berterbangan di udara, di atas kepala kami masing-masing untuk kemudian mendarat menjadi rangkaian kata dan kalimat penuh makna berdasar pengalaman hidup anak manusia ini.

Keseriusan berpikir melingkupi kamar ini, meskipun lontaran-lontaran pertanyaan, canda bahkan cumbuan menjadi selingan kami. Yach…jika diperhatikan lagi, serat-serat pikiran itu bukan berwarna kelabu seperti yang Dumbledore pernah lakukan terhadap serat pikiran Harry Potter. Namun, serat-serat pikiran kami tersaput warna orange yang menjadi sentuhan tersendiri bagi pikiran kami. Ya…semburat orange yang merupakan suatu energi positif yang membawa cinta dan kasih dalam pikiran-pikiran yang kami rangkai menjadi kata dan kalimat. Seperti quote kasihku ”work with love, live with love, and world will be wonderful”. Hmmm, berharap bahwa energi cinta dan kasih kami juga dirasakan semua orang di bumi ini, dimana makin gersang dan kering saja tanah serta air mata sang ibu, karena tergerus keserakahan dan keegoisan system yang bernama patriarch yang semakin meminggirkan dan melupakan sang ibu.

Tiba-tiba, ada loncatan sebuah serat pikiran yang entah milik siapa, aku atau kasihku, melenggang sendiri lepas dari dua gumpalan serat-serat pikiran kami. Serat pikiran yang liar berlari dan membawa rangkaian kata serta banyak menyemburatkan orange. Membuat ia berbeda dari yang lainnya. Energi yang ditimbulkannya pun sangat besar, kami berdua tidak bisa menghindarinya, sehingga kami pun silau dengan warna orange nya. Dan akhirnya, semua aktivitas dan keseriusan dua anak manusia ini terhenti sejenak karena loncatan serat pikiran orange liar tadi. Seperti ada daya tarik yang menyebabkan kami berdua makin dekat. Tahu apa yang terjadi?

Rangkaian kata tidak lagi menjadi hiasan di layar laptop, namun sudah jauh melampaui itu. Kata-kata itu berterbangan dan merangkai kalimat indah sendiri di langit-langit kamar, memenuhi udara ini dengan nafas cinta dan warna orange. Menyesak dan menyeruak dari ruangan ini, dan membuat semburat orange sendiri di keluar kamar, mencoba mengalahkan semburat orange yang juga seharusnya sudah banyak muncul di ujung sore ini. Memang tiada seorang pun berpikir sekuat apa energi cinta dan kehidupan yang dipenuhi cinta. Saat ini, kami hanya bisa menikmati rangkaian kata dan kalimat yang tidak terucap di bibir kami, tapi berterbangan merangkai sendiri sesuka hati, di udara, di kepala kami dan kami hanya bisa menari mengikuti liuk semburat orange itu berloncatan, ditingkapi gelegar tetabuhan dari saling bertabraknya loncatan-loncatan pikiran dan semburat orange itu.

Ya…pelangi itu ada di hati dan mata kami, begitu pun matahari menghangatkan tubuh kami dan bintang pun membuat hati kami bercentil ria dengan kerlipnya…

Love can make us different, live with love, work with love, so, the world would be wonderful, dear. Thanks to your great love to me…

Dan rangkaian kata indah kembali mengular berterbangan di ruangan ini…

Penuhkanlah bejana hati ini dengan cinta mu

Biarkanlah penuh dan penuh, agar orang lain juga merasa keindahan cinta kita, kasihku

Aku tidak ingin egois dengan cinta kita ini kasihku

Karena cinta kita bukan cinta terlarang

Cinta kita adalah cinta yang tulus

Cinta kita adalah cinta yang apa adanya

Yang mencoba jujur pada semua orang

Yang mencoba menjadi cinta sendiri tanpa rekayasa

Yach…cinta kita ini adalah cinta dua manusia kasihku

Yang Tuhan pun tidak akan marah karena cinta ini bagian dari kreasinya

Bersyukurlah aku karena merasakan cinta yang sebenarnya ini.

Gedong, 21 Mei 2008 15:00



{Maret 17, 2008}   Aku dan Suatu Pagi

Pagi itu, Jumat 14 Maret 2008, seperti biasa, ku terbangun dari tidur karena cahaya remang yang menelusup ke kamar diantara sela kertas penutup jendela kamarku. Tak ada firasat apapun aku akan mengalami kecelakaan kecil menuju kantor.

Dengan semangat pagi ditingkahi kicau Sriti yang semakin banyak saja berterbangan di depan rumah, ku menghentikan Carry merah bertuliskan angka T06 di kaca depannya. Yach, dengan kendaraan umum inilah aku terbiasa berangkat menuju tempat kerja. Tak lama memang, hanya 10-15 menit saja. Bahkan aku tak menemui macetnya jalanan Jakarta seperti yang kawan-kawan temui tiap hari di jalan-jalan utama Jakarta. Paling mungkin hanya menemui ramainya mobil berlalu lalang mencari jalan alternatif menghindari kemacetan yang semakin parah.

Pagi itu, Jakarta tak terlalu macet, namun mendung masih menggelayutseperti pagi-pagi kemarin. Perjalanan yang singkat ini aku nikmati dengan memperhatikan rumah-rumah sepanjang jalan Tengah yang ternyata semakin padat dan mengalami perubahan yang drastis. Rumah yang dahulu mempunyai beranda sekarang berubah menjadi rumah toko yang berjejer semakin rapat.Tanah kosong yang dulu menjadi tempat kambing merumput, sekarang menjadi komplek rukan atau ruko. Sepertinya mereka merasa rugi jika tidak memanfaatkan sejengkal tanah yang mereka punyai. Hmmm…, pesat sekali perkembangan jalan Tengah ini. Menurut cerita ibu pedagang pasar Induk Kramatjati yang selalu berbarengan naik T06 , jalan Tengah tahun 1995an dulu masih jalan kampung, belum dipoles aspal yang mengkilap, masih banyak kebun di kanan-kirinya, bahkan ada beberapa ruas jalan yang masih gelap gulita. Tetapi, dalam waktu lebih dari 10 tahun ternyata sudah sangat berubah. Bahkan, setiap sore sekarang ramai berjejer pedagang gerobak maupun tenda yang menjajakan aneka makanan.

Kadang terpikir, ini jualan rapet banget…apa ada celah untuk rejeki menyelip diantara gerobak itu? Tapi ternyata tetap saja Tuhan Maha Pemurah…masing-masing gerobak mempunyai rejeki yang mampir dan terselip di jari-jari rodanya. Sungguh lebat pohon rejeki itu, sehingga tiap orang dapat merasakan nikmat buahnya.

Kondisi seperti di atas tentu saja membawa dampak bagi orang-orang sekitar jalan Tengah ini, termasuk aku dan kawan-kawan di tempat kerja. Misalnya, dulu setiap kali mau makan siang hanya ada pilihan warung makan di jalan Baing atau warteg depan gang Nasih. Sekarang jangan tanya lagi…, mau pecel ayam, pecel lele, soto, gado-gado, bubur ayam, tongseng, sampai gorengan dijamin ada deh.

Jumat 14 Maret 2008, karena keasyikan merenung, tempat kerja dah di depan mata. “Bang, pinggir ya…”, ucapku tak begitu keras, karena penumpang cuma tiga orang. Aku pun turun dengan hati-hati, tapi ternyata tak menjamin aku selamat kawan. Begitu kaki menyentuh tanah yang sekarang sudah tertutup gundukan semen yang aku tidak tahu kapan adanya, tiba-tiba kaki ku pun keseleo.

Duh…badan berasa lemah tak bertenaga…semua tenaga seperti hilang diserap gundukan semen itu. Masih berdenyut kaki ini aku paksa berdiri untuk membayar tarif angkot ke abang supir. Aku pun istirahat sebentar dengan bersandar pada batang pohon yang masih berdiri disamping tiang penerang jalan. Ternyata, keasyikanku menikmati perjalanan membuat aku lupa akan kewaspadaan diri.

Keteledoranku itu membuat aku mendapatkan bengkak di kaki kananku. Yang hingga saat ini masih saja membuat aku tertatih melangkahkan kaki. Semoga ga berlangsung lama karena dokter menyarankan operasi guna merekatkan cukilan kecil dari tulang engselku.

Hmmm…kisahku di suatu pagi.

17 Maret 2008, senja menjelang



Innalillaahi Wa Inna Ilaihi Rojiun ….
Telah berpulang dengan damai kepangkuan Tuhan YME Ibu Mardiyem Survivor ex Jugun Ianfu dari Yogyakarta, Hari Kamis, 20 Desember 2007, Pk. 22.30 Wib
Semoga api perjuangan Ibu Mardiyem terus menyala dan diteruskan generasi muda …

Itulah sebaris kalimat yang terpampang di layar monitor komputer dan HP ku. Terpana sejenak dan kehilangan kata ketika aku membacanya. Semua kisah yang aku baca, aku lihat ataupun aku dengar langsung terngiang dan melintas silih berganti dalam kepalaku.

Hening…

Tanggal 20 Desember 2007 bertepatan dengan hari raya Idul Adha dan 2 hari menjelang hari Ibu yang merupakan hari paling penting bagi perjuangan nasib perempuan di Indonesia.

Yach…Guru Senjaku sepertinya sudah meminta ijin Tuhan untuk dipanggil ke kasih sejati Nya di hari itu. Hari yang jika kita tengok lebih jauh menjadi hari pengingat bagi umat manusia.

Berbahagialah Guru Senjaku

Ibu Mardiyem adalah salah seorang survivor ex Jugun Ianfu –korban perbudakan seksual semasa pendudukan tentara dan sipil militer Jepang di Indonesia tahun 1942–.

Sudah hampir 10 tahun dia berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah Indonesia, Jepang dan dunia bahwa memang sudah terjadi perbudakan seksual terhadap perempuan-perempuan muda di beberapa negara. Bahwa itu bukanlah pekerjaan seksual yang dengan sukarela dilakukan. Tapi ada praktek-praktek penipuan dan kekerasan serta eksploitasi seksual di dalamnya yang dilakukan oleh pemerintah Militer Jepang.

Pun beliau juga berjuang untuk mendapatkan permintaan maaf dari Pemerintah Jepang sebagai yang bertanggung jawab atas perbudakan seksual yang telah menghancurkan masa depan dan hidup perempuan-perempuan muda yang cerdas dan menghempaskan mereka pada jurang kenistaan sebagai seorang perempuan, sebagai budak seks yang jauh dari perikemanusiaan.

Diantara gurat ketuaan dan lembar-lembar ingatan yang seringkali terselip dalam memori hidup 80-an tahun lebih…dia masih bersuara lantang dan menantang manusia-manusia muda untuk tidak begitu saja melupakan sejarah bangsanya yang tidak lepas dari pengorbanan dan perjuangan perempuan-perempuan.

Jangan melupakan kami yang sudah mengorbankan jiwa, raga dan martabat kami sebagai manusia dan sebagai seorang perempuan untuk negeri ini. Yang semuanya dirampas dari kami disaat kami bahkan berusia lebih muda dari kalian.

Mungkin itulah yang ingin disampaikan beliau selama ini. Tapi ternyata semangat dan keberanian dia menguak jati diri dan pengalaman pahit hidupnya sehingga pandangan negatif dan perlakuan yang tidak manusiawi yang dipanennya tidak begitu saja menggugah jiwa-jiwa pemimpin dan masyarakat bangsa ini.

Kepergian yang Membahagiakan?

Kepergiannya seperti pukulan yang memalukan bagi kami yang muda ini. Kami masih mempunyai hutang pada para survivor tersebut. Apa yang diperjuangkan belum selesai, bahkan kami merasa belum membuat dan menghasilkan apa-apa bagi perjuangan mereka.

Advokasi yang pasang surut dan tidak adanya advokasi secara serempak dan berkelanjutan menjadikan advokasi jugun ianfu di Indonesia seperti berjalan di tempat. Dibandingkan dengan advokasi di Belanda, Korea, Taiwan, Phillipine, Singapore, Timor Leste dan lainnya kita kalah jauh. Mereka bahkan sudah go internasional dan bahkan sikap pemerintahnya sudah sangat mendukung upaya dilakukan permintaan maaf dari Jepang kepada survivor dan desakan pelaksanaan pengadilan internasional tentang jugun ianfu.

Berharap pengorbanan yang dilakukan survivor dan kepergian Ibu Mardiyem di hari raya Idul Adha yang identik dengan sikap pengorbanan dan juga hari Ibu yang identik dengan kebangkitan merebut dan memperjuangkan hak-hak perempuan menjadi tonggak sejarah kebangkitan advokasi jugun ianfu di Indonesia. Semangat inilah yang mesti kita pegang terus sebagai komitmen bersama dan menjadi resolusi di tahun depan.

Semoga kepergian Ibu Mardiyem menjadi kepergian yang membahagiakan karena akan mendapatkan kasih yang sejati dari Yang Maha Memiliki Hidup dan Yang Maha Pengasih. Dan kepergian yang menjadi pengingat kami generasi muda agar terus melanjutkan apa yang sudah dirintisnya dan melaksanakan pesan beliau agar kita generasi muda terus berjuang untuk kehidupan yang lebih baik.

Guru Senjaku,

Semoga kau bahagia dan tersenyum bangga di atas sana ketika melihat anak cucumu mengikuti perjuanganmu dan memegang erat pesanmu.

Do’a kami untuk Guru-Guru Senja yang sudah mendahului karena usia dan derita yang ditanggung seumur hidupnya.

Kami malu karena belum berbuat apapun untuk Guru-Guru yang Senja ini.

Namun, Senja bukanlah penghabisan

Karena dia akan selalu muncul dengan warna yang berbeda.

Senja selalu indah untuk dikenang dan tidak mudah dilupakan.

Kami akan melukis senja di hati kami.

Dan menjadikannya semangat hidup untuk menapaki kehidupan esok.

Selamat jalan Guru Senjaku

Kebenaran yang hakiki akan kau dapatkan disisi Sang Maha Kasih

In memoriam Suhanah, Mardiyem dan Guru Senja lain yang tak berkabar

Honourable for their brave heart and struggle to live

 

Renungan akhir tahun, 28 Desember 2007



Perempuan di sudut ruangan itu masih nampak tegas dan tegar, meski kerutan tua banyak menghiasi wajahnya. Dia tidak memusingkan kerutan itu –seperti yang banyak dipusingkan perempuan jaman sekarang–. Dia hanya pusing dengan nasib yang harus dia terima –suka atau tidak–, selama bertahun-tahun ini. Bagaimanapun pahitnya anggur kehidupan itu, terpaksa dia harus menenggaknya, bahkan sampai mati pun akan tetap membasahi rongga mulutnya, terus turun ke rongga perut dan saluran kencingnya dan hilang di sungai kehidupan.

Kau amatilah wajahnya sekali lagi, lebih teliti. Tiadakah kau lihat, mata itu sangat dalam menyimpan rahasia kehidupan sekaligus kenestapaan dan kemarahan. Air mata sepertinya lama tidak menjamah sudut mata tajamnya. Apakah air matanya sudah habis dialirkan di masa mudanya dulu? Atau memang air mata tidak mampu lagi membasahi luka hatinya? Siapa yang tahu, jikalau kelukaan itu tertoreh dalam di hati dan jiwanya?

Terbayang dia bercerita dengan ekspresi wajah yang setiap detik akan berubah. Secepat berubahnya riak air di lautan, terkadang menyenangkan, tiba-tiba keras menggempur, lalu tenang kembali untuk kemudian bergelombang ke sana ke mari. Seperti juga kehidupan nya yang penuh perjuangan untuk tetap hidup, tuk menitipkan amanah pada yang muda. Agar apa yang dialaminya, seluruh kehidupannya, menjadi bekal dan penghayatan bagi yang muda ini. Untuk tidak memperlakukan mereka yang lemah dengan semena-mena atau berbelas kasihan. Tapi bagaimana mereka dianggap sebagai manusia, itulah yang mereka inginkan.

Separo lebih hidupnya dilewati dengan menyembunyikan dirinya yang sejati. Sambil berharap ada yang peduli dengan perjuangannya itu. Namun, setengah abad lebih tetap juga angannya itu belum terwujud. Bagi beberapa temannya, angan itu dibawa hingga mata ini menutup selamanya. Kesakitan fisik dan psikis, melingkupi dia dan teman-temannya. Satu per satu digerogoti umur dan digigiti penyakit akibat perlakuan bejat durjana Jepang.

Hanya semangat untuk mewariskan sejarah kehidupannya pada yang muda lah yang menjadi doa abadi. Menggugah semua mata dan jiwa untuk peduli pada nasibnya, paling tidak menuntut dikembalikannya martabat mereka sebagai manusia dan permintaan maaf dari Jepang.

Yach…hanya itulah yang mereka harapkan. Para Jugun Ianfu itu tidak meminta uang imbalan dari penderitaan mereka. Setelah bertahun-tahun menjadi budak seksual tentara Jepang, dengan perlakuan yang tidak manusiawi dan diputus dari kehidupan ‘normal’ nya. Para Jugun Ianfu hanya menuntut diakuinya tindakan perbudakan seksual oleh tentara Jepang sebagai bagian dari pendudukan Jepang, dan oleh pemerintahan Indonesia sebagai sejarah gelap bangsa yang harus terkuak, bukan aib bangsa. Oleh karenanya Pemerintah Jepang harus meminta maaf kepada semua para Jugun Ianfu atas kejahatannya memperlakukan mereka. Pun Pemerintah Indonesia juga harus berkewajiban membela dan memperhatikan hak-hak para Jugun Ianfu yang terabaikan selama ini. Pun masyarakat termasuk kita sebagai yang muda untuk tetap menjadi lidah penyambung tuntutan mereka.

Semoga, sang umur masih berteman dengan para Jugun Ianfu agar semangat mereka menjadi guru kehidupan bagi yang muda.***

Kp. Tengah, jelang tarawih, 260906



{September 10, 2007}   Kacamata ku

Setiap mendengar kata kacamata, pasti yang terbayang adalah benda bartangkai di dua sisinya dan terdapat dua kaca/lensa di depan. Berfungsi untuk membantu mata melihat sesuatu agar lebih jelas.

Aku mempunyai pengalaman yang menarik yang terkait dengan kacamata ini. Berawal dari mimpi yang aku alami semalam. Dalam mimpi tersebut, aku mendapatkan suatu kejadian yang menggangguku. Yang kemudian aku ceritakan pada temanku Jo. Bukan aku percaya pada makna mimpi, namun karena tidak tahu mengapa, dalam satu diskusi di kamar (??? ;) ) aku menceritakan begitu saja mimpiku itu pada Jo, yang ternyata ditanggapi agak serius oleh Jo dengan falsafah-falsafah hidupnya dan analogi peristiwa yang baru saja kami alami.

Estoe: Semalam, aku bermimpi kalau kacamataku pecah karena didudukin orang. Dalam mimpi tersebut, aku kemudian sedih karena tidak bisa menggunakan kacamata itu lagi dan harus memperbaikinya dengan biaya yang tidak murah. Aku kemudian berusaha memperbaiki kacamata itu, meski aku yakin tidak bisa, tapi aku terus sibuk dengan upaya perbaikan itu, tanpa ada kepedulian terhadap sekitar. Dalam kata lain aku justru terfokus dengan pekerjaan yang sia-sia karena sudah pasti tidak bisa. Menurutmu bagaimana Jo?

Jonathan: Wah…itu dia, tandanya kalau kamu harus berhati-hati dan harus selalu menjaga cara pandangmu dalam melihat sesuatu yang lebih luas dan jernih. Jika kacamata mu rusak atau pecah itu artinya kamu harus menjaganya dari orang-orang yang jahat yang akan menggunakan kacamatamu untuk melihat hal lain atau merusaknya agar kamu tidak dapat melihat hal-hal yang indah dan lebih jelas. Artinya kamu akan dibutakan karena tiadanya kacamata itu. Dan akhirnya kamu disibukkan untuk memperbaiki alat itu tanpa kamu melihat alternatif lain bahwa kamu bisa melihat tanpa kacamata itu walau tak sejelas kalau memakai kacamata.

Estoe: Hmmm, kamu cerdas juga Jo kalo lagi gila begini (seperti biasa, Jo berwajah ‘kriting’ dan selalu menghunjamkan tinjunya ke apa saja dan siapa saja yang ada di sekitar dia, jikalau sedang pusing atau banyak pikiran). Balik ke kacamata dan falsafahmu tersebut, dalam peristiwa atau keadaan saat ini, yang katanya perlu ‘caracter building’, kacamata bisa diibaratkan sebagai alat untuk melihat dan menajamkan penglihatan kita akan sesuatu. Jika ini yang dimaksud, memang bener kita harus menjaga kacamata kita itu baik-baik. Karena dengan alat bantu itu, ada kemudahan dan keuntungan yang kita dapat. Dan yang perlu diingat Jo, kacamata yang dipakai bisa berbeda-beda di masing-masing orang. Atau, bisa juga ada yang sengaja memakai yang tidak sesuai dengan ukuran/kebutuhannya, sehingga apa yang dilihatnya justru tidak sebagus aslinya. Atau, bisa juga orang tersebut melepas kacamata dan memilih tidak memakainya karena masih dapat melihat meski tidak dari jauh dengan alasan tidak mau dibatasi pandangannya.

Jonathan: Iya sich, tapi dalam kasus dan peristiwa ini, kamu harus tetep menjaga kacamata itu untuk tidak diambil atau dirusakkan orang lain. Karena itu adalah kacamatamu. (Jo masih tetap berusaha mempengaruhiku untuk mengambil kesempatan dan kepercayaan dari teman-teman dan mengibaratkannya dengan kacamata yang harus dijaga tersebut). Karena kacamata kamu itu akan memperbaiki pandangan kita semua dan memperjelas semua hal yang mungkin selama ini tampak suram. (rona masam masih membayang di wajah Jo karena kesal dengan pengelakkanku).

Estoe: Oke lah Jo, aku akan berusaha menjaganya, tetapi tidak janji apakah akan mempergunakannya atau tidak, karena mesti melihat dulu apakah sesuai dengan ku atau tidak kacamata itu setelah diperbaiki.

Kawan, jangan berpusing ketika membaca tulisan ini. Ini hanya perbincanganku dengan seorang kawan baik yang selalu berkontemplasi dengan pikiran-pikirannya. Seorang muda yang cerdas yang terkadang sedikit memaksakan pemikirannya tersebut.

Yang jelas, aku sangat berterimakasih dengan perbincangan dan diskusi menjelang tidur di beberapa bulan ini, yang membuatku semakin menyadari arti dari persahabatan, kepercayaan, dinamika pikiran dan kasih sayang, yang semakin tereksplorasi dari diriku. Bahwa bagaimanapun keadaan kita, ternyata masih tetap ada yang membutuhkan dan mempercayai kita. Hanya keberanian mengambil peran dan melakukan pengorbanan serta dukungan dari semua itu lah yang mesti terus dikembangkan dalam jiwa untuk membentuk suatu karakter yang kuat bagi kehidupan ke depan.

(renungan di medio Desember 2006)



{Juli 5, 2007}   Semalam Hujan, Sahabat….

 “Tapi aku ingin mencintai dan saling mencintai, Tin…”, ungkapmu tegas ketika aku mengingatkanmu. Aku hanya bisa sedikit berfilosofi bahwa memang pemaknaan akan cinta bagi tiap orang berbeda, dan itulah yang menyebabkan mengapa cinta begitu sulit disatukan.

Kau pun terdiam lama, hingga akhirnya meluncur kata-kata putus asa atau hanya upayamu menghindari kenyataan. “Aku letih, Tin….”

Aku pun ikut terdiam. Kamar pun hening, membiarkan bergulung-gulung kalimat berpendar di langit-langit tanpa tahu kapan akan membumi.

***

Hujan malam ini turun hanya sebentar, menyapa gersangnya bumi, aku terbuai feromon yang disebarkan bumi karena hujan. Kunikmati heningnya malam yang penuh stimulus ini, hampir klimaks, ketika bunyi SMS membuyarkan gairah. Dengan malas-malasan aku mengambil HP tua itu dari meja. Masih dengan mata setengah menarawang, ku tahu itu darimu Argo.

“Ada apa lagi ini ya…tengah malam begini SMS, ganggu orang terbuai angan saja…” gumamku.

Terbaca di layar, “Tin, Riry sayang padaku, tapi dia tak bisa menikah denganku, karena dia tidak mau meninggalkan pacarnya. Karena dia kasihan dengannya. Aku jadi kacau nih.”

Aku termenung sebentar, ada getar aneh menelusup hati. Senang? Sedih? Simpati? Sayang? Entahlah… Aku tidak tahu. Yang jelas, aku sudah mempunyai feeling akan kejadian ini. Bukankah ini yang aku harapkan dari semua yang kau ungkapkan?

Akupun membalas SMSmuu dengan berlagak menjadi teman yang bijaksana. “Ya sudahlah Go, jika Riry sudah mengambil keputusan seperti itu. Bukankah menjadi jelas pertanyaanmu selama ini? Hargai keputusan dia dan jangan kamu memaksanya untuk meninggalkan pacarnya itu.”

“Aku tidak memaksanya Tin, aku justru yang menyarankan dia untuk tidak meninggalkan pacarnya. Hanya… Aku meminta dia untuk tidak meninggalkanku saat ini saja”, begitu balasmu.

“Ya baguslah kalau begitu. Yang sekarang harus kamu lakukan adalah istirahat menenangkan jiwam, dan mengalihkan energi cintamu ke hal-hal yang lain. Jangan bersedih, sungguh sayang jika energi cintamu yang besar itu disia-siakan”, aku pun membalasnya.

“Aku berusaha untuk tidak bersedih! Tapi ada getar aneh yang membuatku tidak mampu menahan air mata ini!” balasmu segera.

Lama jariku melayang di atas keypad ini, bingung mau menjawab bagaimana. Jika kau ada disampingku saat ini Argo, ingin kurengkuh tubuhmu yang kurus itu. Ingin ku temani kamu dalam sedihmu.

“Argo, rasakanlah udara malam ini, rasakan hembusan anginnya… Aku ada disitu…memelukmu, membelaimu dan menemanimu”, tiba-tiba tertulis seperti itu di layar HP dan sudah terkirim. Aku tercenung dengan isi SMS yang barusan kukirim. Lama tidak ada jawaban. Aku pun bersiap tidur kembali. Nit…nit…nit… baru rebahkan tubuh ketika akhirnya ada bunyi SMS dan aku menduga darimu. Benar!

“Makasih Tin, aku akan berusaha untuk tidak sedih. Kamu baik sekali teman. Hanya kamu seorang yang dengan tulus menyayangiku.

Aku terdiam setelah membaca SMSmu itu. Dan memutuskan untuk tidak membalas, mencoba beristirahat.

***

“Aku kesepian Tin,” kembali muncul SMS darimu. “Aku butuh teman Tin, malam begitu menakutkan” lanjutmu.

Dengan nyeri di dada, aku membalas “Aku akan menemanimu Argo, jangan pernah bersedih dan jangan pernah merasa kesepian”.

“Aku sepertinya depresi Tin, kadang gembira banget, tapi kalau sedih, sedih banget. Aku butuh teman Tin”, SMS balasanmu seperti itu.

Dengan sedikit emosional aku menjawab, “Argo, kamu jangan terpuruk begitu dong!. Resiko orang mencintai adalah diterima atau ditolak. Kamu harus sadari itu”.

“Nasib cintaku memang tragis Tin. Ketika banyak yang memilihku, aku memilih yang lain. Ketika aku memilih, dia memilih yang lain” lanjutmu.

“Kata orang bijak, berbahagialah orang yang dicintai banyak orang, karena energi positif dari cinta membawa kebaikan”, kembali aku mencoba berbijak dengannya. Curahan hati Argo cukup menguras energi dan perasaanku.

“Tapi aku tidak sepertimu Tin, yang bisa mencintai tanpa mengharap balas apa pun. Kamu begitu kuat dan teguh. Sedangkan aku… Kelihatannya saja kuat dan mandiri, padahal rapuh dan putus asa”, balasmu.

Bagai dihantam godam, perasaanku yang selama ini aku pendam menjadi bergolak. Aku marah membaca SMSmu.

“Kamu salah jika menilai aku seperti itu! Aku ingin dan berharap balasan akan cintaku itu. Tapi aku tahu diri sampai dimana pengharapanku!” balasku.

Sepertinya, kamu menyadari kemarahanku, karena kamu pun kemudian buru-buru minta maaf.

Kamu pun membalas “Makasih Tin…Aku letih banget jiwa dan raga…Dadaku sesak banget, kalau malam air mata tidak bisa ditahan, mengalir terus”.

Dengan sedikit sesak dan getir yang menyeruak, aku menutup pembicaraan lewat SMS ini. “Istirahatlah, semoga energi cinta dari orang-orang yang mencintaimu, kan melingkupimu, menjagamu dan menguatkanmu…”

“Terimakasih Tin, semoga aku kuat…aku kuat…aku kuat…” SMS terakhirmu malam ini.

***

Selasa sore kamu menghubungiku, memintaku menemanimu mencari kamera untuk keperluan kerja. Dan kau pun menjemputku untuk pergi ke Benhil. Setelah kamu mendapatkan apa yang kamu cari, kita pun pulang ke rumah yang sudah kau anggap rumah sendiri. Rumah di mana kamu merasa nyaman tinggal di dalamnya dan bisa berlama-lama tidur sampai pagi.

Saat kita berdua terhanyut musik yang mengalir dari compo di pojok ruangan kamarku, kamu pun mulai menceritakan hal yang membuatku semakin getir dan nyeri.

“Tin, pernahkah terlintas keinginan untuk menikah?” tanyamu.

“Aku ingin menikah jika ada kesempatan, jika ada yang mengajak dan ada yang mau diajak menikah”, jawabku.

“Aku sekarang sedang merasakan dorongan yang kuat untuk menikahi seseorang”, lanjutmu.

Aku terdiam, sedikit berharap dia akan menyampaikan hal yang terindah.

“Kenapa kamu berkeinginan untuk menikah, Argo? Bukankah kamu merasa trauma untuk menuju ke pernikahan, karena kamu mendapatkan contoh yang kurang sempurna tentang pernikahan dari lingkunganmu? Keluargamu, teman-temanmu?”, tanyaku mencari kepastian.

“Aku juga tidak tahu. Tapi dorongan ini begitu kuat. Seperti ada yang mengatakan –kamu harus menikah dengan dia– begitu berkali-kali”, jawabmu.

“Siapakah perempuan yang beruntung itu?”, tanyaku.

“Dia Riry teman sekantorku. Dia tidak cantik tetapi cerdas dan beda dengan perempuan kebanyakan. Seperti juga perempuan-perempuan yang dekat denganku. Hanya saja, aku merasakan hal yang beda jika berjalan dan berbincang dengan dia” jelasmu panjang.

Gedubrakkk!!!

Hatiku serasa berhenti mengalirkan darah ke seluruh tubuhku. Aku seperti kehabisan oksigen untuk sementara waktu. Hening sejenak. Aku teringat Argo dulu pernah bercerita kalau ada teman sekerjanya yang baru. Tapi dia tidak dekat dan tidak mempunyai perasaan apapun dengannya. Ternyata selama ini sudah terjalin komunikasi yang mendekatkan mereka. Ku tata hatiku untuk berdenyut lagi.

“Terus, bagaimana dengan dia? Sudah kamu ungkapkan kepadanya keinginanmu itu?”, tanyaku lagi.

“Dia juga merasakan hal yang sama denganku. Dia merasa beda dan nyaman ketika jalan denganku, menghabiskan waktu senggang denganku. Berbeda ketika dia jalan dan menghabiskan waktu bersama dengan kekasihnya. Dia ingin menikah secepatnya tetapi kekasihnya belum ingin cepat-cepat menikah. Dia tidak bisa meninggalkan kekasihnya karena itu pernah terjadi sebelumnya dan dia merasa bersalah”, ceritamu.

Aku hanya bisa menghela nafas dengan berat dan terpekur beberapa saat.

“Terus, bagaimana dengan kekasihmu sekarang? Yang sudah lama kamu jalin?”, tanyaku.

“Itulah… Orangtuanya sudah mendesak-desak kami untuk segera menikah. Karena melihat hubungan kami sudah cukup lama dan serius. Tapi aku tidak ingin menikah dengannya. Sudah tidak ada rasa lagi diantara kami”, jelasmu.

“Tapi, kenapa tetap kamu jalani hubungan seperti itu, jika sudah tidak ada rasa cinta lagi?’, sergahku.

“Itu hanya karena aku tidak bisa menghindar dari balas budinya. Dia terlalu baik. Dia yang menyelamatkanku dari kekacauan hidupku di masa lalu. Aku tidak bisa menolaknya”, lontarmu berapologi.

Aku kembali terhenyak. Terpikir olehku, apakah semua laki-laki akan menjerumuskan dirinya dalam balas budi? Apakah laki-laki tidak bisa membedakan antara balas budi dan cinta kasih? Ataukah laki-laki begitu jahat memanfaatkan kebaikan dan rasa sayang dari seorang perempuan yang peduli dengan hidupnya? Semakin aku terpusing dengan pikiranku sendiri.

“Lantas bagaimana rencanamu ke depan berkaitan dengan keinginanmu menikahi Riry?”, tanyaku lebih lanjut.

“Berat juga sebenarnya. Tapi aku harus lakukan hal ini”, jawabmu pendek.

“Kamu tidak bisa menggantung cinta seorang perempuan Go. Kamu harus memberikan kejelasan status, sekali pun itu sulit dan menyakitkan bagi semuanya. Kamu harus ungkapkan dan jelaskan kondisi serta keinginanmu kepada kekasihmu dan juga Riry. Kamu harus lakukan itu. Secepatnya lebih bagus. Lebih baik sakit di awal daripada sakit di belakangan hari, yang berarti akan lebih sakit jadinya. Jika kamu ingin mendapatkan kebahagiaan, kamu harus mengusahakannya sekuat tenaga. Dan harus memikirkan resikonya juga, baik yang menyakitkan maupun yang menyenangkan”, jelasku panjang lebar mengingatkan dia.

Aku tidak ingin perempuan-perempuan itu tersakiti lebih lama. Utamanya kekasih Argo yang sudah begitu lama menjalani ketidakjelasan hubungan dengan Argo.

“Yach…aku memang harus memutuskan hal ini. Aku akan menyelesaikan hubunganku dengan kekasihku dan bicara baik-baik dengan orang tuanya. Bersamaan dengan itu, aku akan ungkapkan perasaanku pada Riry dan mengajaknya menikah. Semoga semuanya bisa berjalan dengan baik”, harapmu kemudian.

Hening kembali menyergap kamar ini. Aku dan Argo berkecamuk dengan pikiran dan perasaan kami masing-masing. Sampai pagi datang kami masih dalam pikiran masing-masing tanpa bisa istirahat.

***

Pagi di akhir Agustus, kicau burung gereja masih saja tak lelah mewarnai depan kamarku. Seakan tidak pernah lelah jalani hidup dan tanggungjawab. Semalam hujan turun dengan enggannya. Seperti diriku enggan jalani hidup pagi ini. Tanpa kusadari, ku terperangkap dalam cinta tak bersambut. Cinta kepada seorang sahabat. Cinta yang untuk kesekian kalinya tertampik. Hanya bisa menunggu dan berharap. Sampai kapan pencarianmu, sahabat? Sampai di mana perhentianmu, sahabat? Di sini menunggu hati yang siap kamu labuhi, sebagai perhentianmu yang sudah di ujung masa. Namun, kusadar akan sia-sia jika terus menunggu, menjadi dermaga bagi hatimu. Aku harus berani bertransformasi diri. Aku tidak ingin menjadi dermaga bagi biduk yang ingin berlabuh. Aku ingin menjadi setetes hujan, yang bebas, mempunyai keinginan, yang akan jatuh kemana nanti itu adalah pilihan sadarku. Yach, aku ingin menjadi setetes hujan bagi diriku sendiri dan bagi makhluk lain. Waktu dan tempat yang tepatlah yang menjadi pilihanku untuk aku bisa menjatuhkan diriku, yang akan memberikan kesegaran dan harapan baru bagi yang menerimanya. Seperti setetes hujan yang menyegarkan bunga di depan kamarku. (erf) 



{Juni 25, 2007}   LARON

Jarum pendek jam dinding di ruangan kerjaku telah berpindah ke angka 5, yang berarti, jam kerjaku sudah habis. Sebentar lagi pasti riuh ruangan ditingkahi orang-orang beberes siap pulang atau pergi ke acara lain untuk sekedar refreshing. Aku masih termenung memandangi jarum pendek tadi yang sepertinya tidak rela bila harus selalu didahului satu putaran jarum panjang. Hal ini membuatku berpikir, sebenarnya, lebih dahulu yang mana yang diciptakan? Jarum panjang atau jarum pendek? Seperti juga aku selalu berpikir mengenai penciptaan laki-laki dan perempuan, yang sampai saat ini banyak mitos melingkupinya. Apakah benar Adam diciptakan lebih dulu dari Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam untuk menemaninya? Ataukah Hawa dan Adam sama diciptakan sebagai manusia dari segumpal tanah? Ataukah Adam dan Hawa merupakan satu hasil evolusi sempurna dari makhluk-makhluk primata?

Semakin aku memperhatikan jarum itu berputar, semakin banyak pula pikiran-pikiran ngelantur melingkupi kepala. Karena semakin pusing dengan pikiran ala filsuf itu, dengan berat hati aku memutuskan rajutan benang lamunanku. Akhirnya aku pun merapikan meja dan bersiap pulang.

***

Menyusuri jalan kecil ini sehabis hujan deras selalu saja mengingatkanku akan suasana di kampung. Sebuah desa miskin dan gersang di wilayah yang merupakan lumbung padi. Terkadang aku berpikir, apakah ini suatu hukuman terhadap desaku yang menurut tuturan nenek, dulunya dikenal sebagai tempat persembunyian para gali. Sejak kecil, aku selalu keras menolak hal ini dan menyalahkan penguasa yang pilih kasih melakukan pembangunan desa. Orang desaku baik-baik dan pekerja keras, anak-anaknya lucu-lucu. Bukan suatu penggambaran dari turunan begundal. Kalaupun iya, tidak semua keturunan begundal ikut menjadi begundal. Tapi, kenapa kami-kami harus menerima hukuman dengan kemiskinan desa kami ini? Ini adalah pemikiranku, karena ibuku selalu mengajarkan bahwa manusia dan makhluk ciptaan Tuhan mempunyai dua sisi kehidupan, baik dan buruk. Terserah makhluk itu sendiri akan menjadi buruk atau baik. Meski tidak dipungkiri lagi faktor eksternal kehidupannya ikut menyumbang pembentukan pribadinya. Desa Tritis, itulah nama desaku. Berasal dari kata Tritisan yang dalam bahasa Jawa artinya beranda, emperan atau pinggiran. Seperti namanya, desaku hampir selalu terpinggirkan dalam segala hal, termasuk pembangunan. Jadi sudah menjadi kebiasaan masyarakatnya untuk selalu berusaha sendiri dalam mencukupi dan memakmurkan desanya. Termasuk juga anak-anaknya. Sehabis hujan deras seperti saat ini, kami akan segera saja keluar rumah untuk mencari liang gonteng1) , yang berarti disitu nanti akan banyak laron keluar. Berarti juga, akan makan enak karena ada lauk makan teman nasi jagung2) atau nasi tiwul3). Setelah terkumpul banyak, laron-laron tersebut dihilangkan sayapnya untuk kemudian dibikin rempeyek atau digoreng ‘klathakan’4) dan dijadikan lauk sarapan. Hmm, rasanya renyah, gurih, dan berprotein tinggi. Namun, tidak setiap orang suka dan cocok dengan laron ini. Karena jika tidak cocok dapat menderita alergi, gatal-gatal ataupun bengkak dan bintil-bintil di kulit tubuhnya.

Tak terasa, aku sudah mendekati halte tempat biasa aku menunggu bis pulang. Sambil menunggu bis, aku membaca buku kesukaanku, Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan yang tinggal sedikit halaman lagi selesai. Buku ini bagiku bagus dan patut dibaca semua orang, karena merupakan salah satu karya sastra terbaik menurut aku. Dengan cantiknya Eka Kurniawan menuliskan kisah seorang perempuan pelacur di masa Belanda yang mempunyai beberapa anak, dan kemudian anak-anaknya tersebut mempunyai kisah cinta dengan pemaknaan masing-masing. Dan bagaimana kisah anak perempuan terakhirnya yang berwajah jelek, berkulit hitam dan misterius ternyata mempunyai cinta impian terhadap kakaknya. Kekompleksan cerita tersebut berhasil ditulis dengan alur yang tidak terduga dan mengalir, membuat pembaca menjadi penasaran dan tidak bosan untuk membacanya sampai dua kali.

Ditengah keasyikanku membaca, sekilas ekor mataku menangkap kedatangan seorang perempuan muda –sebenarnya masih anak-anak– dengan penampilan yang berani dan sedikit berlebihan menurutku. Konsentrasiku mulai terpecah dengan kedatangan teman-temannya yang kemudian berkelompok di sudut halte. Aku pun memutuskan untuk menutup dan menyimpan bacaanku ke dalam tas. Menengok ke jalan dan mendapati bis ku belum juga datang, aku pun memilih mendengarkan percakapan sekumpulan anak gadis tadi dan memperhatikan tingkah centilnya.

Melayang pikiranku ke masa ketika aku seumuran mereka. Keluguan anak gadis di masa ku, tidak aku temui di mereka. Apakah ini karena modernitas yang dengan cantiknya meluluhlantakkan kesederhanaan, kesahajaan dan kehati-hatian orang Indonesia? Gemerlap dan keriuhan kota ternyata mampu menjadi daya tarik yang kuat bagi anak-anak gadismu Ibu. Mereka pun melupakan nasihat dan kehati-hatian yang selalu Ibu coba suapkan setiap hari. Kehidupan hanya mereka pikirkan untuk saat ini, mereka melupakan apa yang seharusnya mereka lakukan untuk ke depannya. Yach, seperti laron yang tidak memikirkan apakah ketika dia keluar dari lubang sarangnya akan ditangkap atau dapat terbang bebas. Jikalau dia mencoba meninggalkan pasukan gontheng-nya, maka kesesatan akan dihadapinya. Tapi, ketika dia mengikuti gonteng maka dia akan terbang bebas.

Pluk!!! Satu laron jatuh di ujung kakiku, berusaha terbang lagi meski sayapnya sudah patah satu. Menggelepar dan terus berusaha terbang, meski akhirnya hanya bisa merayap karena semua sayapnya akhirnya lepas. Aku pun mendongak ke atas, ternyata sudah banyak laron yang mengelilingi lampu neon halte. Fyuuuh…Aku pun menghela nafas. Seperti laron yang ternyata juga tertarik dengan terang lampu. Sampai kapankah mereka bertahan dan beterbangan di sekeliling lampu itu tanpa harus terbakar kepanasan karena terangnya untuk kemudian jatuh lemas dan mati? Akankah seperti ini nasib anak-anak gadismu Ibu Pertiwi? Terlalu silap dengan gemerlapnya ibu kota dan melupakan kehati-hatiannya karena itu hanya tipuan untuk menarik pesona mereka, untuk kemudian mereka berjatuhan karena penyakit menular dan kematian? Ataukah kita harus menangkapi mereka satu-satu dan menampung mereka meski kemudian harus menanggung ketidakberdayaan atau kematian mereka karena akses yang terbatasi. Ataukah kita harus mencopot lampu agar mereka tidak lagi tertarik dengan terang dan gemerlapnya itu dan membiarkan mereka terbang di kegelapan malam kampong halaman? Mana yang terbaik masih harus terus dipikirkan, agar anak-anak gadismu Ibu, tidak terjebak dalam kehidupan semu itu.

Sebuah mobil berhenti pelan di depan ku, dan aku pun masuk kedalamnya, menembus pekatnya malam di tengah gemerlapnya kota.

*** (erf)***

1) Gonteng merupakan istilah dalam bahasa Jawa untuk menyebut serangga prajurit/pekerja yang selalu mengiringi dan melindungi Laron ketika keluar dari lubang sarangnya.

2) Nasi jagung dibuat dari jagung yang digiling/ditumbuk sehingga menyerupai butiran lembut beras. Untuk kemudian dimasak seperti kalau kita memasak nasi beras.

3) Nasi tiwul adalah nasi yang dibuat dari tumbukan ketela pohon hampir seperti nasi jagung

4) Klathakan adalah digoreng tanpa tepung, telur atau adonan lainnya.  

Kp. Gedong dini hari, 12 September 2006



{Juni 24, 2007}   Percaya Ramalan Zodiak?

Mungkin, sebagian dari teman-teman ada yang percaya dengan ramalan bintang, dan ada yang tidak. Entah untuk melihat karakter kepribadian, peruntungan, ataupun kesuksesan dalam cinta dan pekerjaan.

Kalau diriku, sedikit percaya akan ramalan yang berdasarkan zodiak. Tapi akan lebih banyak percaya kalau sudah terbukti tentunya, hehehhe. Tetapi akhir-akhir ini, tengoklah inboks messege yang ada di HP-ku. Hampir 2/3 kapasitasnya diisi dengan ramalan zodiak harianku, karena sebulan ini aku iseng berlangganan ramalan harian.

Nach, zodiakku kan Virgo –hmmmm, zodiak paling keren dari seluruh zodiak yang ada, kqkqkqkkqkqkqkqkqk–. Zodiak dengan lambang seorang perempuan cantik untuk periode 22 Agustus s/d 22 September. Tahu nggak, aku selalu bangga dengan zodiakku ini. Sama bangganya aku dengan golongan darahku yang AB. Keduanya menggambarkan kondisi riil akan keadaan diriku, dimana aku adalah seorang perempuan dari Jogja, hihihi. Entah ini kebetulan atau karena Tuhan benar-benar sayang sama aku. Aku sangat bersyukur dengan “kebetulan” dari Tuhan ini. Atau, karena orang tuaku yang begitu pandainya merencanakan kelahiranku ke dunia ini? Orangtuaku, terutama bapak yang dulu masih sering menggunakan perhitungan-perhitungan Jawa untuk menjalani kehidupan ini. Perhitungan hari baik dan peruntungan nama serta perilaku yang bagi orang Jawa menjadi semacam keyakinan yang harus dilakoni jika ingin mempunyai kehidupan batin yang luhur. Aku sedikit banyak menyimpan memori tentang ngelmu urip yang seringkali diajarkan secara tidak langsung oleh orangtuaku. Aku melihat disekitarku bahwa ajaran dan petuah bijak dalam menjalani hidup ini membawa banyak orang dapat berbuat bijak dan mengasihi orang lain.

Kembali lagi ke ramalan harianku di HP. Dengan perasaan yang serba setengah, aku pun selalu mencoba mencocokkan apa yang diramalkan dengan apa yang kuhadapi hari ini maupun kemarin. Kalau hari esok, aku tidak tahu karena ramalan ini kan datang di pagi hari, jadi yang aku merasa dibantu untuk mempersiapkan aktivitas di hari ini saja.

Jika ramalan tersebut hampir sama, aku jadi tertawa sendiri. Tidak jarang aku juga memforward ke kawanku, jika ramalan tersebut terkait dengan pembicaraanku dengan kawan, di hari atau malam sebelumnya. Apalagi jika terkait dengan kehidupan seksual atau gaya bercinta, wahhh pasti sms tersebut akan berlanjut menjadi diskusi yang seru, hehehe. Tapi, tidak jarang aku takut sendiri dengan ramalan jika itu diluar kemauanku. Yach, terkadang ada rasa takut ramalan itu jadi kenyataan. Jika aku siap sih tidak masalah, jika terwujudnya ketika aku pas tidak siap? Kan berabe tuh…Jadinya sih, percayai aja yang bagus-bagus, yang jelek hiraukan saja, yang ringan jalanin terus, nah yang berat bisa dijinjing, digendong, diangkat, atau dihindari…semua terserah kita kan. Namanya juga ramalan. Luv u all 



{Juni 22, 2007}   Gerimis Yang Menjadi Hujan

Sore ini tidak lagi cerah…Meski hujan telah berhenti lama. Entahlah, apa yang dipikirkan May dalam perenungan senjanya di depan jendela itu. Dia begitu serius mengikuti guliran tetes air sisa hujan yang tempias di kaca. Sesekali ibu jarinya ikut menggores seperti hendak mencarikan jalan bagi tetesan hujan itu. Dia pun tak hiraukan hembusan angin yang membawa hawa dingin Baturaden menerobos masuk menusuk tulang ini. Padahal, aku terus saja bergelung dibalik selimut tebal tanpa ada niatan meninggalkan kehangatan ini. Meski tetap saja dingin menelusupi tubuhku, karena terbukanya jendela tempat di mana sosok May sekarang memandang jauh ke bukit Cendana yang samar oleh kabut.

Aku tidak tahu, apakah serpihan ingatan May kembali ke masa di mana kami berlima sahabat sering menghabiskan waktu di sana jika suntuk menyeruak di kehidupan kami. Itu adalah masa lima tahun lalu ketika kami masih di awal masuk kuliah di fakultas Pertanian Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto. Sekarang, hanya tinggal aku dan Nisa yang masih di kota ini, sedang May dan Jo di Jakarta dan Sasi di Semarang.

Saat ini, aku sedang menemani May yang dengan tiba-tiba muncul pada subuh kemarin di depan kos ku dengan backpack ukuran sedang di punggungnya. Waktu itu, rasa rindu lah yang mendominasi perasaanku sehingga langsung saja pelukan hangat dan erat yang aku berikan padanya. Tidak ada satu pertanyaan pun terlintas di pikiran, apa gerangan yang membawa May datang kesini. Bahkan hingga sekarang ini belum jua ada pernyataan keluar dari mulut tipisnya May yang semakin cantik ini.

Setelah kedatangannya kemarin, kami berdua bernostalgia dengan mengenang hari-hari kebersamaan kami dan menyempatkan mampir ke rumah Nisa yang sekarang sedang menantikan kelahiran anak keduanya. Yach…memang dibanding kami berlima, Nisa lah yang lebih dulu melepas masa lajangnya. Teringat bagaimana hebohnya kami menyiapkan pesta lajang bagi Nisa dan berusaha mati-matian sampai mengancam akan menculik calon suaminya jika tidak mau datang ke pesta lajang kami. Aku dan May tertawa ketika mengingat wajah cemberut dan kesalnya Nisa karena kami paksa datang ke pesa lajang kami yang berakhir dengan kekacauan.

Pertanyaan-pertanyaan tentang kabar diriku, Sasi, dan Jo kemudian bergantian muncul dari bibir May. Baru kusadari jika ternyata hanya kami berempat lah yang masih sering berkomunikasi. May jarang dan susah sekali menghubungi dia. Pekerjaan sebagai seorang programmer dan desain web site membuat dia super sibuk dan sering ke luar negeri. May seperti tersaput kabut, hilang tersamar di kota Jakarta. Meskipun Jo dan May satu kota ternyata tidak menjamin untuk mereka sering bertemu.

Dengan senang hati aku memberikan kabar bahwa diriku sedang menanti beasiswa S2 ke suatu universitas di Jepang. Tempat di mana aku selalu mengangankan tinggal sementara waktu sambil menikmati guguran bungan Sakura. Jo sedang asyik dengan bisnisnya di bidang advertising dan EO-nya. Sedang Sasi sedang menikmati bulan madunya dengan Gasal, kakak tingkat kami.

Tiba-tiba, di saat aku terhanyut dengan kilas balik pikiranku, May menangis sesenggukan. Raut sedih menerawang di wajahnya. Aku pun segera saja bangun dan menghampirinya. Agak panik aku berusaha menenangkannya dan mengajaknya duduk di sofa. Aku pun bertanya dengan hati-hati apa yang menyebabkannya menangis tiba-tiba.

Dengan masih sesenggukan pelan, May bercerita, “Tik, kamu pasti tidak percaya kan kalau aku sudah tidak perawan sejak dari kuliah dulu. Bahkan aku sudah punya anak”. Aku pun terkesiap, namun ku coba untuk tidak menanyakan lebih jauh.

Aku hanya menanggapi sekedarnya, “Ndak masalah lagi May, kamu masih perawan atau tidak, sudah punya anak atau belum. Bagiku bukan hal yang prinsip, justru yang penting adalah kecantikan hati dan jiwa kita. Kamu memiliki itu May”, hiburku.

May hanya tertawa pelan sambil berjalan lagi ke jendela tadi. Sambil memandang jauh ke arah bukit Cendana, dia berujar. “Kamu pasti akan kecewa jika aku berterus terang. Bahkan Nisa, Jo dan Sasi akan sangat membenciku”.

“Memangnya apa yang telah kamu perbuat May?” tanyaku sedikit penasaran.

“Tapi kamu janji kan Tik, untuk tidak menceritakannya pada yang lain? Aku hanya menceritakan hal ini kepadamu, karena aku anggap kamu adalah sahabat yang paling baik. Lagian, dari dulu kan kamu memang yang paling netral diantara kita berlima”, pinta May.

Aku pun mengiyakan permintaannya tersebut. “Aku janji May untuk tidak menceritakan kepada yang lain. Akan aku simpan sendiri cerita ini”.

Hening sejenak kamar ini, untuk kemudian helaan nafas panjang May terdengar sebelum ia bercerita.

“Aku kehilangan keperawananku di semester akhir sewaktu kita liburan habis skripsi. Kamu ingat kan waktu itu aku yang paling sering absen kumpul-kumpul hingga aku meninggalkan kota ini tanpa pamit? Waktu itu aku sering mendaki ke bukit Cendana tanpa sepengetahuan kalian. Di tempat itulah aku kehilangan keperawananku hingga kemudian aku sadari aku hamil. Aku panik karena aku waktu itu belum siap, meski ada yang mau bertanggungjawab. Aku bersikukuh untuk tidak meneruskan kehamilanku”.

“Memangnya kamu melakukannya dengan siapa May?” sela ku.

May tidak menghiraukanku. Dia terus saja bercerita.

“Aku kemudian sibuk mencari informasi di mana aku dapat melakukan aborsi. Bahkan sampai ke Semarang pun aku jalani. Hingga akhirnya aku mendapat informasi kalau di sini ada seorang paraji yang sering menolong ibu menggugurkan kandungan karena anaknya sudah terlalu banyak. Akhirnya aku pun meneguhkan hatiku dalam menjalani keputusanku ini.”

“Sudah lama aku ingin membuka rahasiaku ini Tik. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat bagiku, apalagi dengan menghindari kalian, sangat berat Tik!”, ungkapnya.

Aku diam saja, mencoba merenungi kembali waktu-waktu di mana May menghilang tiba-tiba sampai hari kemarin. Tersadar aku bahwa ada benang putus dari serangkaian kisah hidup kami bersama. Yang hari ini sedikit demi sedikit mulai tersambung dengan susah payah.

“Kamu tahu Tik, di kaki bukit Cendana itulah paraji itu tinggal. Dan di sana pula lah aku menguburkan calon anak ku. Calon keponakan-keponakan kalian juga. Dari seorang laki-laki yang juga kalian sayangi sebagai seorang pelindung ketika mendaki gunung.”

Aku semakin tercenung mendengar terusan ceritanya, sembari menduga-duga siapakah laki-laki calon suami bagi May.

“Ini pula lah alasan yang membuatku tidak menghadiri pernikahan Sasi bulan lalu. Karena masih berat bagiku untuk bertemu dengan Gasal, lelaki yang selama hampir enam bulan terus mendekatiku dan merayuku hingga aku tak mampu lagi bertahan. Melupakan persahabatan kita. Itulah mengapa aku kemudian lari dari kalian, karena aku tidak mampu menutupi ketidakmampuan dan kepengecutanku. Maafkan aku Tik, karena aku telah menjadi duri yang menyakitkan bagi kalian dan terutama bagi Sasi. Aku selalu tidak tega berterus terang pada Sasi, apalagi jika wajah polosnya itu sudah diikuti dengan air mata yang mengambang. Yach…aku hanya bisa cerita sampai di sini saja, sampaikan salam dan maafku pada semuanya. Tetaplah menjadi temanku dan pelindung bagi Sasi. Jangan sampai peristiwa ini terulang lagi, kuatkanlah dia dan selalu ingatkan Gasal untuk hanya mencintai Sasi dan lupakan May. Itu pintaku Tik, kamu bisa kan? Pliss, ya…”, May menghampiriku dan bersimpuh di pangkuan ku.

Aku pun hanya dapat mengirup kesegaran udara malam ini dalam-dalam sambil membelai kepala May lembut. Malam ini turun gerimis yang dengan cepat menjadi hujan, seperti juga kami berdua yang menumpahkan air mata kesedihan dan kegalauan bersama sambil berpelukan. Kami biarkan jendela terbuka dan tampias hujan memasuki kamar. Biarlah kesegaran yang basah ini memasuki kamar dan hati kami, berdua saja. (erf)

Kala hujan awal Desember, 2006 



Dalam satu milis yang saya ikuti, terjadi diskusi yang panjang mengenai Relativitas Gender. Diskusi yang tadinya tidak begitu saya ikuti menjadi menarik karena ada satu member yang menurut saya pemikirannya sangat dangkal dan sempit dan hanya berdasarkan pada keegoisan dia sebagai laki-laki dalam memandang hubungan timbal balik antara perempuan dan laki-laki dan menggunakan analogi kehidupan monyet untuk menjelaskan hal tersebut.

Setelah mengikuti diskusi tersebut, terpikir saja untuk membuat tulisan berikut ini. Dan sengaja tulisan ini tidak saya forward ke milis tersebut karena saya sudah capek dengan diskusi yang menghadapkan pada orang yang tidak mau membuka pikiran dan jiwanya. Sia-sia saja sepertinya jika menanggapi orang seperti itu, meskipun mungkin banyak dari teman-teman yang tidak sependapat dengan sikap saya ini. Tapi, biarlah orang-orang yang mau terbuka pikirannya untuk kemudian mau peduli dengan sesamanya yang akan membaca tulisan ini. Semoga bisa menginspirasi mereka.

Jika membahas hubungan atau relasi perempuan dan laki-laki, pasti akan banyak pikiran yang pro dan kontra. Dari pikiran yang memang harus melakukan perubahan dan memberikan kesempatan pada perempuan, sampai pada pikiran yang memang perempuan sendiri yang mau dipimpin. Bahkan sampai pada analogi manusia dengan monyet dimana monyet yang besar, kuat dan mempunyai pasangan yang banyak lah yang bisa menjadi pemimpin.

Berdasarkan pemikiran itu, dan untuk menanggapi hal itu, maka saya hanya ingin mengungkapkan hasil pembelajaran visual saya dari sebuah film tentang kehidupan sekelompok pinguin dalam “March in Pinguin”.

Film yang berdurasi lumayan panjang ini sangat bagus dan menggambarkan bagaimana kehidupan berpasang-pasang pinguin dalam upayanya untuk dapat survive di kondisi lingkungan yang ekstrim.Tapi yang jelas, yang dapat kita tangkap sebagai pelajaran dari film itu adalah, bagaimana pasangan pinguin ini saling bantu dan saling berbagi peran dari mulai membina hubungan sampai memelihara keturunan dan keberlangsungan hidupnya. Dalam film ini, terungkap bagaimana pasangan pinguin itu melakukan pendekatan. Pendekatan yang penuh cinta dan kelembutan tanpa ada dominasi, bagaimana mereka saling mengeluarkan aura (inner beauty) masing-masing untuk mendapatkan pasangannya. Dan bagaimana mereka memegang prinsip monogami sampai mau memisahkan. Saling setia adalah prinsip pinguin tersebut. Sepertinya kita sebagai manusia yang diberi kelebihan oleh Tuhan dibanding makhluk hidup lainnya justru harus banyak belajar dari Pinguin ini.Begitu pun ketika mereka memadu kasih, penuh kelembutan. Belum lagi cara mereka survive dan menjaga kelangsungan hidupnya. Mereka saling bergantian untuk mencari makan dan mempersiapkan kehidupan bagi anaknya dan keberlangsungan generasi mereka. Perjuangan ketika mereka menjaga bakal calon anaknya pun sangat berat dan penuh dengan perngorbanan dari masing-masing pinguin tersebut. Bahkan para pinguin tersebut lebih realistis dari kita manusia. Buktinya, ketika mereka harus menjaga bakal calon anaknya, mereka tetap memikirkan bagaimana mereka harus bertahan hidup juga untuk nantinya dapat membesarkan anak-anaknya kelak. Mereka saling bergantian menjaga dan mencari makan meskipun itu harus pergi meninggalkan pasangannya dan bakal calon anaknya dalam waktu yang lama karena mereka mesti pergi dari tempat tinggalnya untuk mendapatkan tempat sumber makanan yang baru. Kemudian mereka pulang dan menggantikan pasangannya untuk menjaga bakal calon anaknya dan memberikan kesempatan pada pasangannya itu mencari makanan untuk menggantikan energy yang dipakai menjaga bakal calon anaknya.

Di film ini memperlihatkan bagaimana mereka saling menghargai pekerjaan pasangan baik itu pekerjaan yang terkait dengan reproduksi maupun pekerjaan yang terkait dengan survival mereka. Seperti juga bagaimana manusia –perempuan dan laki-laki– seharusnya saling menghargai pekerjaan masing-masing tanpa membedakan itu pekerjaan domestik-publik atau pekerjaan reproduksi-produksi dan dengan sadar saling bahkan mau berganti peran dalam pekerjaan-pekerjaan tersebut. Bahkan ketika mereka harus kehilangan bakal calon anaknya, mereka pun saling menghibur dan justru tidak meninggalkan pasangannya. Begitu pun jika mereka belum mempunyai anak, maka mereka akan ikut mengasuh dan membesarkan anak-anak pasangan lainnya. Sungguh sangat faunais (humanis). Mereka justru lebih manusiawi dari manusia itu sendiri. Ternyata, manusia yang katanya mempunyai kelebihan akal, budi dan perasaan dalam praktek kehidupannya justru malah terkadang sangat jauh ‘nilai kesahajaannya’ dibandingkan dengan pinguin ini. Ternyata manusia mesti lebih banyak belajar dari alam, baik itu untuk survive, untuk kelangsungan generasinya ataupun untuk berrelasi dengan sesamanya.

Dari ini semua, ternyata alam merupakan tempat kita untuk belajar tentang nilai-nilai kehidupan yang sangat kaya. Sehingga kita pun sebagai manusia perlu bersikap bijaksana terhadap alam. Jangan pernah mengeksploitasi kehidupan mereka, karena mereka pun makhluk hidup. Begitupun manusia, jangan pernah mengeksploitasi sesamanya apalagi mengeksplotasi antar kelompok bahkan saling mendominasi. Untuk kebaikan bersama dan kelangsungan hidup manusia, perempuan dan laki-laki.Suatu perenungan akan relasi perempuan dan laki-laki, bagaimana kita seharusnya hidup berdampingan, tanpa saling meniadakan, mendominasi ataupun menindas. (erf)

Kp.Tengah, 13 Maret 2007 22:40 



dan lain-lain