Rumah Bintang Laut ku











{September 10, 2007}   Kacamata ku

Setiap mendengar kata kacamata, pasti yang terbayang adalah benda bartangkai di dua sisinya dan terdapat dua kaca/lensa di depan. Berfungsi untuk membantu mata melihat sesuatu agar lebih jelas.

Aku mempunyai pengalaman yang menarik yang terkait dengan kacamata ini. Berawal dari mimpi yang aku alami semalam. Dalam mimpi tersebut, aku mendapatkan suatu kejadian yang menggangguku. Yang kemudian aku ceritakan pada temanku Jo. Bukan aku percaya pada makna mimpi, namun karena tidak tahu mengapa, dalam satu diskusi di kamar (??? ;) ) aku menceritakan begitu saja mimpiku itu pada Jo, yang ternyata ditanggapi agak serius oleh Jo dengan falsafah-falsafah hidupnya dan analogi peristiwa yang baru saja kami alami.

Estoe: Semalam, aku bermimpi kalau kacamataku pecah karena didudukin orang. Dalam mimpi tersebut, aku kemudian sedih karena tidak bisa menggunakan kacamata itu lagi dan harus memperbaikinya dengan biaya yang tidak murah. Aku kemudian berusaha memperbaiki kacamata itu, meski aku yakin tidak bisa, tapi aku terus sibuk dengan upaya perbaikan itu, tanpa ada kepedulian terhadap sekitar. Dalam kata lain aku justru terfokus dengan pekerjaan yang sia-sia karena sudah pasti tidak bisa. Menurutmu bagaimana Jo?

Jonathan: Wah…itu dia, tandanya kalau kamu harus berhati-hati dan harus selalu menjaga cara pandangmu dalam melihat sesuatu yang lebih luas dan jernih. Jika kacamata mu rusak atau pecah itu artinya kamu harus menjaganya dari orang-orang yang jahat yang akan menggunakan kacamatamu untuk melihat hal lain atau merusaknya agar kamu tidak dapat melihat hal-hal yang indah dan lebih jelas. Artinya kamu akan dibutakan karena tiadanya kacamata itu. Dan akhirnya kamu disibukkan untuk memperbaiki alat itu tanpa kamu melihat alternatif lain bahwa kamu bisa melihat tanpa kacamata itu walau tak sejelas kalau memakai kacamata.

Estoe: Hmmm, kamu cerdas juga Jo kalo lagi gila begini (seperti biasa, Jo berwajah ‘kriting’ dan selalu menghunjamkan tinjunya ke apa saja dan siapa saja yang ada di sekitar dia, jikalau sedang pusing atau banyak pikiran). Balik ke kacamata dan falsafahmu tersebut, dalam peristiwa atau keadaan saat ini, yang katanya perlu ‘caracter building’, kacamata bisa diibaratkan sebagai alat untuk melihat dan menajamkan penglihatan kita akan sesuatu. Jika ini yang dimaksud, memang bener kita harus menjaga kacamata kita itu baik-baik. Karena dengan alat bantu itu, ada kemudahan dan keuntungan yang kita dapat. Dan yang perlu diingat Jo, kacamata yang dipakai bisa berbeda-beda di masing-masing orang. Atau, bisa juga ada yang sengaja memakai yang tidak sesuai dengan ukuran/kebutuhannya, sehingga apa yang dilihatnya justru tidak sebagus aslinya. Atau, bisa juga orang tersebut melepas kacamata dan memilih tidak memakainya karena masih dapat melihat meski tidak dari jauh dengan alasan tidak mau dibatasi pandangannya.

Jonathan: Iya sich, tapi dalam kasus dan peristiwa ini, kamu harus tetep menjaga kacamata itu untuk tidak diambil atau dirusakkan orang lain. Karena itu adalah kacamatamu. (Jo masih tetap berusaha mempengaruhiku untuk mengambil kesempatan dan kepercayaan dari teman-teman dan mengibaratkannya dengan kacamata yang harus dijaga tersebut). Karena kacamata kamu itu akan memperbaiki pandangan kita semua dan memperjelas semua hal yang mungkin selama ini tampak suram. (rona masam masih membayang di wajah Jo karena kesal dengan pengelakkanku).

Estoe: Oke lah Jo, aku akan berusaha menjaganya, tetapi tidak janji apakah akan mempergunakannya atau tidak, karena mesti melihat dulu apakah sesuai dengan ku atau tidak kacamata itu setelah diperbaiki.

Kawan, jangan berpusing ketika membaca tulisan ini. Ini hanya perbincanganku dengan seorang kawan baik yang selalu berkontemplasi dengan pikiran-pikirannya. Seorang muda yang cerdas yang terkadang sedikit memaksakan pemikirannya tersebut.

Yang jelas, aku sangat berterimakasih dengan perbincangan dan diskusi menjelang tidur di beberapa bulan ini, yang membuatku semakin menyadari arti dari persahabatan, kepercayaan, dinamika pikiran dan kasih sayang, yang semakin tereksplorasi dari diriku. Bahwa bagaimanapun keadaan kita, ternyata masih tetap ada yang membutuhkan dan mempercayai kita. Hanya keberanian mengambil peran dan melakukan pengorbanan serta dukungan dari semua itu lah yang mesti terus dikembangkan dalam jiwa untuk membentuk suatu karakter yang kuat bagi kehidupan ke depan.

(renungan di medio Desember 2006)



anjal.jpg

Di sela semakin pikuk dan panasnya kota Jakarta, terlihat pemandangan yang sangat ironis bagi segelintir orang. Anak jalanan bagi sebagian orang mungkin merupakan pengganggu kenyamanan dan keindahan kota Jakarta, seperti juga Perda DKI Jakarta No.11/1988 yang menganggap mereka sebagai penyakit masyarakat yang harus ditertibkan. Bagi diriku, Perda DKI Jakarta No.11/1988 tentang Ketertiban Umum ini sungguh-sungguh sangat diskriminatif dan meniadakan kaum miskin kota yang bagaikan dua sisi mata uang dengan pesatnya perkembangan sebuah kota metropolitan. Kebijakan pembangunan daerah yang cenderung lebih mengutamakan pembangunan fisik tanpa mensinergikan dan mengikutsertakan si miskin dalam perkembangannya menghadapi permasalahan sosial yang semakin kompleks. Pada akhirnya, kota Jakarta menjadi tidak ramah dan sangat angkuh terhadap masyarakat miskin yang juga mempunyai hak untuk bisa menikmati hasil pembangunan dan fasilitas publik dari suatu kota.

Perlu sikap yang bijak dalam melihat kepentingan masyarkat miskin dalam modernisasi kota. Pendekatan kekerasan bahkan pendekatan kebijakan belum tentu menjadi solusi yang bijak dalam penanganan permasalahan sosial ini. Hal ini menjadi suatu tantangan sendiri bagi pemimpin-pemimpin kota Jakarta dan masyarkat yang peduli pada aksesibilitas kota. Kota yang terbuka dan ramah serta tidak diskriminatif bagi semua lapisan harus menghapuskan kebijakan yang mendiskriditkan masyarakat miskin sebagai penyakit pengganggu kenyamanan dan keindahan pemandangan kota. Harapan ideal dari semua adalah bahwa kota Jakarta (termasuk didalamnya fasilitas publik, transportasi dan gedung-gedung) ramah terhadap semua orang, perempuan, anak-anak, anak jalanan, diffabel (penyandang cacat), pedagang kaki lima, pengemis. Mereka pun sebenarnya tidak mau seperti itu, mereka hanya perlu diberi akses, kesempatan dan disiplin serta perlakuan yang humanis dari semua orang dan aparat penegak hukum dan pemerintah.

Foto oleh Estu Fanani



RI should have more female police officers, says surveyThe Jakarta Post, Jakarta

A recent survey conducted to commemorate the National Police’ 61st anniversary found that the public wants more female police officers, despite the discrimination they face.

The Women’s Legal Aid Foundation (LBH APIK), the Partnership civic group and the National Police conducted a needs assessment survey on seven State Police Schools (SPN) in seven provinces of Aceh, Jakarta, East Java, East Nusa Tenggara, West Kalimantan, Makassar and Papua. These seven provinces were picked to represent Indonesia’s three regions — west, central and east.

Estu Rakhmi Fanani, director of LBH APIK, said that the needs assessment showed that there were discriminatory policies in place when it came to recruiting policewomen.

For example, out of the 26,000 candidates accepted in the 2005-2006 intake, only 1,000 were women due to limited places at the Policewomen’s Academy.

There are currently 24 SPNs nationwide training male non-commissioned cadets, but there is only one school for female cadets, in Pondok Pinang, South Jakarta.

There is also a maximum number of female police officers that can be stationed at provincial police headquarters. Aceh gets 10 female officers per year, while Jakarta has a quota of 20 officers.

“In many cases, many female candidates are eliminated due to the quota, even though their grades exceed those of the male candidates,” Estu said in a press conference Monday.

Estu suggested SPNs to also accept women as cadets to increase the number of policewomen, save money on the trip to Java and decrease the exclusivity of officers studying at the Policewomen’s School.

“This will also fulfill one of the police’s goals, that is local jobs for local boys or girls,” said Estu.

“However, if SPNs were to accept female cadets, the facilities and teaching methods should be adjusted to the specific needs of female cadets.”

Estu added that in the regions, the public found it difficult to access information on policewomen recruitment, resulting in smaller candidate numbers.

Nursyahbani Katjasungkana, a founder of LBH APIK, said that a 2006 survey held by the Aceh provincial police showed that more than 70 percent of prominent Acehnese figures said that the province required more policewomen, while 35 percent of the public believed that the number of policewomen should be more than or equivalent to the number of policemen.

Nursyahbani, also a legislator of the Nation Awakening Party, added that the number of policewomen was insufficient because Indonesia had 360,381 policemen while there were only 11,706 female officers.

Senior advisor for Partnership Adrianus Meliala said that the quota should be dropped.

“We should allow men and women to become police cadets. If in the end there fewer women female cadets, it means they are less capable,” he said.

The problem does not stop in the recruitment process but continues in the policewomen’s work as they are often assigned to desk duties.

“There is also a stigma in the community when policewomen must investigate drug cases at night and in the work place when they are paired with policemen,” said Estu.

National Police human resources department chief Brig. Gen. Boedhi Santoso said that his office would accommodate the study and follow it up internally and then propose it to the National Police chief.

“If further study shows the possibility of decentralizing education, the National Police chief must issue a decree to allow that,” he said. (14)

The Jakarta Post – 10.07.2007

source: http://www.indonesienportal.de/thread.php?threadid=12913&sid=d31aac975118244d9951d142686a375a



“Sangat tidak setimpal hukuman penjara 2 bulan itu dengan apa yang telah dia lakukan pada saya… Tapi, biarlah dia puas, sanksi social dan adat akan dia terima melebihi hukuman yang diputuskan. Ini pun sudah menjadi pelajaran bagi dia selaku tokoh masyarakat.”

Penggalan kalimat di atas merupakan salah satu ungkapan kekecewaan dari korban kekerasan dalam rumah tangga. Meskipun kekerasan fisik yang dialami termasuk berat, dan jalur hukum sudah ditempuh dengan waktu yang begitu lama, ternyata Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) belum menjawab keadilan bagi korban. Putusan 2 bulan tersebut bahkan lebih rendah dari tuntutan Jaksa yang 3 bulan penjara. Sehingga, begitu putusan dijatuhkan, sekitar enam hari kemudian pelaku menghirup udara kebebasan. Dalam kasus ini, Hakim maupun Jaksa tidak mempertimbangkan profesi serta kedudukan pelaku di masyarakat yang termasuk sebagai tokoh masyarakat dan akademisi –yang mana perilakunya seharusnya menjadi contoh dan panutan masyarakat–.

Jumlah Kasus KDRT di Beberapa Lembaga Pendamping

Sejak disahkannya UU No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga pada 22 September 2004 dan diberlakukan satu bulan kemudian, tidak banyak kasus yang dapat diproses secara hukum. Dari sekian banyak data pengaduan kasus KDRT yang diterima LBH APIK Jakarta, kebanyakan korban mengambil keputusan yang ekstrim untuk memutus rantai KDRT, yakni dengan mengajukan perceraian ke Pengadilan. Di tahun 2005, dari 325 kasus KDRT yang diadukan ke LBH APIK Jakarta, terdiri dari 19 kasus diproses secara hukum (dilaporkan ke polisi), dan 142 kasus diproses dengan mengajukan perceraian. Sedangkan di tahun 2006, sampai dengan bulan Agustus, terdapat 239 kasus KDRT, dengan penyelesaian perceraian sebanyak 124 kasus, dan 5 kasus dilaporkan ke polisi.  

Kasus KDRT Tahun 2005

No.

Kekerasan yang Dialami

Jumlah Korban

Mengajukan Cerai

Melapor ke Polisi

1.       

Fisik 16 7 8
2.  Fisik, Psikis 65 22 4
3. Fisik, Ekonomi 7 5 -
4.     Fisik, Psikis, Seksual 1 1 -
5. Fisik, Psikis, Ekonomi 61 28 6
6. Fisik, Psikis, Seksual, Ekonomi 2 2 1
7. Psikis 107 48 -
8. Psikis, Seksual 2 1 -
9. Psikis, Ekonomi 35 16 -
10. Ekonomi 28 12 -
11.  Ekonomi, Seksual 1 - -
  TOTAL 325 142 19

Kasus KDRT Tahun 2006 (Januari – Agustus)

No.

Kekerasan yang Dialami

Jumlah Korban

Mengajukan Cerai

Melapor ke Polisi

1.

Fisik 75 - 5
2.  Fisik, Psikis 9 7 -
3. Fisik, Ekonomi 1 - -
4.  Psikis 148 111 -
5. Psikis, Ekonomi 5 2 -
6. Seksual 1 1 -
7.  Ekonomi 23 4 -
  TOTAL 262 124 5

Dari data di atas, terlihat bahwa dari sekian ratus kasus KDRT, hanya sebagian kecil saja yang melaporkan kasusnya ke Polisi. Banyak hal yang menjadi alasan kenapa mereka menempuh jalan perdata atau mediasi, meskipun UU PKDRT sudah dua tahun ini disahkan. Beberapa alasan kenapa pidana kasus KDRT masih rendah adalah pertama, karena masih adanya ketergantungan secara ekonomi dan psikis pada pelaku (pasangan). Hal ini antara lain disebabkan terbatasnya akses terhadap ekonomi keluarga maupun kebutuhan dilindungi dan disayang orang lain (pasangannya).  Jadi, meskipun kekerasan yang dialami terkadang tergolong dalam KDRT berat, korban tidak ingin pelaku dihukum/dipenjara, mereka hanya mengharapkan pelaku dapat merubah perilakunya tersebut. Sehingga, tak jarang korban baru menempuh proses pidana atau perdata ketika kekerasan tersebut benar-benar sudah berat dan berulangkali terjadi. Bahkan, salah satu mitra (klien) LBH APIK Jakarta mengadukan kasus KDRT yang dia alami selama berpuluh-puluh tahun dan mengajukan perceraian ketika usianya 75 tahun dan anak-anaknya sudah dewasa semua.

Seperti tergambar dalam kasus ibu Dara, seorang ibu rumah tangga yang mengalami percobaan pembunuhan oleh suaminya dengan dipaksa minum racun serangga di tahun 1999. Akibat dari tindakan pemaksaan ini, ibu Dara dirawat di rumah sakit selama dua hari. Dari tahun 1999-2005, hampir setiap hari ibu Dara mengalami kekerasan fisik dan psikis dari suaminya. Bahkan diawal 2006, diketahui bahwa ternyata suaminya telah menikah lagi dengan perempuan lain. Bahkan, uang dan perhiasan ibu dara senilai Rp.14.000.000,- diambil oleh suaminya tersebut, sehingga ibu Dara tidak mempunyai uang untuk membiayai kehidupannya. Karena mengetahui tindakan suaminya tersebut, ibu Dara pun mendapatkan kekerasan fisik kembali. Dan setelah melaporkan ke polisi karena diancam dibunuh, suaminya pun ditangkap. Meskipun suami di dalam penjara. Namun, kekerasan masih saja dialami ibu Dara, karena ternyata ancaman dan teror diterima ibu Dara dan keluarganya hampir setiap hari dengan tidak mengenal waktu, siang ataupun malam.

Sedangkan data kekerasan dalam rumah tangga sepanjang tahun 2004 yang dikumpulkan oleh Komnas Perempuan dari beberapa organisasi (43 organisasi perempuan) di Indonesia adalah sebagai berikut:

No.

Jenis Kekerasan

Jumlah Kasus

1.

Kekerasan terhadap istri 1782
2. Kekerasan dalam pacaran 321
3. Kekerasan terhadap anak perempuan 251
4. Kekerasan terhadap pekerja rumah tangga (PRT) 71
5. Kekerasan ekonomi 28
  TOTAL 2453

Dari data yang dikumpulkan Komnas Perempuan tersebut, ternyata terlihat bahwa kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya menimpa istri saja, tetapi juga anak dan pekerja rumah tangga (PRT). Meskipun jumlah kasus yang menimpa PRT lebih sedikit dibanding kekerasan yang menimpa istri maupun anak, namun, kekerasan terhadap PRT ini mempunyai kekhususan dan kompleksitas yang tinggi. Seperti misalnya, jika kekerasan psikis yang menimpa istri atau anak berupa cacian, makian, tekanan-tekanan psikis lainnya. Maka kekerasan psikis yang menimpa PRT bisa lebih berat lagi seperti kondisi kamar yang tidak manusiawi, dikurung di dalam rumah, larangan berkomunikasi dengan tetangga ataupun keluargannya, fasilitas –termasuk fasilitas kesehatan dan kesejahteraan yang sangat minim, pembatasan akses informasi, dan sebagainya. Bahkan tidak menutup kemungkinan pelaku kekerasan terhadap PRT tidak hanya satu orang, tetapi beberapa orang anggota keluarga tersebut. Hal ini bisa terjadi karena posisi rentan PRT dalam struktur keluarga, terlepas kenyataan bahwa PRT tersebut tua atau muda. Karena secara tidak langsung, majikan PRT tidak hanya orang yang mempekerjakan dia saja, tetapi juga anak majikan, ibu/bapak majikan, istri/suami majikan, saudara-saudara majikan yang tinggal satu rumah ataupun beda rumah dengan majikannya. Apalagi konsep keluarga atau rumah tangga di Indonesia masih mengenal keluarga batih atau keluarga besar, tidak hanya ayah, ibu, anak.

Sampai bulan Agustus tahun 2006 ini saja, data kasus berdasarkan analisis berita yang dilakukan LBH APIK Jakarta terhadap dua surat kabar Warta Kota dan Pos Kota menunjukkan sebanyak 19 kasus kekerasan terhada PRT. Dari kasus-kasus tersebut, memperkuat kenyataan lemahnya posisi PRT dihadapan majikan. Bahkan, hanya karena kesalahan-kesalahan kecil seperti membuat goresan di lemari es ketika mengambil es batu, meminum susu majikan karena kelaparan/makanan sangat dibatasi, menyeterika terlalu lama, sampai lalai membuang sampah, sudah menjadi ‘pengesahan’ bagi majikan untuk melakukan kekerasan dan penganiayaan yang merendahkan martabat PRT. Seperti misalnya gaji tidak diberikan, ditonjok, disiram air panas, digunduli, disundut rook/obat nyamuk bakar, dibenamkan dalam lubang kloset, tidak diberi makan, sampai dipaksa membersihkan kloset dengan lidah (kasus Shd yang didampingi LBH APIK Jakarta). Dari kenyataan-kenyataan tersebut, ternyata perlindungan PRT tidaknya diperlukan untuk menjamin hak-haknya sebagai pekerja saja, tetapi juga sebagai salah satu anggota dari suatu keluarga.

Beberapa Permasalahan Lain Seputar KDRT

Selain kekerasan dalam berbagai bentuk, masih ada beberapa permasalahan lain terkait dengan kekerasan dalam rumah tangga. Antara lain adalah pelaksanaan putusan-putusan cerai yang tidak ada sanksi jika pasangan belum melaksanakannya. Sehingga semuanya tergantung “niat baik” mantan suami dalam memberikan nafkah anak/istri. Hal ini diperparah lagi dengan tidak dijangkaunya nafkah paska perceraian dalam UU PKDRT untuk penelantaran keluarga. Hal ini juga membuat timbulnya kekerasan yang terjadi paska perceraian yang jika dikategorikan ke dalam KDRT tidak mungkin karena tidak diatur dalam UU PKDRT. Tapi dalam realita di lapangan dan berdasarkan kasus-kasus yang diterima LBH APIK Jakarta dan beberapa lembaga lain, tidak menutup kemungkinan kekerasan terjadi. Terutama ketika si mantan istri mau menuntut hak-hak sebagai mantan istri maupun hak-hak anak-anaknya yang masih menjadi kewajiban kedua orangtuanya.

Dalam kasus PRT pun, ketika PRT memutuskan keluar dari rumah/keluarga karena mendapatkan kekerasan, mengalami kesulitan ketika akan menuntut haknya (gaji) yang belum terbayar selama dia bekerja di situ. Kondisi-kondisi seperti inilah yang belum dijangkau dengan keberadaan UU PKDRT, padahal kekerasan dalam fase ini tidak terlepas dari pernah adanya kedekatan hubungan suami istri maupun hubungan majikan dan PRT. Meskipun sudah berpisah secara hukum dan fisik, namun mantan pasangan –dalam hal ini mantan suami—merasa masih memiliki dan berkuasa atas mantan istrinya tersebut. Sehingga tidak jarang, ketika tiba-tiba mantan suami datang dan memaksa untuk dilayani secara seksual oleh mantan istrinya jika ingin mendapatkan nafkah istri dan anak-anak, sebagaimana kasus keluarga yang pernah di dampingi LBH APIK Jakarta.

Kendala lain adalah bahwa dalam pelaksanaan dan penerapan pasal-pasal dalam UU PKDRT. Antara lain penafsiran beberapa pasal kekerasan dalam rumah tangga yang berbeda antara penegak hukum maupun masyarakat sendiri. Seperti contoh kasus di atas yang dialami oleh Ny. M. Putusan hukuman yang hanya 2 bulan dikarenakan hakim menafsirkan bahwa KDRT fisik yang dilakukan oleh suami hanya diakomodir pada pasal 44 ayat 4 saja, serta luka yang dialami korban adalah luka ringan yang tidak mengganggu kegiatan sehari-hari dan tidak mendapatkan perawatan yang intensif (opname). Padahal, berdasarkan visum et repertum dari rumah sakit, korban mengalami patah tulang serta kehilangan indra penciumannya. Hal ini juga dikuatkan saksi ahli dimana memberitahukan bahwa luka tersebut harus dievaluasi lagi satu tahun kemudian, jika tidak pulih indra penciumannya, berarti korban mengalami cacat permanent. Hal inilah yang menjadi kendala bagi korban untuk menggapai keadilan. Selain itu, masalah pembuktian maupun belum adanya Peraturan Pemerintah yang mengatur pelaksanaan pemberian perlindungan maupun penanganan masih menjadi penghambat bagi korban maupun penegak hukum.

Dari data di atas juga terlihat jenis-jenis kekerasan dalam rumah tangga yang dialami para korban yang sebagian besar adalah perempuan (istri). Bahkan sebagian besar korban mengalami jenis kekerasan lebih dari satu (multi kekerasan). Baik itu kekerasan fisik dan psikis, fisik dan ekonomi, fisik dan seksual, fisik-seksual-ekonomi, fisik-psikis-seksual, fisik-psikis-seksual-ekonomi, dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa lingkaran kekerasan dalam rumah tangga yang dialami perempuan dan anak ternyata sangat kompleks dan saling terkait satu sama lain. Selain itu, meskipun UU PKDRT sudah mengakomodir beberapa jenis kekerasan, namun tidak semuanya bisa diproses hukum lebih jauh. Selama dua tahun diberlakukannya UU PKDRT ini, hanya kekerasan fisik saja yang banyak diadukan ke polisi dan bisa diproses lebih lanjut sampai ke persidangan. Untuk jenis kekerasan lainnya, seperti kekerasan psikis, seksual maupun ekonomi, masih banyak kendala yang dihadapi terkait dengan masalah pembuktian, saksi maupun pemberian perlindungan bagi korban dan saksi. Hal ini dikarenakan masih belum jelasnya prosedur atau mekanisme pelaporan, penanganan kasus ataupun perlindungan itu sendiri. Disamping juga masih adanya beberapa pasal yang multi tafsir terkait dengan sanksi atau tindakan KDRT oleh aparat penegak hukum. Dalam artian, hakim atau jaksa menafsirkan satu pasal secara berbeda, seperti yang terjadi dalam kasus Ny.M.

Sedangkan untuk tidak ditempuhnya jalur hukum karena biasanya kekerasan dalam rumah tangga mempunyai kondisi yang berbeda dengan kekerasan lainnya. Dalam KDRT, antara pelaku dan korban umumnya mempunyai kedekatan personal dalam artian mempunyai relasi intim, ketergantungan secara emosi dan ekonomi. Ini yang membuat korban terkadang enggan memproses kekerasan yang dialaminya secara hukum dan lebih memilih jalur di luar hukum seperti mediasi atau pisah/cerai. Namun, ternyata pilihan yang dianggap baik ini juga tidak menghentikan kekerasan yang dialami korban. Sebagai ilustrasi, kasus ibu Meta, seorang stylist yang mendapat kekerasan dari suami selama 10 tahun perkawinannya. Dan keputusan untuk hidup berpisah dengan suaminya, yang sudah dilakukan selama 1,5 tahun terakhir ini bersama anak-anaknya (3 anak), ternyata bukan jalan terbaik dalam menyelesaikan/memutus kekerasan yang dialaminya. Bahkan terakhir, ibu Meta mendapatkan kekerasan fisik berat yang menyebabkan kepala dan dahinya terluka serta harus mendapatkan jahitan sekitar 15 cm karena mendapatkan serangan senjata tajam (dengan cutter) oleh suaminya. Bahkan akibat luka ini, ibu meta sempat dirujuk ke beberapa rumah sakit karena parahnya luka yang dideritanya.

Ketika mengadukan ke LBH APIK, ibu Meta hanya menginginkan penyelesaian secara hukum, rasa aman bagi dia dan anak-anaknya, serta nafkah bagi anak-anak. Selain itu, dari informasi yang tergali, ternyata salah satu penyebab kekerasan tersebut adalah karena stigma pekerjaan yang dijalani ibu Meta (sebagai stylist) yang membuat dia dekat dengan banyak orang dan mengharuskan ibu Meta pulang malam.

Oleh karenanya, menyikapi dan mengantisipasi kendala-kendala di atas, maka LBH APIK Jakarta, sebagai salah satu lembaga swadaya masyarakat yang ikut mendesakkan adanya UU PKDRT merasa perlu melakukan sosialisasi dan penguatan hukum bagi konstituen maupun kontak strategis lembaga. Walaupun jika mau jujur, sosialisasi adalah salah satu tugas dari Pemerintah. Namun, berdasarkan pengalaman LBH APIK Jakarta, masih ada aparat penegak hukum yang belum mengetahui keberadaan UU PKDRT, khususnya di beberapa daerah terpencil di Jawa maupun di luar Jawa.

Beberapa upaya LBH APIK dalam penggunaan UU PKDRT adalah dengan melakukan sosialisasi ke masyarakat dan penegak hukum serta penguatan hukum itu sendiri di tingkat konstituen utama LBH APIK Jakarta. Sosialisasi dilakukan dengan melakukan seminar maupun diskusi di kelompok-kelompok (komunitas) dalam masyarakat seperti kelompok PKK, pengajian ibu-ibu, ataupun komunitas PRT, buruh dan miskin kota. Sedangkan untuk penguatan hukum, LBH APIK Jakarta membentuk paralegal dari komunitas PRT, mitra (klien) dan miskin kota. Selain juga melakukan penguatan dengan pelatihan-pelatihan ke pengacara/advokat. Tujuan dari adanya paralegal adalah memaksimalkan peran masyarakat dalam penghapusan KDRT seperti yang tercantum dalam Pasal 15 UU PKDRT. Dalam hal ini khususnya paralegal dapat menjadi pendamping korban di komunitasnya masing-masing. Baik dalam penyelesaian secara hukum maupun mediasi atau konsultasi. Paralegal ini dibekali dengan pengetahuan hukum dasar sehingga dapat memberikan informasi seputar kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak serta mendampingi korban ke Polisi. Bahkan, dari pengalaman paralegal di satu komunitas masyarakat miskin kota, mereka berhasil menghentikan KDRT yang dilakukan suami pada istrinya dengan pro aktif mengingatkan suami serta menguatkan istri dan memberikan peran mediasi pada ketua RT. Sehingga, dibuatlah perjanjian antara suami dan istri dengan disaksikan ketua RT maupun paralegal dan masyarakat. Jadi, control masyarakat di sini dalam menciptakan lingkungan tanpa kekerasan sangat terasa.

Sedangkan untuk pengacara atau advokat, kita mendorong adanya bantuan hukum cuma-cuma (probono) terhadap kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan adanya pembelaan hukum yang berperspektif gender. Hal ini karena memang untuk kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan khususnya KDRT memerlukan pendekatan khusus karena melibatkan hubungan emosi antara pelaku dan korban. Dan akar permasalahannya pun bukan hanya sekedar tindak kekerasan, tetapi juga karena adanya budaya patriarki yang sudah mendarahdaging, dan menjadi dasar diwajarkannya tindakan kekerasan terhadap istri atau anggota keluarga lain yang berada dalam posisi subordinat. Selain itu juga bagaimana melibatkan konstituen dalam pengawalan RUU/UU yang masih diskriminatif terhadap perempuan. ***                 

Jakarta, 11 November 2006

Ditulis oleh Estu R.Fanani, untuk Penelitian BPHN_tentang pelaksanaan UU PKDRT 



{Juli 5, 2007}   Semalam Hujan, Sahabat….

 “Tapi aku ingin mencintai dan saling mencintai, Tin…”, ungkapmu tegas ketika aku mengingatkanmu. Aku hanya bisa sedikit berfilosofi bahwa memang pemaknaan akan cinta bagi tiap orang berbeda, dan itulah yang menyebabkan mengapa cinta begitu sulit disatukan.

Kau pun terdiam lama, hingga akhirnya meluncur kata-kata putus asa atau hanya upayamu menghindari kenyataan. “Aku letih, Tin….”

Aku pun ikut terdiam. Kamar pun hening, membiarkan bergulung-gulung kalimat berpendar di langit-langit tanpa tahu kapan akan membumi.

***

Hujan malam ini turun hanya sebentar, menyapa gersangnya bumi, aku terbuai feromon yang disebarkan bumi karena hujan. Kunikmati heningnya malam yang penuh stimulus ini, hampir klimaks, ketika bunyi SMS membuyarkan gairah. Dengan malas-malasan aku mengambil HP tua itu dari meja. Masih dengan mata setengah menarawang, ku tahu itu darimu Argo.

“Ada apa lagi ini ya…tengah malam begini SMS, ganggu orang terbuai angan saja…” gumamku.

Terbaca di layar, “Tin, Riry sayang padaku, tapi dia tak bisa menikah denganku, karena dia tidak mau meninggalkan pacarnya. Karena dia kasihan dengannya. Aku jadi kacau nih.”

Aku termenung sebentar, ada getar aneh menelusup hati. Senang? Sedih? Simpati? Sayang? Entahlah… Aku tidak tahu. Yang jelas, aku sudah mempunyai feeling akan kejadian ini. Bukankah ini yang aku harapkan dari semua yang kau ungkapkan?

Akupun membalas SMSmuu dengan berlagak menjadi teman yang bijaksana. “Ya sudahlah Go, jika Riry sudah mengambil keputusan seperti itu. Bukankah menjadi jelas pertanyaanmu selama ini? Hargai keputusan dia dan jangan kamu memaksanya untuk meninggalkan pacarnya itu.”

“Aku tidak memaksanya Tin, aku justru yang menyarankan dia untuk tidak meninggalkan pacarnya. Hanya… Aku meminta dia untuk tidak meninggalkanku saat ini saja”, begitu balasmu.

“Ya baguslah kalau begitu. Yang sekarang harus kamu lakukan adalah istirahat menenangkan jiwam, dan mengalihkan energi cintamu ke hal-hal yang lain. Jangan bersedih, sungguh sayang jika energi cintamu yang besar itu disia-siakan”, aku pun membalasnya.

“Aku berusaha untuk tidak bersedih! Tapi ada getar aneh yang membuatku tidak mampu menahan air mata ini!” balasmu segera.

Lama jariku melayang di atas keypad ini, bingung mau menjawab bagaimana. Jika kau ada disampingku saat ini Argo, ingin kurengkuh tubuhmu yang kurus itu. Ingin ku temani kamu dalam sedihmu.

“Argo, rasakanlah udara malam ini, rasakan hembusan anginnya… Aku ada disitu…memelukmu, membelaimu dan menemanimu”, tiba-tiba tertulis seperti itu di layar HP dan sudah terkirim. Aku tercenung dengan isi SMS yang barusan kukirim. Lama tidak ada jawaban. Aku pun bersiap tidur kembali. Nit…nit…nit… baru rebahkan tubuh ketika akhirnya ada bunyi SMS dan aku menduga darimu. Benar!

“Makasih Tin, aku akan berusaha untuk tidak sedih. Kamu baik sekali teman. Hanya kamu seorang yang dengan tulus menyayangiku.

Aku terdiam setelah membaca SMSmu itu. Dan memutuskan untuk tidak membalas, mencoba beristirahat.

***

“Aku kesepian Tin,” kembali muncul SMS darimu. “Aku butuh teman Tin, malam begitu menakutkan” lanjutmu.

Dengan nyeri di dada, aku membalas “Aku akan menemanimu Argo, jangan pernah bersedih dan jangan pernah merasa kesepian”.

“Aku sepertinya depresi Tin, kadang gembira banget, tapi kalau sedih, sedih banget. Aku butuh teman Tin”, SMS balasanmu seperti itu.

Dengan sedikit emosional aku menjawab, “Argo, kamu jangan terpuruk begitu dong!. Resiko orang mencintai adalah diterima atau ditolak. Kamu harus sadari itu”.

“Nasib cintaku memang tragis Tin. Ketika banyak yang memilihku, aku memilih yang lain. Ketika aku memilih, dia memilih yang lain” lanjutmu.

“Kata orang bijak, berbahagialah orang yang dicintai banyak orang, karena energi positif dari cinta membawa kebaikan”, kembali aku mencoba berbijak dengannya. Curahan hati Argo cukup menguras energi dan perasaanku.

“Tapi aku tidak sepertimu Tin, yang bisa mencintai tanpa mengharap balas apa pun. Kamu begitu kuat dan teguh. Sedangkan aku… Kelihatannya saja kuat dan mandiri, padahal rapuh dan putus asa”, balasmu.

Bagai dihantam godam, perasaanku yang selama ini aku pendam menjadi bergolak. Aku marah membaca SMSmu.

“Kamu salah jika menilai aku seperti itu! Aku ingin dan berharap balasan akan cintaku itu. Tapi aku tahu diri sampai dimana pengharapanku!” balasku.

Sepertinya, kamu menyadari kemarahanku, karena kamu pun kemudian buru-buru minta maaf.

Kamu pun membalas “Makasih Tin…Aku letih banget jiwa dan raga…Dadaku sesak banget, kalau malam air mata tidak bisa ditahan, mengalir terus”.

Dengan sedikit sesak dan getir yang menyeruak, aku menutup pembicaraan lewat SMS ini. “Istirahatlah, semoga energi cinta dari orang-orang yang mencintaimu, kan melingkupimu, menjagamu dan menguatkanmu…”

“Terimakasih Tin, semoga aku kuat…aku kuat…aku kuat…” SMS terakhirmu malam ini.

***

Selasa sore kamu menghubungiku, memintaku menemanimu mencari kamera untuk keperluan kerja. Dan kau pun menjemputku untuk pergi ke Benhil. Setelah kamu mendapatkan apa yang kamu cari, kita pun pulang ke rumah yang sudah kau anggap rumah sendiri. Rumah di mana kamu merasa nyaman tinggal di dalamnya dan bisa berlama-lama tidur sampai pagi.

Saat kita berdua terhanyut musik yang mengalir dari compo di pojok ruangan kamarku, kamu pun mulai menceritakan hal yang membuatku semakin getir dan nyeri.

“Tin, pernahkah terlintas keinginan untuk menikah?” tanyamu.

“Aku ingin menikah jika ada kesempatan, jika ada yang mengajak dan ada yang mau diajak menikah”, jawabku.

“Aku sekarang sedang merasakan dorongan yang kuat untuk menikahi seseorang”, lanjutmu.

Aku terdiam, sedikit berharap dia akan menyampaikan hal yang terindah.

“Kenapa kamu berkeinginan untuk menikah, Argo? Bukankah kamu merasa trauma untuk menuju ke pernikahan, karena kamu mendapatkan contoh yang kurang sempurna tentang pernikahan dari lingkunganmu? Keluargamu, teman-temanmu?”, tanyaku mencari kepastian.

“Aku juga tidak tahu. Tapi dorongan ini begitu kuat. Seperti ada yang mengatakan –kamu harus menikah dengan dia– begitu berkali-kali”, jawabmu.

“Siapakah perempuan yang beruntung itu?”, tanyaku.

“Dia Riry teman sekantorku. Dia tidak cantik tetapi cerdas dan beda dengan perempuan kebanyakan. Seperti juga perempuan-perempuan yang dekat denganku. Hanya saja, aku merasakan hal yang beda jika berjalan dan berbincang dengan dia” jelasmu panjang.

Gedubrakkk!!!

Hatiku serasa berhenti mengalirkan darah ke seluruh tubuhku. Aku seperti kehabisan oksigen untuk sementara waktu. Hening sejenak. Aku teringat Argo dulu pernah bercerita kalau ada teman sekerjanya yang baru. Tapi dia tidak dekat dan tidak mempunyai perasaan apapun dengannya. Ternyata selama ini sudah terjalin komunikasi yang mendekatkan mereka. Ku tata hatiku untuk berdenyut lagi.

“Terus, bagaimana dengan dia? Sudah kamu ungkapkan kepadanya keinginanmu itu?”, tanyaku lagi.

“Dia juga merasakan hal yang sama denganku. Dia merasa beda dan nyaman ketika jalan denganku, menghabiskan waktu senggang denganku. Berbeda ketika dia jalan dan menghabiskan waktu bersama dengan kekasihnya. Dia ingin menikah secepatnya tetapi kekasihnya belum ingin cepat-cepat menikah. Dia tidak bisa meninggalkan kekasihnya karena itu pernah terjadi sebelumnya dan dia merasa bersalah”, ceritamu.

Aku hanya bisa menghela nafas dengan berat dan terpekur beberapa saat.

“Terus, bagaimana dengan kekasihmu sekarang? Yang sudah lama kamu jalin?”, tanyaku.

“Itulah… Orangtuanya sudah mendesak-desak kami untuk segera menikah. Karena melihat hubungan kami sudah cukup lama dan serius. Tapi aku tidak ingin menikah dengannya. Sudah tidak ada rasa lagi diantara kami”, jelasmu.

“Tapi, kenapa tetap kamu jalani hubungan seperti itu, jika sudah tidak ada rasa cinta lagi?’, sergahku.

“Itu hanya karena aku tidak bisa menghindar dari balas budinya. Dia terlalu baik. Dia yang menyelamatkanku dari kekacauan hidupku di masa lalu. Aku tidak bisa menolaknya”, lontarmu berapologi.

Aku kembali terhenyak. Terpikir olehku, apakah semua laki-laki akan menjerumuskan dirinya dalam balas budi? Apakah laki-laki tidak bisa membedakan antara balas budi dan cinta kasih? Ataukah laki-laki begitu jahat memanfaatkan kebaikan dan rasa sayang dari seorang perempuan yang peduli dengan hidupnya? Semakin aku terpusing dengan pikiranku sendiri.

“Lantas bagaimana rencanamu ke depan berkaitan dengan keinginanmu menikahi Riry?”, tanyaku lebih lanjut.

“Berat juga sebenarnya. Tapi aku harus lakukan hal ini”, jawabmu pendek.

“Kamu tidak bisa menggantung cinta seorang perempuan Go. Kamu harus memberikan kejelasan status, sekali pun itu sulit dan menyakitkan bagi semuanya. Kamu harus ungkapkan dan jelaskan kondisi serta keinginanmu kepada kekasihmu dan juga Riry. Kamu harus lakukan itu. Secepatnya lebih bagus. Lebih baik sakit di awal daripada sakit di belakangan hari, yang berarti akan lebih sakit jadinya. Jika kamu ingin mendapatkan kebahagiaan, kamu harus mengusahakannya sekuat tenaga. Dan harus memikirkan resikonya juga, baik yang menyakitkan maupun yang menyenangkan”, jelasku panjang lebar mengingatkan dia.

Aku tidak ingin perempuan-perempuan itu tersakiti lebih lama. Utamanya kekasih Argo yang sudah begitu lama menjalani ketidakjelasan hubungan dengan Argo.

“Yach…aku memang harus memutuskan hal ini. Aku akan menyelesaikan hubunganku dengan kekasihku dan bicara baik-baik dengan orang tuanya. Bersamaan dengan itu, aku akan ungkapkan perasaanku pada Riry dan mengajaknya menikah. Semoga semuanya bisa berjalan dengan baik”, harapmu kemudian.

Hening kembali menyergap kamar ini. Aku dan Argo berkecamuk dengan pikiran dan perasaan kami masing-masing. Sampai pagi datang kami masih dalam pikiran masing-masing tanpa bisa istirahat.

***

Pagi di akhir Agustus, kicau burung gereja masih saja tak lelah mewarnai depan kamarku. Seakan tidak pernah lelah jalani hidup dan tanggungjawab. Semalam hujan turun dengan enggannya. Seperti diriku enggan jalani hidup pagi ini. Tanpa kusadari, ku terperangkap dalam cinta tak bersambut. Cinta kepada seorang sahabat. Cinta yang untuk kesekian kalinya tertampik. Hanya bisa menunggu dan berharap. Sampai kapan pencarianmu, sahabat? Sampai di mana perhentianmu, sahabat? Di sini menunggu hati yang siap kamu labuhi, sebagai perhentianmu yang sudah di ujung masa. Namun, kusadar akan sia-sia jika terus menunggu, menjadi dermaga bagi hatimu. Aku harus berani bertransformasi diri. Aku tidak ingin menjadi dermaga bagi biduk yang ingin berlabuh. Aku ingin menjadi setetes hujan, yang bebas, mempunyai keinginan, yang akan jatuh kemana nanti itu adalah pilihan sadarku. Yach, aku ingin menjadi setetes hujan bagi diriku sendiri dan bagi makhluk lain. Waktu dan tempat yang tepatlah yang menjadi pilihanku untuk aku bisa menjatuhkan diriku, yang akan memberikan kesegaran dan harapan baru bagi yang menerimanya. Seperti setetes hujan yang menyegarkan bunga di depan kamarku. (erf) 



{Juni 25, 2007}   LARON

Jarum pendek jam dinding di ruangan kerjaku telah berpindah ke angka 5, yang berarti, jam kerjaku sudah habis. Sebentar lagi pasti riuh ruangan ditingkahi orang-orang beberes siap pulang atau pergi ke acara lain untuk sekedar refreshing. Aku masih termenung memandangi jarum pendek tadi yang sepertinya tidak rela bila harus selalu didahului satu putaran jarum panjang. Hal ini membuatku berpikir, sebenarnya, lebih dahulu yang mana yang diciptakan? Jarum panjang atau jarum pendek? Seperti juga aku selalu berpikir mengenai penciptaan laki-laki dan perempuan, yang sampai saat ini banyak mitos melingkupinya. Apakah benar Adam diciptakan lebih dulu dari Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam untuk menemaninya? Ataukah Hawa dan Adam sama diciptakan sebagai manusia dari segumpal tanah? Ataukah Adam dan Hawa merupakan satu hasil evolusi sempurna dari makhluk-makhluk primata?

Semakin aku memperhatikan jarum itu berputar, semakin banyak pula pikiran-pikiran ngelantur melingkupi kepala. Karena semakin pusing dengan pikiran ala filsuf itu, dengan berat hati aku memutuskan rajutan benang lamunanku. Akhirnya aku pun merapikan meja dan bersiap pulang.

***

Menyusuri jalan kecil ini sehabis hujan deras selalu saja mengingatkanku akan suasana di kampung. Sebuah desa miskin dan gersang di wilayah yang merupakan lumbung padi. Terkadang aku berpikir, apakah ini suatu hukuman terhadap desaku yang menurut tuturan nenek, dulunya dikenal sebagai tempat persembunyian para gali. Sejak kecil, aku selalu keras menolak hal ini dan menyalahkan penguasa yang pilih kasih melakukan pembangunan desa. Orang desaku baik-baik dan pekerja keras, anak-anaknya lucu-lucu. Bukan suatu penggambaran dari turunan begundal. Kalaupun iya, tidak semua keturunan begundal ikut menjadi begundal. Tapi, kenapa kami-kami harus menerima hukuman dengan kemiskinan desa kami ini? Ini adalah pemikiranku, karena ibuku selalu mengajarkan bahwa manusia dan makhluk ciptaan Tuhan mempunyai dua sisi kehidupan, baik dan buruk. Terserah makhluk itu sendiri akan menjadi buruk atau baik. Meski tidak dipungkiri lagi faktor eksternal kehidupannya ikut menyumbang pembentukan pribadinya. Desa Tritis, itulah nama desaku. Berasal dari kata Tritisan yang dalam bahasa Jawa artinya beranda, emperan atau pinggiran. Seperti namanya, desaku hampir selalu terpinggirkan dalam segala hal, termasuk pembangunan. Jadi sudah menjadi kebiasaan masyarakatnya untuk selalu berusaha sendiri dalam mencukupi dan memakmurkan desanya. Termasuk juga anak-anaknya. Sehabis hujan deras seperti saat ini, kami akan segera saja keluar rumah untuk mencari liang gonteng1) , yang berarti disitu nanti akan banyak laron keluar. Berarti juga, akan makan enak karena ada lauk makan teman nasi jagung2) atau nasi tiwul3). Setelah terkumpul banyak, laron-laron tersebut dihilangkan sayapnya untuk kemudian dibikin rempeyek atau digoreng ‘klathakan’4) dan dijadikan lauk sarapan. Hmm, rasanya renyah, gurih, dan berprotein tinggi. Namun, tidak setiap orang suka dan cocok dengan laron ini. Karena jika tidak cocok dapat menderita alergi, gatal-gatal ataupun bengkak dan bintil-bintil di kulit tubuhnya.

Tak terasa, aku sudah mendekati halte tempat biasa aku menunggu bis pulang. Sambil menunggu bis, aku membaca buku kesukaanku, Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan yang tinggal sedikit halaman lagi selesai. Buku ini bagiku bagus dan patut dibaca semua orang, karena merupakan salah satu karya sastra terbaik menurut aku. Dengan cantiknya Eka Kurniawan menuliskan kisah seorang perempuan pelacur di masa Belanda yang mempunyai beberapa anak, dan kemudian anak-anaknya tersebut mempunyai kisah cinta dengan pemaknaan masing-masing. Dan bagaimana kisah anak perempuan terakhirnya yang berwajah jelek, berkulit hitam dan misterius ternyata mempunyai cinta impian terhadap kakaknya. Kekompleksan cerita tersebut berhasil ditulis dengan alur yang tidak terduga dan mengalir, membuat pembaca menjadi penasaran dan tidak bosan untuk membacanya sampai dua kali.

Ditengah keasyikanku membaca, sekilas ekor mataku menangkap kedatangan seorang perempuan muda –sebenarnya masih anak-anak– dengan penampilan yang berani dan sedikit berlebihan menurutku. Konsentrasiku mulai terpecah dengan kedatangan teman-temannya yang kemudian berkelompok di sudut halte. Aku pun memutuskan untuk menutup dan menyimpan bacaanku ke dalam tas. Menengok ke jalan dan mendapati bis ku belum juga datang, aku pun memilih mendengarkan percakapan sekumpulan anak gadis tadi dan memperhatikan tingkah centilnya.

Melayang pikiranku ke masa ketika aku seumuran mereka. Keluguan anak gadis di masa ku, tidak aku temui di mereka. Apakah ini karena modernitas yang dengan cantiknya meluluhlantakkan kesederhanaan, kesahajaan dan kehati-hatian orang Indonesia? Gemerlap dan keriuhan kota ternyata mampu menjadi daya tarik yang kuat bagi anak-anak gadismu Ibu. Mereka pun melupakan nasihat dan kehati-hatian yang selalu Ibu coba suapkan setiap hari. Kehidupan hanya mereka pikirkan untuk saat ini, mereka melupakan apa yang seharusnya mereka lakukan untuk ke depannya. Yach, seperti laron yang tidak memikirkan apakah ketika dia keluar dari lubang sarangnya akan ditangkap atau dapat terbang bebas. Jikalau dia mencoba meninggalkan pasukan gontheng-nya, maka kesesatan akan dihadapinya. Tapi, ketika dia mengikuti gonteng maka dia akan terbang bebas.

Pluk!!! Satu laron jatuh di ujung kakiku, berusaha terbang lagi meski sayapnya sudah patah satu. Menggelepar dan terus berusaha terbang, meski akhirnya hanya bisa merayap karena semua sayapnya akhirnya lepas. Aku pun mendongak ke atas, ternyata sudah banyak laron yang mengelilingi lampu neon halte. Fyuuuh…Aku pun menghela nafas. Seperti laron yang ternyata juga tertarik dengan terang lampu. Sampai kapankah mereka bertahan dan beterbangan di sekeliling lampu itu tanpa harus terbakar kepanasan karena terangnya untuk kemudian jatuh lemas dan mati? Akankah seperti ini nasib anak-anak gadismu Ibu Pertiwi? Terlalu silap dengan gemerlapnya ibu kota dan melupakan kehati-hatiannya karena itu hanya tipuan untuk menarik pesona mereka, untuk kemudian mereka berjatuhan karena penyakit menular dan kematian? Ataukah kita harus menangkapi mereka satu-satu dan menampung mereka meski kemudian harus menanggung ketidakberdayaan atau kematian mereka karena akses yang terbatasi. Ataukah kita harus mencopot lampu agar mereka tidak lagi tertarik dengan terang dan gemerlapnya itu dan membiarkan mereka terbang di kegelapan malam kampong halaman? Mana yang terbaik masih harus terus dipikirkan, agar anak-anak gadismu Ibu, tidak terjebak dalam kehidupan semu itu.

Sebuah mobil berhenti pelan di depan ku, dan aku pun masuk kedalamnya, menembus pekatnya malam di tengah gemerlapnya kota.

*** (erf)***

1) Gonteng merupakan istilah dalam bahasa Jawa untuk menyebut serangga prajurit/pekerja yang selalu mengiringi dan melindungi Laron ketika keluar dari lubang sarangnya.

2) Nasi jagung dibuat dari jagung yang digiling/ditumbuk sehingga menyerupai butiran lembut beras. Untuk kemudian dimasak seperti kalau kita memasak nasi beras.

3) Nasi tiwul adalah nasi yang dibuat dari tumbukan ketela pohon hampir seperti nasi jagung

4) Klathakan adalah digoreng tanpa tepung, telur atau adonan lainnya.  

Kp. Gedong dini hari, 12 September 2006



{Juni 24, 2007}   Percaya Ramalan Zodiak?

Mungkin, sebagian dari teman-teman ada yang percaya dengan ramalan bintang, dan ada yang tidak. Entah untuk melihat karakter kepribadian, peruntungan, ataupun kesuksesan dalam cinta dan pekerjaan.

Kalau diriku, sedikit percaya akan ramalan yang berdasarkan zodiak. Tapi akan lebih banyak percaya kalau sudah terbukti tentunya, hehehhe. Tetapi akhir-akhir ini, tengoklah inboks messege yang ada di HP-ku. Hampir 2/3 kapasitasnya diisi dengan ramalan zodiak harianku, karena sebulan ini aku iseng berlangganan ramalan harian.

Nach, zodiakku kan Virgo –hmmmm, zodiak paling keren dari seluruh zodiak yang ada, kqkqkqkkqkqkqkqkqk–. Zodiak dengan lambang seorang perempuan cantik untuk periode 22 Agustus s/d 22 September. Tahu nggak, aku selalu bangga dengan zodiakku ini. Sama bangganya aku dengan golongan darahku yang AB. Keduanya menggambarkan kondisi riil akan keadaan diriku, dimana aku adalah seorang perempuan dari Jogja, hihihi. Entah ini kebetulan atau karena Tuhan benar-benar sayang sama aku. Aku sangat bersyukur dengan “kebetulan” dari Tuhan ini. Atau, karena orang tuaku yang begitu pandainya merencanakan kelahiranku ke dunia ini? Orangtuaku, terutama bapak yang dulu masih sering menggunakan perhitungan-perhitungan Jawa untuk menjalani kehidupan ini. Perhitungan hari baik dan peruntungan nama serta perilaku yang bagi orang Jawa menjadi semacam keyakinan yang harus dilakoni jika ingin mempunyai kehidupan batin yang luhur. Aku sedikit banyak menyimpan memori tentang ngelmu urip yang seringkali diajarkan secara tidak langsung oleh orangtuaku. Aku melihat disekitarku bahwa ajaran dan petuah bijak dalam menjalani hidup ini membawa banyak orang dapat berbuat bijak dan mengasihi orang lain.

Kembali lagi ke ramalan harianku di HP. Dengan perasaan yang serba setengah, aku pun selalu mencoba mencocokkan apa yang diramalkan dengan apa yang kuhadapi hari ini maupun kemarin. Kalau hari esok, aku tidak tahu karena ramalan ini kan datang di pagi hari, jadi yang aku merasa dibantu untuk mempersiapkan aktivitas di hari ini saja.

Jika ramalan tersebut hampir sama, aku jadi tertawa sendiri. Tidak jarang aku juga memforward ke kawanku, jika ramalan tersebut terkait dengan pembicaraanku dengan kawan, di hari atau malam sebelumnya. Apalagi jika terkait dengan kehidupan seksual atau gaya bercinta, wahhh pasti sms tersebut akan berlanjut menjadi diskusi yang seru, hehehe. Tapi, tidak jarang aku takut sendiri dengan ramalan jika itu diluar kemauanku. Yach, terkadang ada rasa takut ramalan itu jadi kenyataan. Jika aku siap sih tidak masalah, jika terwujudnya ketika aku pas tidak siap? Kan berabe tuh…Jadinya sih, percayai aja yang bagus-bagus, yang jelek hiraukan saja, yang ringan jalanin terus, nah yang berat bisa dijinjing, digendong, diangkat, atau dihindari…semua terserah kita kan. Namanya juga ramalan. Luv u all 



{Juni 22, 2007}   Gerimis Yang Menjadi Hujan

Sore ini tidak lagi cerah…Meski hujan telah berhenti lama. Entahlah, apa yang dipikirkan May dalam perenungan senjanya di depan jendela itu. Dia begitu serius mengikuti guliran tetes air sisa hujan yang tempias di kaca. Sesekali ibu jarinya ikut menggores seperti hendak mencarikan jalan bagi tetesan hujan itu. Dia pun tak hiraukan hembusan angin yang membawa hawa dingin Baturaden menerobos masuk menusuk tulang ini. Padahal, aku terus saja bergelung dibalik selimut tebal tanpa ada niatan meninggalkan kehangatan ini. Meski tetap saja dingin menelusupi tubuhku, karena terbukanya jendela tempat di mana sosok May sekarang memandang jauh ke bukit Cendana yang samar oleh kabut.

Aku tidak tahu, apakah serpihan ingatan May kembali ke masa di mana kami berlima sahabat sering menghabiskan waktu di sana jika suntuk menyeruak di kehidupan kami. Itu adalah masa lima tahun lalu ketika kami masih di awal masuk kuliah di fakultas Pertanian Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto. Sekarang, hanya tinggal aku dan Nisa yang masih di kota ini, sedang May dan Jo di Jakarta dan Sasi di Semarang.

Saat ini, aku sedang menemani May yang dengan tiba-tiba muncul pada subuh kemarin di depan kos ku dengan backpack ukuran sedang di punggungnya. Waktu itu, rasa rindu lah yang mendominasi perasaanku sehingga langsung saja pelukan hangat dan erat yang aku berikan padanya. Tidak ada satu pertanyaan pun terlintas di pikiran, apa gerangan yang membawa May datang kesini. Bahkan hingga sekarang ini belum jua ada pernyataan keluar dari mulut tipisnya May yang semakin cantik ini.

Setelah kedatangannya kemarin, kami berdua bernostalgia dengan mengenang hari-hari kebersamaan kami dan menyempatkan mampir ke rumah Nisa yang sekarang sedang menantikan kelahiran anak keduanya. Yach…memang dibanding kami berlima, Nisa lah yang lebih dulu melepas masa lajangnya. Teringat bagaimana hebohnya kami menyiapkan pesta lajang bagi Nisa dan berusaha mati-matian sampai mengancam akan menculik calon suaminya jika tidak mau datang ke pesta lajang kami. Aku dan May tertawa ketika mengingat wajah cemberut dan kesalnya Nisa karena kami paksa datang ke pesa lajang kami yang berakhir dengan kekacauan.

Pertanyaan-pertanyaan tentang kabar diriku, Sasi, dan Jo kemudian bergantian muncul dari bibir May. Baru kusadari jika ternyata hanya kami berempat lah yang masih sering berkomunikasi. May jarang dan susah sekali menghubungi dia. Pekerjaan sebagai seorang programmer dan desain web site membuat dia super sibuk dan sering ke luar negeri. May seperti tersaput kabut, hilang tersamar di kota Jakarta. Meskipun Jo dan May satu kota ternyata tidak menjamin untuk mereka sering bertemu.

Dengan senang hati aku memberikan kabar bahwa diriku sedang menanti beasiswa S2 ke suatu universitas di Jepang. Tempat di mana aku selalu mengangankan tinggal sementara waktu sambil menikmati guguran bungan Sakura. Jo sedang asyik dengan bisnisnya di bidang advertising dan EO-nya. Sedang Sasi sedang menikmati bulan madunya dengan Gasal, kakak tingkat kami.

Tiba-tiba, di saat aku terhanyut dengan kilas balik pikiranku, May menangis sesenggukan. Raut sedih menerawang di wajahnya. Aku pun segera saja bangun dan menghampirinya. Agak panik aku berusaha menenangkannya dan mengajaknya duduk di sofa. Aku pun bertanya dengan hati-hati apa yang menyebabkannya menangis tiba-tiba.

Dengan masih sesenggukan pelan, May bercerita, “Tik, kamu pasti tidak percaya kan kalau aku sudah tidak perawan sejak dari kuliah dulu. Bahkan aku sudah punya anak”. Aku pun terkesiap, namun ku coba untuk tidak menanyakan lebih jauh.

Aku hanya menanggapi sekedarnya, “Ndak masalah lagi May, kamu masih perawan atau tidak, sudah punya anak atau belum. Bagiku bukan hal yang prinsip, justru yang penting adalah kecantikan hati dan jiwa kita. Kamu memiliki itu May”, hiburku.

May hanya tertawa pelan sambil berjalan lagi ke jendela tadi. Sambil memandang jauh ke arah bukit Cendana, dia berujar. “Kamu pasti akan kecewa jika aku berterus terang. Bahkan Nisa, Jo dan Sasi akan sangat membenciku”.

“Memangnya apa yang telah kamu perbuat May?” tanyaku sedikit penasaran.

“Tapi kamu janji kan Tik, untuk tidak menceritakannya pada yang lain? Aku hanya menceritakan hal ini kepadamu, karena aku anggap kamu adalah sahabat yang paling baik. Lagian, dari dulu kan kamu memang yang paling netral diantara kita berlima”, pinta May.

Aku pun mengiyakan permintaannya tersebut. “Aku janji May untuk tidak menceritakan kepada yang lain. Akan aku simpan sendiri cerita ini”.

Hening sejenak kamar ini, untuk kemudian helaan nafas panjang May terdengar sebelum ia bercerita.

“Aku kehilangan keperawananku di semester akhir sewaktu kita liburan habis skripsi. Kamu ingat kan waktu itu aku yang paling sering absen kumpul-kumpul hingga aku meninggalkan kota ini tanpa pamit? Waktu itu aku sering mendaki ke bukit Cendana tanpa sepengetahuan kalian. Di tempat itulah aku kehilangan keperawananku hingga kemudian aku sadari aku hamil. Aku panik karena aku waktu itu belum siap, meski ada yang mau bertanggungjawab. Aku bersikukuh untuk tidak meneruskan kehamilanku”.

“Memangnya kamu melakukannya dengan siapa May?” sela ku.

May tidak menghiraukanku. Dia terus saja bercerita.

“Aku kemudian sibuk mencari informasi di mana aku dapat melakukan aborsi. Bahkan sampai ke Semarang pun aku jalani. Hingga akhirnya aku mendapat informasi kalau di sini ada seorang paraji yang sering menolong ibu menggugurkan kandungan karena anaknya sudah terlalu banyak. Akhirnya aku pun meneguhkan hatiku dalam menjalani keputusanku ini.”

“Sudah lama aku ingin membuka rahasiaku ini Tik. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat bagiku, apalagi dengan menghindari kalian, sangat berat Tik!”, ungkapnya.

Aku diam saja, mencoba merenungi kembali waktu-waktu di mana May menghilang tiba-tiba sampai hari kemarin. Tersadar aku bahwa ada benang putus dari serangkaian kisah hidup kami bersama. Yang hari ini sedikit demi sedikit mulai tersambung dengan susah payah.

“Kamu tahu Tik, di kaki bukit Cendana itulah paraji itu tinggal. Dan di sana pula lah aku menguburkan calon anak ku. Calon keponakan-keponakan kalian juga. Dari seorang laki-laki yang juga kalian sayangi sebagai seorang pelindung ketika mendaki gunung.”

Aku semakin tercenung mendengar terusan ceritanya, sembari menduga-duga siapakah laki-laki calon suami bagi May.

“Ini pula lah alasan yang membuatku tidak menghadiri pernikahan Sasi bulan lalu. Karena masih berat bagiku untuk bertemu dengan Gasal, lelaki yang selama hampir enam bulan terus mendekatiku dan merayuku hingga aku tak mampu lagi bertahan. Melupakan persahabatan kita. Itulah mengapa aku kemudian lari dari kalian, karena aku tidak mampu menutupi ketidakmampuan dan kepengecutanku. Maafkan aku Tik, karena aku telah menjadi duri yang menyakitkan bagi kalian dan terutama bagi Sasi. Aku selalu tidak tega berterus terang pada Sasi, apalagi jika wajah polosnya itu sudah diikuti dengan air mata yang mengambang. Yach…aku hanya bisa cerita sampai di sini saja, sampaikan salam dan maafku pada semuanya. Tetaplah menjadi temanku dan pelindung bagi Sasi. Jangan sampai peristiwa ini terulang lagi, kuatkanlah dia dan selalu ingatkan Gasal untuk hanya mencintai Sasi dan lupakan May. Itu pintaku Tik, kamu bisa kan? Pliss, ya…”, May menghampiriku dan bersimpuh di pangkuan ku.

Aku pun hanya dapat mengirup kesegaran udara malam ini dalam-dalam sambil membelai kepala May lembut. Malam ini turun gerimis yang dengan cepat menjadi hujan, seperti juga kami berdua yang menumpahkan air mata kesedihan dan kegalauan bersama sambil berpelukan. Kami biarkan jendela terbuka dan tampias hujan memasuki kamar. Biarlah kesegaran yang basah ini memasuki kamar dan hati kami, berdua saja. (erf)

Kala hujan awal Desember, 2006 



Dalam satu milis yang saya ikuti, terjadi diskusi yang panjang mengenai Relativitas Gender. Diskusi yang tadinya tidak begitu saya ikuti menjadi menarik karena ada satu member yang menurut saya pemikirannya sangat dangkal dan sempit dan hanya berdasarkan pada keegoisan dia sebagai laki-laki dalam memandang hubungan timbal balik antara perempuan dan laki-laki dan menggunakan analogi kehidupan monyet untuk menjelaskan hal tersebut.

Setelah mengikuti diskusi tersebut, terpikir saja untuk membuat tulisan berikut ini. Dan sengaja tulisan ini tidak saya forward ke milis tersebut karena saya sudah capek dengan diskusi yang menghadapkan pada orang yang tidak mau membuka pikiran dan jiwanya. Sia-sia saja sepertinya jika menanggapi orang seperti itu, meskipun mungkin banyak dari teman-teman yang tidak sependapat dengan sikap saya ini. Tapi, biarlah orang-orang yang mau terbuka pikirannya untuk kemudian mau peduli dengan sesamanya yang akan membaca tulisan ini. Semoga bisa menginspirasi mereka.

Jika membahas hubungan atau relasi perempuan dan laki-laki, pasti akan banyak pikiran yang pro dan kontra. Dari pikiran yang memang harus melakukan perubahan dan memberikan kesempatan pada perempuan, sampai pada pikiran yang memang perempuan sendiri yang mau dipimpin. Bahkan sampai pada analogi manusia dengan monyet dimana monyet yang besar, kuat dan mempunyai pasangan yang banyak lah yang bisa menjadi pemimpin.

Berdasarkan pemikiran itu, dan untuk menanggapi hal itu, maka saya hanya ingin mengungkapkan hasil pembelajaran visual saya dari sebuah film tentang kehidupan sekelompok pinguin dalam “March in Pinguin”.

Film yang berdurasi lumayan panjang ini sangat bagus dan menggambarkan bagaimana kehidupan berpasang-pasang pinguin dalam upayanya untuk dapat survive di kondisi lingkungan yang ekstrim.Tapi yang jelas, yang dapat kita tangkap sebagai pelajaran dari film itu adalah, bagaimana pasangan pinguin ini saling bantu dan saling berbagi peran dari mulai membina hubungan sampai memelihara keturunan dan keberlangsungan hidupnya. Dalam film ini, terungkap bagaimana pasangan pinguin itu melakukan pendekatan. Pendekatan yang penuh cinta dan kelembutan tanpa ada dominasi, bagaimana mereka saling mengeluarkan aura (inner beauty) masing-masing untuk mendapatkan pasangannya. Dan bagaimana mereka memegang prinsip monogami sampai mau memisahkan. Saling setia adalah prinsip pinguin tersebut. Sepertinya kita sebagai manusia yang diberi kelebihan oleh Tuhan dibanding makhluk hidup lainnya justru harus banyak belajar dari Pinguin ini.Begitu pun ketika mereka memadu kasih, penuh kelembutan. Belum lagi cara mereka survive dan menjaga kelangsungan hidupnya. Mereka saling bergantian untuk mencari makan dan mempersiapkan kehidupan bagi anaknya dan keberlangsungan generasi mereka. Perjuangan ketika mereka menjaga bakal calon anaknya pun sangat berat dan penuh dengan perngorbanan dari masing-masing pinguin tersebut. Bahkan para pinguin tersebut lebih realistis dari kita manusia. Buktinya, ketika mereka harus menjaga bakal calon anaknya, mereka tetap memikirkan bagaimana mereka harus bertahan hidup juga untuk nantinya dapat membesarkan anak-anaknya kelak. Mereka saling bergantian menjaga dan mencari makan meskipun itu harus pergi meninggalkan pasangannya dan bakal calon anaknya dalam waktu yang lama karena mereka mesti pergi dari tempat tinggalnya untuk mendapatkan tempat sumber makanan yang baru. Kemudian mereka pulang dan menggantikan pasangannya untuk menjaga bakal calon anaknya dan memberikan kesempatan pada pasangannya itu mencari makanan untuk menggantikan energy yang dipakai menjaga bakal calon anaknya.

Di film ini memperlihatkan bagaimana mereka saling menghargai pekerjaan pasangan baik itu pekerjaan yang terkait dengan reproduksi maupun pekerjaan yang terkait dengan survival mereka. Seperti juga bagaimana manusia –perempuan dan laki-laki– seharusnya saling menghargai pekerjaan masing-masing tanpa membedakan itu pekerjaan domestik-publik atau pekerjaan reproduksi-produksi dan dengan sadar saling bahkan mau berganti peran dalam pekerjaan-pekerjaan tersebut. Bahkan ketika mereka harus kehilangan bakal calon anaknya, mereka pun saling menghibur dan justru tidak meninggalkan pasangannya. Begitu pun jika mereka belum mempunyai anak, maka mereka akan ikut mengasuh dan membesarkan anak-anak pasangan lainnya. Sungguh sangat faunais (humanis). Mereka justru lebih manusiawi dari manusia itu sendiri. Ternyata, manusia yang katanya mempunyai kelebihan akal, budi dan perasaan dalam praktek kehidupannya justru malah terkadang sangat jauh ‘nilai kesahajaannya’ dibandingkan dengan pinguin ini. Ternyata manusia mesti lebih banyak belajar dari alam, baik itu untuk survive, untuk kelangsungan generasinya ataupun untuk berrelasi dengan sesamanya.

Dari ini semua, ternyata alam merupakan tempat kita untuk belajar tentang nilai-nilai kehidupan yang sangat kaya. Sehingga kita pun sebagai manusia perlu bersikap bijaksana terhadap alam. Jangan pernah mengeksploitasi kehidupan mereka, karena mereka pun makhluk hidup. Begitupun manusia, jangan pernah mengeksploitasi sesamanya apalagi mengeksplotasi antar kelompok bahkan saling mendominasi. Untuk kebaikan bersama dan kelangsungan hidup manusia, perempuan dan laki-laki.Suatu perenungan akan relasi perempuan dan laki-laki, bagaimana kita seharusnya hidup berdampingan, tanpa saling meniadakan, mendominasi ataupun menindas. (erf)

Kp.Tengah, 13 Maret 2007 22:40 



{Mei 22, 2007}   Mereka pun Ingin Maju …

Setelah berkali-kali ke komunitas, tetap saja aku terperangah dengan banyaknya kejadian-kejadian yang ada di komunitas. Mungkin jika aku seorang yang bekerja di gedongan kawasan segitiga emas Thamrin-Kuningan-Sudirman, tidak akan pernah atau sering aku menemui kejadian semacam ini.

Seperti biasa ketika aku bersama Jo pergi ke komunitas miskin kota –kali ini di sekitar Kota–, sepanjang perjalanan mendapati pemandangan yang ekstrem dari sebuah wajah kota metropolitan. Perkampungan kumuh di sudut-sudut ataupun di pinggiran kota. Meskipun sering melihat semua ini, tetap saja terpana dan tidak bosan memandangi, memperhatikan perubahan dan kekontrasan yang semakin kentara, antara gedung-gedung yang semakin menjamur dengan lapak-lapak atau rumah tripleks seadanya di sela-sela gedung atau diseberangnya. Apalagi, Jakarta
kan sekarang lagi getolnya membangun fisiknya, plasa, apartemen, gedung perkantoran di mana-mana dan semuanya berlomba dalam menggapai langit. Ckckckckckck…terkadang terpikir, apa ibu pertiwi tidak sakit ya ketika tubuhnya dicocoki paku-paku baja menembus perutnya untuk kemudian dibangun gedung pencakar langit yang angkuh dan sombong dengan sekitarnya?

Perubahan hawa mulai terasa, dari Pasar Rebo yang masih semilir ke Kota yang panas dan berdebu karena dekat pelabuhan. Bau khas daerah pinggir laut mulai menyergap indera penciuman. Mungkin tidak banyak orang suka dengan bau ini. Apalagi ditambah keruwetan lalu lintas karena bertemunya semua jenis kendaraan dari kecil sampai besar di satu jalan. Pusing kepala pun pasti akan langsung dialami bukan? Yach…seperti itulah keadaan Kota dan sekitarnya. Tapi, selalu saja aku tidak bisa menghindar dari keinginan untuk kembali lagi ke sini. Entah hanya untuk refreshing, hunting photo, ke rumah temen dan saudara, atau ya itu tadi ke komunitas. Selalu saja perjumpaan ini membawa satu hal yang berbeda.

Memasuki wilayah Pasar Ikan, melalui gang kecil di antara pabrik-pabrik dan gudang peti kemas, sungguh sesuatu yang mengasyikkan sekaligus mendebarkan. Karena aku selalu suka memasuki kampung-kampung di Jakarta Utara ini, mengenali jalan-jalan kecilnya, memperhatikan kehidupan mereka, sekaligus menangkap irama hidup yang tanpa disadari telah mereka mainkan selama bertahun-tahun di tempat ini, dan meramaikan Jakarta yang katanya kota metropolitan.

Sampai di satu rumah, tidak begitu kecil, namun bisa menampung 15an orang, meski berdesak-desakkan, seperti biasa, obrolan langsung meluncur begitu kami sampai di sana hanya untuk saling berbagi cerita dan informasi terbaru. Dari mulai kejadian criminal yang terjadi di dekat tempat tinggal mereka, kegiatan mereka sehari-hari, perkembangan rumah belajar, dan akhirnya keberadaan posko pengaduan kekerasan terhadap perempuan yang mereka dirikan sebagai seorang paralegal.

Meskipun mereka tergolong masyarakat miskin, namun, semangat belajar dan keinginantahuan yang besar menjadi salah satu kekayaan mereka. Keinginan untuk maju dan menciptakan lingkungan masyarakat yang nyaman dan saling berbagi menjadi tujuan mereka. Sehingga, mereka mendirikan rumah belajar bagi anak-anak mereka sendiri agar bisa membaca dan menulis, maupun bermain. Untuk remaja perempuan dan ibu-ibunya, ada juga rumah belajar yang menjadi satu kegiatan dari Posko Pengaduan Kekerasan Terhadap Perempuan. Mereka belajar mengenai hak-hak mereka sebagai manusia, sebagai perempuan maupun sebagai istri dan ibu. Pun, mereka belajar tentang hukum dan aturan –yang mana hal ini sering mereka hadapi ketika peraturan menjadi tameng bagi pemerintah untuk menyingkirkan mereka.

Jadi, jangan heran ketika ternyata, mereka bisa menciptakan peraturan sendiri di komunitasnya, yang ternyata sangat efektif mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak, contohnya kekerasan dalam rumah tangga.

Sebagai ilustrasi, ketika seorang istri seringkali menerima kekerasan dari suaminya berupa pukulan dan cacian, seorang paralegal, sebut saja Ibu Wati, berinisiatif mengambil tindakan, karena sudah sering mendapatkan keluhan si istri tersebut yang hanya menginginkan suaminya merubah kelakuannya. Akhirnya, Ibu Wati pun mendatangi suami tersebut dan berbicara baik-baik, menyampaikan keluhan dan keinginan dari sang istri. Tidak lupa, Ibu Wati pun mengikutsertakan tetua kampong itu (tindakan ini diambil karena di kampong tersebut belum ada RT/RWnya). Akhirnya,  disepakati bersama dengan disaksikan tetua kampong, jika suami melakukan pemukulan ataupun kekerasan lainnya kepada istri, maka dia akan dilaporkan ke Polisi. Jadi, di kala kepercayaan masyarakat semakin berkurang terhadap aparat penegak hukum dan peraturan-peraturan yang ada, aturan di tingkat komunitas menjadi salah satu solusi alternative bagi penghentian kekerasan di masyarakat, khususnya terhadap perempuan dan anak. Namun, hal ini bukan berarti masyarakat berhak main hakim sendiri. Tidak! Mereka hanya membuat aturan yang mungkin selama ini tidak terjamah oleh hukum dan peraturan yang ada. Kita pun mesti melihat dengan arif, kebijakan local yang ada di masyarakat kita.

Ilustrasi lain adalah ketika dalam suatu keluarga terjadi suatu tindak kekerasan seksual terhadap anak tiri oleh bapak tirinya.

Ketika mendengar cerita ini, aku dan Jo pertamanya terperangah dan tidak habis mengerti, kenapa hal ini masih terjadi dengan sebegitu parahnya. Bahkan, bapak tirinya tersebut melakukannya secara terbuka/terang-terangan di depan istri dan masyarakat sekitar rumahnya. Tindakan bejat sang bapak ini dilakukan terus menerus, dari si anak usia belasan tahun sampai sekarang sudah menghasilkan 6 anak yang masih kecil-kecil. Yang tentu saja menambah beban dari keluarga itu. Anak-anak tersebut bahkan tidak sekolah, hanya di rumah saja membantu orang tua mereka.

Yang lebih tragisnya, ketika hubungan seksual itu dilakukan, si bapak tidak memandang tempat untuk melakukan hajatnya itu. Para tetangga bahkan sudah mengetahui dan muak dengan tindakan keluarga itu, utamanya kelakuan bejat di bapak. Karena, jika sedang terasuki setan nafsu birahi, kandang ayam pun menjadi tempat pelepasan yang nyaman.

Aku sendiri tak habis pikir, kenapa si istri dan anaknya tersebut, bertahan dengan kondisi seperti itu? Adakah factor penyebab mereka menjadi imun dengan kekerasan seperti ini? Terkadang sulit memahami kondisi mereka tersebut. Apakah karena si istri mempunyai ketergantungan secara emosi (psikis) pada si suami? Karena kalau dari segi ekonomi, justru si istri ini yang menghidupi keluarganya selama ini dengan penghasilan dari menyewakan beberapa ‘pintu’ rumahnya.  Pun anaknya, apakah karena dia berada dalam posisi rentan sebagai anak dari si istri dan anak tiri dari si bapak, sehingga takut dengan si bapak? Ataukah si anak mendapatkan ancaman dari si bapak? Semua prasangka tersebut bisa saja menjadi factor penyebab berlangsungnya kekerasan seksual dan psikis di keluarga tersebut sampai sebegitu lamanya.

Diskusi tentang apa yang terjadi di keluarga itu berlangsung sampai hampir tengah malam. Pendekatan personal pada si istri maupun si anak menjadi pilihan kami untuk mencoba menghentikan kekerasan tersebut. Karena secara otomatis keluarga mereka menjadi tidak aktif (ter-alienasi) dari lingkungan komunitas mereka. Yang jelas, mereka perlu teman yang mau memberikan pemahaman untuk mereka dapat menyadari kondisi riil mereka.

Kembali perjalanan jauh mesti ditempuh. Untuk keluarga itu, untuk Ibu Wati, untuk komunitas lainnya dalam menggapai keadilan. Juga untuk aku dan Jo, yang harus kembali menyusuri jalanan Jakarta di malam hari. Meninggalkan bau khas kampong pinggir laut Jakarta. Kesibukan khas pasar Ikan. Dan hiruk pikuknya jalanan di seputar Kota. Untuk memikirkan kembali bagaimana mambantu dan membangun kepedulian terhadap masyarakat miskin yang termiskinkan itu. Yang terkadang membuat kita semua harus berani bersikap seperti mereka berani memilih untuk hidup terbatas di kota Jakarta ini. Jika memang masih ingin hidup, meski mereka tidak ingin yang berlebih. (28092006 by erf)



dan lain-lain